<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Buku/Kineruku Webzine</title>
	<atom:link href="http://zine.rukukineruku.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zine.rukukineruku.com</link>
	<description>Jl. Hegarmanah 52 Bandung, Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Nov 2011 06:45:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Dheg Dheg Plat &#124; Jumat, 30 September 2011 Pk 15.00 WIB</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/dheg-dheg-plat-jumat-30-september-2011-pk-15-00-wib/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/dheg-dheg-plat-jumat-30-september-2011-pk-15-00-wib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 04:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4367</guid>
		<description><![CDATA[Undangan terbuka kepada para penikmat musik untuk ngobrol-ngobrol santai di sore hari, seputar piringan hitam dan apresiasi musik [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=4367">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/09/degdegplat1_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4370" title="degdegplat1_still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/09/degdegplat1_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p><strong>DHEG DHEG PLAT<br />
</strong>Obrolan santai seputar piringan hitam</p>
<p><strong>Jumat, 30 September 2011<br />
</strong>Pukul 15.00 WIB &#8211; selesai<strong> </strong></p>
<p><strong>Kineruku<br />
</strong>Jl. Hegarmanah 52 Bandung<br />
T/F: (022)2039615</p>
<p>Mendengarkan musik melalui piringan hitam, lazim pula disebut plat atau <em>vinyl</em>, selalu menghasilkan pengalaman berbeda. Pengalaman itu yang kemudian membuat apresiasi musik menjadi penting. Ketika masuk era industri musik digital, dimana musik bisa dengan gampang diunduh lalu diperdengarkan melalui piranti digital, sangat menyenangkan mendapati masih ada orang-orang dengan antusiasme tinggi justru mengumpulkan dan menikmati musik sedemikian adiluhungnya melalui medium analog, seperti piringan hitam. Pengalaman-pengalaman itu sesuatu yang tak mudah ditukar.</p>
<p>Dheg Dheg Plat (memelintir judul salah satu album legendaris Koes Plus) mengajak para penikmat musik untuk berbincang-bincang santai tentang pengalaman seputar piringan hitam. Berbagi kisah tentang bagaimana jantung berdegup kencang saat tak sengaja menemukan rilisan penting di lapak kios bekas di pinggir jalan, berdiskusi kenapa album-album tertentu itu esensial, serunya tawar-menawar dan barter dengan sesama kolektor, memaki jarum dan cakram yang tak lagi mau kompromi, atau sekadar begadang semalaman di depan komputer, harap-harap cemas menelusuri satu per satu katalog penjual online. Dan tentu saja pengalaman mendengar (<em>listening experience</em>) itu sendiri, dimana lempengan gelap ukuran tujuh, sepuluh, dan dua belas inchi itu memang menghasilkan kepuasan maksimum dan kenikmatan musikal tersendiri di kuping dan di hati.</p>
<p>Setiap orang tentu punya kisahnya masing-masing. Entah dari siasat berburu dan menemukannya, apa saja album kesayangannya, atau nilai piringan hitam yang kian berharga hari-hari ini. Ini sekaligus bisa menjadi perkenalan awal bagi kawan-kawan yang ingin lebih tahu mengenai piringan hitam. Dari pengalaman-pengalaman personal itu kita bisa belajar banyak. Dan di atas segalanya, adalah soal <em>passion</em> yang besar untuk mengapresiasi musik, yang takkan pernah padam. Itulah yang membuat mendengarkan musik tidak akan pernah sama lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/dheg-dheg-plat-jumat-30-september-2011-pk-15-00-wib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kineruku Screening: 3 Short Films by Add Word Productions</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/3-short-films-by-add-word-productions-sabtu-20-agustus-2011-pk-1930-wib/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/3-short-films-by-add-word-productions-sabtu-20-agustus-2011-pk-1930-wib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 11:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4295</guid>
		<description><![CDATA[Red Umbrella, film terbaik di ajang Asian Short Film Awards @ScreenSingapore 2011 yang dewan jurinya diketuai Oliver Stone [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=4295">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/addword_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4302" title="addword_still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/addword_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></strong></p>
<p><strong>3 Short Film by Add Word Productions</strong></p>
<p>Sabtu, <strong>20 Agustus</strong> 2011<br />
<strong>Pk 19:30</strong> WIB &#8211; selesai</p>
<p><strong>Kineruku</strong><br />
Jl. Hegarmanah 52<br />
Bandung</p>
<p><em>Gratis.</em><br />
Pemutaran akan dihadiri oleh Edward Gunawan dan Andri Cung<br />
(Sutradara dan Produser <em>Payung Merah</em>)</p>
<p>Untuk info lebih lanjut kunjungi:<a href="http://addwordproductions.com" target="_blank"><br />
addwordproductions.com</a></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
Di bulan Ramadhan ini, Kineruku mendapatkan kesempatan memutar film-film pendek karya Add Word Productions. Salah satunya adalah <em>Payung Merah</em> (<em>Red Umbrella</em>), sebuah film pendek bergenre <em>thriller</em> supranatural yang pada Juni 2011 lalu dinobatkan sebagai film terbaik dalam ajang Asian Short Film Awards @ScreenSingapore 2011, dengan dewan juri yang diketuai oleh Oliver Stone.</p>
<p>Selain <em>Payung Merah</em>, akan diputar pula dua film pendek terbaru produksi Add Word Productions yaitu <em>Broken Vase</em> dan <em>Borrowed Time</em>, keduanya bergenre drama dan dibintangi oleh Atiqah Hasiholan.</p>
<p>Add Word Productions didirikan oleh seniman/pengusaha Edward Gunawan di Los Angeles, AS. Sebelum rumah produksi tersebut berdiri, Edward telah memproduksi sepuluh film pendek, termasuk <em>Still</em> karya Lucky Kuswandi yang pernah diputar di film festival bergengsi Clermont-Ferrand International Film Festival, juga <em>Laundromat</em> (karya Edward Gunawan sebagai sutradara) yang memenangkan banyak penghargaan.</p>
<p>Sebagai produser, Edward juga menggarap drama teater, salah satunya adalah <em>Letters to a Student Revolutionary</em> yang menuai banyak pujian kritikus Amerika Serikat. Selain itu Edward juga memproduksi acara-acara berskala besar seperti <em>East West Players’ 42nd Anniversary Visionary Award</em> dan <em>One Night Only: Divas vs. Tenors Concert</em>. <strong></strong></p>
<p><span style="color: #ffffff;"><strong>.</strong></span><strong><br />
SINOPSIS FILM</strong></p>
<p><strong><em><br />
Payung Merah (Red Umbrella)</em></strong><br />
(2010, 9:30 minutes, HD)</p>
<p><a href="../wp-content/uploads/2011/08/Poster_RedUmbrella.jpg"><img title="Poster_RedUmbrella" src="../wp-content/uploads/2011/08/Poster_RedUmbrella-202x300.jpg" alt="" width="198" height="293" /></a></p>
<p>Director: Andri Cung &amp; Edward Gunawan<br />
Writer: Edward Gunawan<br />
Producers: Andri Cung, Edward Gunawan, Suryani Liauw<br />
Cast: Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Zubir Mustaqim<br />
<span style="text-decoration: underline;"><em><br />
</em></span>WINNER &#8211; 2011 Asian Short Film Awards @ Screen Singapore<br />
WORLD PREMIERE &#8211; 35th Hong Kong International Film Festival</p>
<p>Film thriller supranatural mencekam tentang seorang supir taksi yang belajar untuk sungguh-sungguh menghargai arti keluarga setelah mengantarkan seorang penumpang cantik nan misterius.</p>
<p>Malam begitu larut. Supir taksi bernama Reza (Rio Dewanto) lebih ingin berada di rumah, namun ia harus menyusuri jalanan mencari penumpang. Naiklah seorang penumpang cantik dan misterius (Atiqah Hasiholan). Ketika taksi hampir sampai di rumah yang dituju, perempuan itu menghilang. Dari pembicaraan dengan ayah si perempuan (Zabir Mustaqim), Reza kemudian memahami masa lalu kelam penumpangnya yang misterius.</p>
<p><em>A supernatural thriller about a taxi driver who learns about true appreciation of his family after picking up a beautiful yet mysterious passenger.</em></p>
<p><em>Taxi driver Reza (Rio Dewanto) would rather stay at home on this late night but he is out on the streets looking for a fare. He picks up a beautiful and mysterious passenger (Atiqah Hasiholan) and just as they are about to reach her house, she disappears. He soon discovers her tragic past from her Father (Zubir Mustaqim) and learns to appreciate his loved ones.</em></p>
<p><em><strong><br />
Borrowed Time</strong></em><br />
(2011, 8:00 minutes, HD)</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_BorrowedTime.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4298" title="Poster_BorrowedTime" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_BorrowedTime-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p>Director: Lucky Kuswandi &amp; Edward Gunawan<br />
Writer, Producer: Edward Gunawan<br />
Cast: Atiqah Hasiholan, Edward Gunawan, Andrew Trigg, Marissa Trigg</p>
<p>Drama perselingkuhan suami dengan suster yang merawat sang istri. Semua hanya bisa menunggu waktu.</p>
<p>Angela (Atiqah Hasiholan) adalah seorang suster yang bekerja di rumah Caesar (Edward Gunawan) untuk merawat istrinya, Paula (Marissa Trigg) yang sedang sakit parah. Suatu hari, Paula mengetahui perselingkuhan mereka dan kembali terserang stroke. Selagi Caesar menunggui Paula membaik, Angela harus mengambil keputusannya sendiri untuk meninggalkan Caesar.</p>
<p><em>Husband cheats on dying Wife with their live-in Nurse. We all live on borrowed time.</em></p>
<p><em>Angela (Atiqah Hasiholan) is a live-in nurse, hired by Caesar (Edward Gunawan) to care for his dying wife Paula (Marissa Trigg). One day, Paula discovers their affair and has another stroke. As Caesar waits for Paula&#8217;s condition to improve, Angela must decide whether to continue the relationship with an expiration date.</em></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
<em><strong>Broken Vase</strong></em><br />
(2010, 15:30 minutes, HD)</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_BrokenVase.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4297" title="SONY DSC" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Poster_BrokenVase-201x300.jpg" alt="" width="198" height="294" /></a></p>
<p>Writer, Director: Edward Gunawan<br />
Producers: Edward Gunawan, Suryani Liauw<br />
Cast: Atiqah Hasiholan and Marissa Trigg</p>
<p>Drama komedi tentang seorang perempuan muda yang harus berhadapan dengan rahasia masa lalu tunangannya serta mengakhiri segala keraguannya saat bertemu dengan mantan kekasih tunangannya.</p>
<p>Catherine (Marissa Trigg) mengobral barang di garasi sebelum pindah ke Hawaii bersama tunangannya, Paul. Datanglah Susan (Atiqah Hasiholan) yang terlihat sebagai pelanggan biasa, namun ternyata adalah mantan kekasih Paul. Susan datang untuk mengambil barang-barangnya. Sambil berusaha mengenali Susan lebih jauh, Catherine harus menghadapi rahasia masa lalu tunangannya dan mengambil sikap atas segala keraguannya nya terhadap sang tunangan.</p>
<p><em>A comedy-drama about a young woman who must confront her fiance&#8217;s secret past and resolve her misgivings when she meets his ex.</em></p>
<p><em>Catherine (Marissa Trigg) is having a garage sale before she moves to Hawaii with her fiance Paul. Initially assumed to be just another customer, Susan (Atiqah Hasiholan) turns out to be the ex of Catherine&#8217;s fiance, who has come to the house to pick up her belongings. As Catherine gets acquainted with Susan, she must confront her fiance&#8217;s secret past and resolve her misgivings about their relationship.</em></p>
<p>WORLD PREMIERE: Los Angeles Asian Pacific Film Festival 2011 (CA &#8211; USA)<br />
22nd Honolulu Rainbow Film Festival (HI &#8211; USA)</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/3-short-films-by-add-word-productions-sabtu-20-agustus-2011-pk-1930-wib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#960; (Pi) &#124; Darren Aronofsky, 1998</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/pi-darren-aronofsky-1998/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/pi-darren-aronofsky-1998/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 11:12:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4287</guid>
		<description><![CDATA[Menonton film ini ibarat masuk ke dalam keriuhan isi kepala Max Cohen: demikian cepat, demikian gelisah, tak berdaya dan sendirian. [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=4287">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Pi_Still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4289" title="Pi_Still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/Pi_Still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p>Apakah evolusi alam semesta mengarah pada keteraturan (<em>order</em>), atau justru sebaliknya, ketidakteraturan (<em>chaos)</em>? Perkara dua pertanyaan tersebut selalu menjadi tegangan di antara para peneliti. Dalam film &#960;<em>(Pi)</em>, tegangan itu juga dialami peneliti matematika yang mengidap paranoid, Maximillian Cohen (diperankan sangat cemerlang oleh Sean Gullete). Saking paranoidnya dengan angka-angka dan perhitungan, Max selalu dapat menghitung cepat tanpa bantuan alat. Berapa 322 dikali 491? Langsung: 158.102! Berapa 73 dibagi 22? Segera: 3.181818181&#8230;! Dan segala macam perhitungan itu mampu ia bereskan hanya dalam waktu.. 3 detik! Jadilah kemampuan itu semacam kutukan baginya. Apapun selalu dipikirkannya&#8212;dihitung, dicatat, dicari pola-pola di balik semuanya: termasuk proporsi organ manusia, rimbunnya dedaunan, rumah keong, hingga lekuk-lekuk asap rokok. Kebiasaan ganjilnya itu muncul karena ia percaya satu hal: bahwa di belakang semua fenomena alam semesta ini, pastilah bersembunyi pola yang mengaturnya, pola yang bisa dicari melalui angka.</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan yang menyesaki benaknya makin berpacu ketika Max mendengar cerita dari Sol Robeson, seorang pria tua pensiunan peneliti matematika sekaligus mentornya, tentang misteri di balik rumus Pi (alias &#960;, 22/7 atau 3,14) dalam lingkaran. Rasa penasaran Max berujung pada pertanyaan praktis: jika alam semesta memiliki pola, bisa jadi pasar saham pun memiliki pola. Mungkin berpola rumus Pythagoras, Archimedes, deret Fibonacci, <em>golden ratio</em>, atau malah pola temuannya sendiri. Dalam perjalanannya, Max mulai menyadari betapa pola-pola itu bisa berarti banyak bagi beberapa pihak. Kaum Hasidim alias penganut Yahudi Ortodoks butuh menemukan sebutan bagi Tuhan (yakni menggunakan Torah, urutan angka yang dipercaya sebagai kode dari-Nya), sementara para agen berdasi dari sebuah firma lebih mengincarnya demi kepentingan ekonomi. Sol Robeson sendiri malah menyarankan sebaliknya: lupakan angka-angka tersebut! Tak ada kebenaran dalam perhitungan. Semua hanyalah kekosongan, jadi untuk apa dihitung? Cukup rasakan saja, demikian menurut Sol.</p>
<p>Ketika Max gundah mencerna apa yang sebenarnya terjadi, perempuan di sebelah kamarnya selalu ingin menolong. Berkebalikan dengannya, yang selalu berkutat di depan komputer tanpa pernah ingin bersosialisasi, perempuan itu justru sangat menikmati hidupnya dengan kenikmatan indrawi yang berasal dari hubungan seks. Keadaan semakin rumit dan kacau. Tak hanya diincar dan diburu banyak pihak, ia pun harus dikejar-kejar oleh pikirannya sendiri. Untuk menghindari kejaran agen berdasi dan kaum Hasidim, Max bisa terus berlari. Namun demi menghindari pikiran-pikiran jenius dan paranoidnya, Max justru merasa harus menghancurkan otaknya sendiri. Dan semua digambarkan dengan pameran visual yang resah dan <em>editing</em> yang memukau.</p>
<p>Mungkin sudah menjadi suratan takdir bagi seorang penemu, di mana gagasan yang muncul darinya seringkali menghadapi benturan; sebagaimana sejarah telah mencatat pemikiran-pemikiran Leonardo da Vinci dan Galileo yang ditentang pihak gereja. Sementara di film ini, gagasan brilian nan absurd Max Cohen mendapati benturan dari dirinya sendiri, juga pihak-pihak yang menginginkan isi kepalanya. Benturan-benturan inilah yang pada akhirnya menguji mana yang lebih kuat: ketajaman gagasan, atau keteguhan hati.</p>
<p>Menonton film <em>Pi</em> ibarat masuk ke dalam keriuhan isi kepala Max Cohen: demikian cepat, demikian gelisah, tak berdaya dan sendirian. Didukung visual hitam-putih, musik <em>psychedelic</em>, alur cepat dan pergantian <em>scene</em> yang tiba-tiba, <em>editing</em> yang menyentak-nyentak, adegan-adegan metaforis di film ini menjadi semakin mencekam. Bisa jadi sutradara Darrren Aronofsky memang ingin menghadirkan tokoh-tokoh metaforis sebagai representasi cara pandang dari masa-masa tertentu. Max Cohen mewakili sudut pandang cartesian, seperti pada masa renaisans yang selalu percaya pada apa yang bisa dipikir secara logis. Kaum Hasidim adalah gambaran sudut pandang relijius, seperti masa-masa awal Masehi yang meyakini satu kebenaran wahyu. Para agen berdasi adalah perwakilan fungsionalisme, seperti pada masa modern yang percaya aspek-aspek kegunaan, khususnya komoditas. Sementara sosok tua seperti Sol menunjukkan falsafah sederhana seperti era primodial, yang percaya pada kebijaksaan pragmatis. Sedangkan perempuan di sebelah kamar lebih pada perayaan kenikmatan sebagai pemenuhan hasrat, seperti pada masa postmodern atau justru pada masa prasejarah.</p>
<p>Dengan keragaman sudut pandang tersebut, pikiran penonton dibetot pada berbagai kemungkinan cara pandang. Bertanya-tanya manakah yang lebih benar bisa jadi melintasi benak setiap penonton yang mau berpikir, meski semua itu tak sepenuhnya bisa ditemukan dan dibenarkan. Pertanyaan sederhana yang selalu muncul pada setiap era adalah: apakah kebenaran dapat dicari, atau hanya dapat didekati saja? Atau bahkan lebih mendasar lagi: apakah memang harus dicari?</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Andreas Anex</strong>]</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 0.8em;"><strong>Kineruku</strong> juga mengoleksi film-film karya <strong>Darren Aronofsky</strong> lainnya, yaitu: <em>Black Swan</em> / <em>Requiem For A Dream</em> / <em>The Wrestler</em> / <em>The Fountain</em>. Selengkapnya klik di: <a href="http://library.rukukineruku.com/" target="_blank"><strong>library.rukukineruku.com</strong></a></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/pi-darren-aronofsky-1998/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panggil Aku Kartini Saja &#124; Pramoedya Ananta Toer, 1961</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/panggil-aku-kartini-saja-pramoedya-ananta-toer-1961/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/panggil-aku-kartini-saja-pramoedya-ananta-toer-1961/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 11:12:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4306</guid>
		<description><![CDATA[Pram berani berpendapat Kartini bukan sekadar pejuang emansipasi wanita, melainkan juga pemikir modern Indonesia yang pertama! [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=4306">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/panggilakukartini_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4308" title="panggilakukartini_still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/08/panggilakukartini_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p>Jika menyebut nama &#8220;Kartini&#8221;, maka langsung terbersit di benak kita: seorang wanita berparas ayu, memakai sanggul, berkebaya putih, berkulit kuning langsat. Jika ditanya &#8220;siapa itu Kartini?&#8221;, pasti sebagian besar jawaban hanya berkisar antara pendekar emansipasi wanita, pejuang wanita yang menolak diperlakukan secara diskriminasi, dan hal-hal serupa lainnya. Tapi benarkah demikian? Benarkah Kartini yang bergelar Raden Ajeng itu hanya seorang pejuang emansipasi wanita? Apa saja sebenarnya yang dilakukan seorang Kartini? Siapa dia sesungguhnya?</p>
<p>Buku &#8220;Panggil Aku Kartini Saja&#8221; ini berusaha menjawabnya. Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis novel berlatar belakang sejarah, seolah menegaskan dirinya tetap konsisten mengangkat sejarah Indonesia, terutama zaman sebelum pergerakan nasional, seperti yang dilakukannya dengan menulis tetralogi pulau Buru yang terkenal itu. Dibuka dengan kalimat pendek yang menghentak, &#8220;1830, Diponegoro jatuh!&#8221;, buku ini mulai dengan memberi ancang-ancang kesejarahan, tentang apa yang terjadi di Hindia Belanda sebelum jabang bayi bernama Kartini lahir pada 1879. Setelah itu, secara runut Pram menguraikan perihal kelahiran Kartini, seperti apa masa kecilnya, bagaimana dunia pribumi dan Barat dalam pandangan Kartini, makna seni dan sastra baginya, dan banyak hal lainnya.</p>
<p>Ini memang bukan murni buku biografi semata. Di dalamnya ada banyak interpretasi Pram tentang Kartini beserta kondisi sosial budaya yang menyertainya. Karena itu tak berlebihan rasanya jika dikatakan buku ini lebih merupakan pembahasan Pram mengenai sosok Kartini dan pemikiran-pemikirannya. Bahkan Pram berani berpendapat bahwa Kartini bukan sekadar pejuang emansipasi wanita, melainkan juga pemikir modern Indonesia yang pertama! Menurut Pram, tanpa adanya sosok Kartini, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin terjadi. Kartini menggambarkan masyarakat pribumi di masanya sebagai rimba-belantara yang gelap gulita. Obor-obor yang diharapkannya jadi penerangan dalam kegelapan itu, tanpa malu-malu diakuinya adalah intelektualitas Eropa, yang belum juga dimiliki oleh kaum pribumi. &#8220;<em>Dengan intelektualitas Eropa itulah, rimba-belantara yang gelap-gulita itu akan menjadi padang luas yang terang-benderang bagi setiap orang</em>.&#8221; (hal. 53). Dari situlah Kartini ingin membantu memajukan negeri dan masyarakatnya sendiri, seperti pengamatan Pram, &#8220;<em>&#8230;di sanalah (Eropa) Kartini akan dapatkan segala alat yang diharapkannya dapat dikuasainya buat negeri dan rakyatnya kelak.</em>&#8221; (hal. 154)</p>
<p>Pada bab terakhir, Pram mencoba menguraikan kondisi kejiwaan Kartini&#8212;sesuatu yang jarang diketahui publik. Ada sesuatu dari kisah hidup Kartini yang menarik perhatian Pram: hubungan Kartini dengan ayahnya, bupati Jepara, R.M. Adipati Ario Sosroningrat. Pram menganggap, meski sangat menyayangi ayahnya, sebenarnya Kartini keberatan (meski tak kuasa menolak) berbagai perlakuan feodal sebagaimana layaknya yang terjadi di zaman itu. Jadi, hubungan Kartini dengan ayahnya bisa dibilang hubungan &#8220;benci tapi rindu.&#8221; Sebagai anak bupati, Kartini mendapat perlakuan sebagaimana layaknya anak golongan bangsawan lainnya, dan ia tak menyukai perlakuan istimewa itu. Ini tercermin jelas di surat-surat Kartini yang ditampilkan Pram. Secara gamblang Pram menyebutkan bahwa Kartini menolak sistem feodalisme Jawa yang berkembang pada masa itu. Bentuk penolakan itu tampak jelas dari keinginannya untuk dipanggil tanpa gelar bangsawan atau panggilan kebesaran, seperti termuat di salah satu suratnya ke Estelle Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 yang berbunyi: &#8220;<em>Panggil aku Kartini saja—itulah namaku.</em>&#8221; (hal. 231)</p>
<p>Sah-sah saja sebetulnya Pram banyak memasukkan penafsirannya sendiri atas surat-surat Kartini, yang memang memperkaya buku ini. Namun ini bukannya tanpa risiko. Dengan adanya interpretasi tersebut, buku ini menjadi lebih rumit bagi pembaca yang terbiasa dengan biografi &#8216;mentah&#8217;. Pembaca mungkin sulit membedakan mana yang benar-benar fakta Kartini, dan mana yang interpretasi Pram. Karena suatu interpretasi bisa saja subjektif, atau bahkan dilebih-lebihkan. Bagaimanapun juga, Pram telah berhasil membuat orang awam lebih &#8216;melek&#8217; terhadap perjuangan-perjuangan Kartini, yang apa boleh buat, kini diingat hanya setiap tanggal 21 April saja&#8211;itupun dengan lomba memasak, berdandan memakai kebaya, merangkai bunga, dan lomba-lomba PKK lainnya. Melalui buku ini Pram berusaha mengajak pembaca untuk memahami ulang sejarah bangsanya sendiri. Karena menurut Pram, &#8220;<em>Keengganan kita berguru pada sejarah telah membuat kita terlempar pada keranjang sampah peradaban.</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Iman Purnama</strong>]</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Panggil Aku Kartini Saja</em><br />
</strong>Pramoedya Ananta Toer, 1962<br />
(cetak ulang oleh Hasta Mitra, 2000)<br />
262 hal. + xxvi</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Kineruku</strong> juga mengoleksi buku-buku karya <strong>Pramoedya Ananta Toer</strong>, di antaranya: Perahu Yang Setia Dalam Badai / Hoakiau Di Indonesia / Saya Terbakar Amarah Sendirian!/ Cerita Dari Blora / Gadis Pantai / Larasati / Mereka Yang Dilumpuhkan / Panggil Aku Kartini Saja I &amp; II / The Mute’s Soliloquy / Percikan Revolusi Subuh / Calon Arang / Bumi Manusia / Anak Semua Bangsa / Arok Dedes / Mangir / Cerita Dari Jakarta / Cerita Dari Digul / Tjerita Dari Blora / Sang Pemula / Hoa Kiau Di Indonesia / Jejak Langkah / Bukan Pasar Malam / Sekali Peristiwa Di Banten Selatan / Menggelinding 1 / Tempo Doeloe / Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer / Midah Si Manis Bergigi Emas / Perburuan / Rumah Kaca / Jalan Raya Pos, Jalan Daendels / Dari Dekat Sekali / Mereka Yang Dilumpuhkan / Keluarga Gerilya/ Arus Balik. Selengkapnya klik di: <a href="http://library.rukukineruku.com"><strong>library.rukukineruku.com</strong></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/panggil-aku-kartini-saja-pramoedya-ananta-toer-1961/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Species of Spaces and Other Pieces &#124; Georges Perec, 1974</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/species-of-spaces-and-other-pieces-georges-perec-1974/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/species-of-spaces-and-other-pieces-georges-perec-1974/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 05:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4206</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang dikisahkan Perec selalu membangkitkan imajinasi-imajinasi ganjil tentang hal-hal biasa yang sering luput dari perhatian orang [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=4206">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/speciesandotherspaces_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4213" title="speciesandotherspaces_still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/speciesandotherspaces_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p><em><strong>Species of Spaces and Other Pieces</strong></em> | Georges Perec, 1974</p>
<p>Seorang arsitek tak akan pernah mendapatkan imajinasi ruang yang utuh bila belum dapat menyampaikannya, karena sebuah narasi adalah juga ruang antara pencerita dan pendengar. Buku <em>Species of Spaces and Other Pieces</em> bercerita tentang pengalaman meruang dari seorang Georges Perec. Jika seorang arsitek menciptakan ruang secara fisik terindera, maka Perec lebih memilih menghayatinya secara fenomenologis lalu menceritakannya dengan penuh imajinasi. Penghayatan fenomenologis membantunya mendapati kenyataan lain yang bersembunyi di balik fenomena-fenomena ruang di sekitar manusia. Penghayatan ruang dimulai dari konteks yang paling sempit sampai yang terluas. Dari yang paling sempit ia bercerita tentang kertas, kata, kalimat, paragraf. Setelah itu ia menceritakan ruang yang paling intim yaitu kasur, kamar tidur, apartment. Perluasan konteks ruang terus berlanjut hingga di bagian akhir dia berbicara tentang kota, negara, alam semesta.</p>
<p>Perec memang terkenal dengan eksplorasi penghayatan dan cara berceritanya. Kekhasannya itu muncul beriringan dengan statusnya sebagai anggota utama sebuah komunitas pencinta sastra dan matematika bernama OuLiPo (<em>Ouvroir de Litterature Potentielle</em>, alias workshop potensial literatur). Komunitas ini selalu berusaha mencari alternatif-alternatif hubungan antara cara berpikir matematik  (dengan segala perlambangan, rumusan, dan berbagai kemungkinannya) dengan cara berpikir penulisan yang naratif–linier. Eksplorasi Perec dibuktikannya melalui karya yang memecahkan rekor palindrome terpanjang di masanya, sebuah susunan kata yang bila dibaca dari belakang maupun dari depan akan terbaca sama dengan makna sama (seperti: &#8216;kasur ini rusak&#8217;, &#8216;Ira hamil lima hari&#8217;), yakni lebih dari 5000 karakter! Sementara di karyanya yang lain, yakni novel <em>A Void</em> (atau <em>La Disparition</em>, judul aslinya dalam bahasa Prancis), Perec berhasil menciptakan 300 halaman cerita tanpa menggunakan huruf vokal &#8216;e&#8217; sama sekali. Metode ini disebut lipogram, yaitu sebuah cerita yang diciptakan dengan beberapa kata atau alfabet yang tidak digunakan sama sekali. Bisa dibayangkan betapa beraninya Perec membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam cara bercerita.</p>
<p>Di buku <em>Species of Spaces and Other Pieces</em>, eksplorasi lebih terasa pada bagaimana Perec memandang ruang. Misalnya, tempat tidur. Di mata Perec, tempat tidur itu bagaikan kertas: memiliki dua sisi, atas dan bawah. Bagian atas ranjang adalah tempat biasa bagi seseorang untuk bisa tidur dengan nyaman, sementara bagian bawah ranjang berfungsi nyaman sebagai tempat berlindung. Perec juga menyuguhkan penghayatan-penghayatan lain dalam bentuk esai otobiografis yang khas. Semuanya disajikan dengan nada datar yang justru potensial mengundang senyum karena selera humornya yang aneh, di sela-sela keseriusannya memandang hal-hal. Ada pengalaman ketakutan saat ingin terjun payung (hlm. 114), &#8220;<em>Anyway, it&#8217;s terrible. You can&#8217;t carry it, can&#8217;t walk with it. You&#8217;re forced to put up with it. Your parachute is inspected</em>.&#8221; Ada pengalamannya dianalisis oleh J.B. Pontalis, seorang psikoanalis terkemuka Prancis (hlm. 161). Ada pula kolaborasi lucu dengan komikus Marcel Gotlib (hlm. 265). Juga cerita pendeknya di penghujung buku, berjudul <em>The Winter Journey</em>.</p>
<p>Apa yang dikisahkan Perec selalu membangkitkan imajinasi-imajinasi ganjil tentang hal-hal biasa yang sering luput dari perhatian orang. Seperti dalam <em>I Was Born</em> (hlm. 99), kalimat pertamanya adalah &#8220;<em>I was born on 7.3.36. How many dozenz, how many hundreds of times have I written that sentence? I have no idea.</em>&#8221; Bayangkan, siapa di antara kita yang pernah menghitungnya, atau lebih mendasar lagi, <em>memikirkan</em> hal itu, karena saking sering dan terbiasanya kita membubuhkannya di formulir-formulir? Perec meneruskan kesadaran atas angka-angka tersebut dengan hal-hal yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya: tentang tanggal lahir kita, atau bahkan lebih jauh lagi, tentang kelahiran itu sendiri.</p>
<p>Dalam ranah buku-buku yang membahas perihal keruangan, hingga detik ini belum ada penulis yang mampu bercerita seimajinatif Perec. Pakar teori arsitektur Cornelis Van den Ven, di bukunya yang berjudul <em>Space in Architecture</em> (1980) hanya menceritakan sejarah pengertian ruang&#8212;terpisah dengan manusia sebagai pembentuk ruang itu sendiri. Sementara filsuf Paul Virilio, di buku <em>Lost Dimension</em> (1991), bercerita soal fenomena berubahnya pengalaman meruang karena pengaruh teknologi&#8212;kaya fakta dan hipotesis, namun kering imajinasi. Yang paling mendekati mungkin hanya buku <em>The Poetic of Space</em> (1958) karya Gaston Bachelard. Visi Perec bisa dibilang sejalan dengan apa yang ditawarkan Bachelard, yaitu bagaimana manusia mengalami tempat-tempat yang intim baginya dalam ruang lamunan.</p>
<p>Melalui <em>Species of Spaces and Other Pieces</em>, pembaca diajak untuk mengalami kembali dan menghayati ulang ruang-ruang di sekitarnya. Membaca karya Perec membuat kita tersadar akan ruang-ruang itu. Termasuk ruang antara pikiran dan tubuh sendiri.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Andreas Anex</strong>]</p>
<p><span style="font-size: small;">Kineruku juga mengkoleksi beberapa karya Georges Perec lainnya: <em>Things (A Stories Of The Sixties) / Species Of Spaces And Other Pieces / Life A User’s Manual / A Void / The Art of Asking Your Boss for a Raise</em>.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/species-of-spaces-and-other-pieces-georges-perec-1974/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Just Arrived! June &#8211; July 2011.</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/just-arrived-june-july-2011/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/just-arrived-june-july-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 04:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Just Arrived!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4181</guid>
		<description><![CDATA[Things, A Story Of The Sixties with A Man Asleep &#124; Merupa Buku &#124; Agama Saya adalah Jurnalisme &#124; The Double &#124; Clean New World &#124; Roman Polanski: Wanted And Desired &#124; Mister Lonely &#124; What Time Is It There? &#124; Dont Look Back &#124; Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=4181">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color: #993300;"><strong>BOOKS.</strong></span></h2>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_things.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4189" title="thumb_things" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_things.jpg" alt="" width="160" height="241" /></a><strong><em><br />
</em>Things, A Story Of The Sixties with A Man Asleep</strong> (George Perec, 2011)</p>
<p>Buku wajib wajib bagi siapa pun yang tertarik pada evolusi sang ahli sastra modern. Ada dua cerita dalam buku ini. Pertama, dalam <em>Things, A Story Of The Sixties</em>, Perec bercerita tentang pasangan muda yang ingin menikmati hidupnya, namun satu-satunya jalan yang mereka tahu untuk dapat mencapainya adalah dengan memiliki sesuatu (<em>things)</em>. Kedua, dalam <em>A Man Sleep</em>, seorang pelajar muda memulai pencarian apatis yang meletihkan dan menggelisahkan, diikuti pengalaman menyangkal eksistensinya tanpa pemakluman yang logis. <em>Things, A story Of The Sixties</em> adalah novel Perec pertama (1978) yang memenangi penghargaan The <em>Prix Renaudot</em> dan menjadi semacam buku sekte bagi generasinya. Berbagai macam gaya menulis ia tuangkan dalam novel ini, mulai dari <em>acrostic, anagram, autobiography, criticism, crosswords, description of dreams, film scripts, heterograms, lipograms, memories, palindromes, plays, poetry, radio plays, recipes, riddles, </em>cerita pendek dan panjang, catatan perjalanan, <em>univocalics, </em> dan tentu saja, novel.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_merupabuku.png"><img class="alignnone size-medium wp-image-4188" title="thumb_merupabuku" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_merupabuku-216x300.png" alt="" width="160" height="222" /></a><strong><br />
Merupa Buku </strong>(Koskow, 2009)</p>
<p>Sampul sebuah buku tak  hanya berperan sebagai cerminan konten yang diselimutinya, tapi juga  realitas sosial-budaya yang mengepungnya. Buku ini bercerita tentang  seluk beluk munculnya sampul buku-buku di Indonesia. Dari sudut pandang  sastra realis, sampul-sampul buku tersebut berpijak dari realitas sebagai  referensi penciptaan dan pemaknaan. Maka tak salah bila muncul sebuah  ungkapan bahwa wajah buku adalah wajah intelektual kita. Buku ini  termasuk buku langka di Indonesia. Di saat yang lain menggali  konten ‘layak jual’ dengan tema-tema politik, isu-isu postmodern,  motivasi dan potensi manusia, seni, atau berjilid-jilid buku <em>How to</em> untuk mengoperasikan suatu perangkat lunak, buku ini malah membicarakan  konteks (dalam hal ini adalah sampul buku) sebagai konten utamanya.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/a9ama.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4183" title="a9ama" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/a9ama.jpg" alt="" width="160" height="235" /></a><strong><br />
A9ama Saya adalah Jurnalisme </strong>( Andreas Harsono, 2010)</p>
<p>Ketika  sifat dari jurnalisme berubah, maka perubahan itu mengindikasikan  perubahan masanya yang lebih luas lagi. Buku ini merupakan antologi yang  mengumpulkan bermacam diskusi soal jurnalisme sejak jatuhnya Soeharto di tahun 1998. Pada saat ini,  batas jurnalisme tumpang tindih dengan  propaganda, hiburan, iklan, dan seni. Bias para wartawan, entah dengan  negara, kebangsaan, agama maupun etnik, jadi biasa. Berangkat dari  sejak Indonesia mengganti Hindia Belanda, media makin terpusat ke Jawa.  Rezim Soekarno menutup semua media yang dianggap berpihak Belanda, dan nama  baru pun diciptakan: <em>pers perjuangan. </em>Sementara Soeharto memilih istilahnya sendiri: <em>pers pembangunan. </em>Wujudnya berupa konglomerat media.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_The-Double.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4187" title="thumb_The Double" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_The-Double-195x300.jpg" alt="" width="160" height="223" /></a><strong><br />
The Double</strong> (José Saramago, 2004)</p>
<p>Kengerian datang karena dunia nyata dan dunia sinema membias. Lalu kenyataan mana yang asli? Buku ini bercerita tentang seorang guru sejarah yang meminjam film berdasarkan rekomendasi temannya. Sebenarnya ia bukan penggemar berat film. Ia tertidur saat menonton film dan tersadar karena banyak hal yang mengganggu di bawah sadarnya. Dia lalu menyaksikan film itu kembali dan menemukan sesuatu yang menyeramkan. Aktor yang berperan dalam film itu kembar dengan dirinya, identik dalam setiap hal kecuali pada kumis, yang tak pernah lagi ia tumbuhkan selama 5 tahun. Siapa yang sebenarnya asli di antara keduanya? Sang penonton atau aktor? Novel baru Saramago ini mengeksplorasi kodrat dari individualitas, menguji ketakutan dan ketidakamanan yang muncul pada kesendirian kita  ketika berada dalam ancaman, ketika bahkan seorang istri tak dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Mengingatkan pada karya Kafka dan Gogol, rasa mencekam di buku ini ditakdirkan menjadi karya klasik dari abad 21.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_cleannewworld.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4190" title="thumb_cleannewworld" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_cleannewworld.jpg" alt="" width="160" height="201" /></a><strong><em><br />
</em>Clean New World</strong><strong> </strong>(Maud Lavin, 2001)</p>
<p>Desain grafis dapat menjadi salah satu lubang kunci untuk mengintip ruang kebudayaan manusia. Buku ini adalah ulasan kritis tentang hubungan desain grafis dengan budaya. Dimulai sejak berkembangnya zaman modern, setelah perang dunia kedua hingga hari ini, juga lebih jauh lagi pada masa maraknya penggunaan internet. Lavin menyatakan bahwa budaya kita didominasi oleh visual dan dipertegas oleh desain. Dari konteks kritisisme budaya visual yang lebih luas, ia memunculkan pertanyaan menantang tentang siapa yang sebenarnya memiliki andil besar dalam budaya tersebut, dan pengaruh tersirat apa yang dapat dilihat pada produk-produk para desainer. Dari pertanyaannya ia menunjukkan bagaimana desain dapat memasuki persoalan besar tentang kekuasaan, demokrasi dan komunikasi. Buku ini dapat memperlihatkan bagaimana desain dapat menjadi komponen krusial dari semua sejarah budaya abad 20.</p>
<h2><span style="color: #ffffff;">.</span></h2>
<h2><span style="color: #993300;"><strong>FILMS.</strong><br />
</span></h2>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_WANTEDAndDesired325.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4192" title="thumb_WANTEDAndDesired325" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_WANTEDAndDesired325-202x300.jpg" alt="" width="160" height="238" /></a><strong><br />
Roman Polanski: Wanted And Desired</strong><br />
(Marina Zenovich, 2008, 99 menit, DVD, English)</p>
<p>1977 dan 1978 adalah dua tahun neraka bagi sutradara Roman Polanski. Ia didakwa bersalah melakukan pelecehan seksual terhadap anak perempuan berumur 13 tahun bernama Samantha Geimer, saat sedang menginap di rumah Jack Nicholson. Banyak orang menganggap perkara kontroversial yang menimpa Polanski tersebut terlalu didramatisir oleh pihak pemerintah AS. Setelah membayar uang tebusan sebesar 2500 USD, pada tahun 1978 Polanski pergi meninggalkan Amerika Serikat menuju Eropa. Sejak saat itulah sebuah ancaman menghantuinya: kapan pun ia menginjakkan kakinya di Amerika Serikat, ia akan masuk bui. Melalui film dokumenter ini, Marina Zenovich menapaki kembali kasus Polanski lewat wawancara-wawancara ekstensif dengan Samantha Geimer, pengacara Douglas Dalton, dan jaksa-jaksa pemerintah AS. Agaknya, Marina mempertanyakan keadilan hukum AS dan terutama integritas hakim Laurence J. Rittenband&#8212;yang diduga memiliki hasrat pribadi untuk menjatuhkan Polanski.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_misterlonely.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4184" title="thumb_misterlonely" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_misterlonely-197x300.jpg" alt="" width="160" height="244" /></a><strong><br />
Mister Lonely</strong><br />
(Harmony Korine, 2008, 112 menit, English)</p>
<p>Bayangkan peniru Michael Jackson (Diego Luna) jatuh cinta pada peniru Marilyn Monroe (Samantha Morton) ketika mereka mengadakan pertunjukan di sebuah rumah jompo. Pasangan ini lalu berlibur ke sebuah istana pinggir pantai yang terletak di dataran tinggi Skotlandia, yang dipenuhi oleh peniru-peniru selebritis dari seluruh dunia. Benar-benar kisah yang aneh. Tapi hanya di film ini kita bisa menyaksikan Abraham Lincoln, Three Stooges, Madonna, Charlie Chaplin, serta tentunya Jacko dan Marilyn, akting bersama.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_what-time-is-it-poste.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4185" title="thumb_what-time-is-it-poste" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_what-time-is-it-poste-206x300.jpg" alt="" width="160" height="234" /></a><strong><br />
What Time Is It There</strong>?<br />
(<em>Ni na bian ji dian</em>, Tsai Ming-Liang, 2001, 116 menit, DVD, Mandarin with English Subtitle)</p>
<p>Film drama berbumbu komedi ini berkisah tentang hasrat manusia dalam menjalin hubungan dengan sesamanya melalui penggambaran tiga orang tokoh utama. Hsiao-Kang, seorang penjual arloji kaki lima yang baru saja ditinggal mati ayahnya, jatuh cinta pada Shing-Chyi, perempuan muda cantik jelita yang tengah menyiapkan keberangkatannya ke Paris. Setelah pertemuan itu, Hsiao-Kang pun mengubah jam-jam di (hampir seluruh) Taipei, mencocokkannya dengan jam di Paris, hanya karena ingin merasa dekat dengan Shing-Chyi. Sedangkan Lu, ibu Hsiao-Kang yang baru saja menjadi janda, terobsesi bertemu hantu sang suami. Film ini adalah meditasi dan renungan Tsai Ming-Liang atas kesendirian. Ia juga menunjukkan bahwa waktu adalah salah satu elemen terpenting dalam dunia sinema.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_DontLookBack.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-4186" title="thumb_DontLookBack" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_DontLookBack-214x300.jpg" alt="" width="160" height="224" /></a><strong><br />
Dont Look Back<br />
</strong>(D. A. Pennebaker, 1967, 96 menit, DVD, English)</p>
<p>Dalam film dokumenter yang kerap dilabeli &#8216;klasik&#8217; ini, D. A. Pennebaker dengan gamblang memotret transformasi Bob Dylan sebagai musisi folk <em>slengean</em> menjadi seorang legenda rock. Dengan menggunakan metode <em>vérité</em> (genre film yang kental unsur realisme dan naturalismenya), Pennebaker menggambarkan momen-momen bersejarah dalam hidup Dylan dengan mengikutinya selama tur Dylan di Inggris pada tahun 1965. Seperti layaknya mengikuti tur sebuah sirkus, Pennabaker mendapat &#8216;kehormatan&#8217; merekam celetukan dan umpatan Dylan, hubungannya dengan Joan Baez, dan sekilas penampilan Donovan&#8212;yang disebut-sebut sebagai Dylan-nya Inggris. Fakta bahwa dekade &#8217;60-an adalah era yang melahirkan seorang Bob Dylan membuat film hitam putih ini menjadi ekstra menarik dan penting. Dan ketika media-media melabelinya sebagai seorang &#8216;anarkis&#8217;, dengan enteng Bob Dylan menimpali, &#8220;<em>Give the anarchist a cigarette.</em>&#8221; Ya, Bob Dylan tahu betul apa yang ia yakini, dan Pennebaker membuat sejarah dengan merekamnya.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_UncleBoonmeeWhoCanRec.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4191" title="thumb_UncleBoonmeeWhoCanRec" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/thumb_UncleBoonmeeWhoCanRec.jpg" alt="" width="160" height="213" /></a><strong><br />
Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives</strong><br />
(Apichatpong Weerasethakul, <em> 2010, 114 menit, Thai with Englis</em><em>h  subtitle)</em></p>
<p>Klik di <a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3758" target="_blank">sini</a> untuk membaca <em>review</em>.</p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/just-arrived-june-july-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rukustik #3: KlabKlassikSabtu, 23 Juli 2011</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/rukustik-3-klabklassikfeaturing-itb-student-orchestra/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/rukustik-3-klabklassikfeaturing-itb-student-orchestra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 14:18:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=4043</guid>
		<description><![CDATA[Konser dan dialog tentang musik klasik yang berupaya mendekatkan pemusik dan penonton.  [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=4043">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/rukustik3still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4176" title="rukustik3still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/rukustik3still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p><strong>Rukustik #3: KlabKlassik featuring ITB Student Orchestra</strong></p>
<p>Konser &amp; Diskusi<strong><br />
Sabtu, 23 Juli 2011<br />
Pk 19:00 WIB<br />
</strong>(harap datang 15 menit sebelumnya)<br />
Gratis.</p>
<p><strong>Kineruku<br />
Jl. Hegarmanah 52<br />
Bandung</strong></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><strong> </strong>Musik klasik adalah istilah yang sering kita dengar. Namun, penggunaannya seringkali mengalami kerancuan. Misalnya, apakah musik klasik itu berarti musik ‘lama’, sehingga musik The Beatles atau Frank Sinatra pun dapat dikategorikan musik klasik? Atau, musik klasik itu adalah musik-musik non-populer? Bagaimana dengan Mozart dan Beethoven, bukankah mereka sebenarnya populer di jamannya? Dan lagi, atas barometer apakah suatu musik dapat dikategorikan sebagai musik populer?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut jarang sekali ditanyakan. Orang sudah kadung menggunakan kata ‘musik klasik’ secara semena-mena. Ujung-ujungnya, karena pertanyaan-pertanyaan tadi dilupakan, tidak jarang istilah ‘musik klasik’ secara sederhana didefinisikan sebagai ‘musik yang eksklusif’. Titik. Atau dalam kalimat yang lebih lengkap, “Musik klasik adalah musik yang berat, berkelas, dan hanya mampu menjangkau kalangan tertentu.”</p>
<p>Atas dasar itu, kami merasa perlu mengadakan dialog mengenai musik klasik itu sendiri lewat sebuah konser sekaligus diskusi. <em>Concert hall</em> adalah tempat biasa digelarnya pertunjukan musik klasik, namun di sana minim kesempatan untuk berinteraksi dua arah, sehingga penonton yang datang seringkali manggut-manggut saja menikmati apapun yang tersaji. Acara Rukustik yang diadakan secara regular di Kineruku dipilih karena keinginan kami untuk mendekatkan pemain dan penonton, yang diharapkan dapat bertanya dan bersikap kritis terhadap musik yang dibawakan. Dengan demikian, terbuka kemungkinan adanya pemilahan secara jernih antara bungkus dan isi musik klasik. Mana yang esensial, dan mana yang semata-mata berperan sebagai pembentuk stereotip ‘berat dan eksklusif’.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: center;">Acara ini terselenggara atas kerjasama:<br />
<a href="../" target="_self"><strong>Kineruku</strong></a> | <a href="http://www.klabklassik.blogspot.com/" target="_blank"><strong>KlabKlassik</strong></a> | <a href="www.itborchestra.com/ " target="_blank"><strong>ITB Student Orchestra</strong></a></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<h3><strong><span style="text-decoration: underline;"><em>Repertoire</em> yang dibawakan:</span></strong></h3>
<p>&#8220;Sonata Op. 15 Mov. 1&#8243;<br />
Ciptaan: Mauro Giulliani<br />
Penampil: Ryan Sentosa<br />
Instrumen: Gitar (solo)</p>
<p>&#8220;Polonaise Concertante&#8221;<br />
Ciptaan: Mauro Giulliani<br />
Penampil: Syarif &amp; Lutfi<br />
Instrumen: Gitar (duet)</p>
<p>&#8220;Valse Op. 69 no. 2&#8243;<br />
Ciptaan: Frederic Chopin<br />
Penampil: Todora Nadya T. Silitonga<br />
Instrumen: Piano (solo)</p>
<p>&#8220;Humoresque&#8221;<br />
Ciptaan: Antonin Dvorak<br />
Penampil: Ecko F. Manalu &amp; Ibrahim<br />
Instrumen: Violin &amp; Piano (duet)</p>
<p>&#8220;Hungarian Dance no. 5&#8243;<br />
Ciptaan: Johannes Brahms<br />
Penampil: Nabila Khrisna &amp; Fida Amalia<br />
Instrumen: Violin (duet)</p>
<p>&#8220;Autumn Song&#8221;<br />
Ciptaan: Hohmann<br />
Penampil: Arina Resyta &amp; Poppy Rahayu<br />
Instrumen: Violin (duet)</p>
<p>&#8220;The Swan&#8221;<br />
Ciptaan: Cammile Saint-Saëns<br />
Penampil: Aminah Nuraini, Aulia Fajar Rahmani, Guntario Sukma Cahyani, Irvito Adhy Sanjaya &amp; Pandu Narendradewo<br />
Violin &amp; Piano (ensemble)</p>
<p>&#8220;Koyunbaba&#8221;<br />
Ciptaan: Carlo Domeniconi<br />
Penampil: Bilawa Ade Respati<br />
Instrumen: Gitar (solo)</p>
<p>&#8220;La Cumparsita&#8221;<br />
Ciptaan: Matos Rodriguez (arr. Diecky K. Indrapraja)<br />
Penampil: Ririungan Gitar Bandung<br />
Instrumen: Gitar (ensemble)</p>
<p>&#8220;Canarios&#8221;<br />
Ciptaan: Gaspar Sanz<br />
Penampil: Ririungan Gitar Bandung<br />
Instrumen: Gitar (ensemble)</p>
<p>&#8220;Elegie&#8221;<br />
Ciptaan: Dimitri Sostakovich<br />
Penampil: Ibrahim Adrian Nugroho, Meirita Artanti Putri, Teuku Fawzul Akbar<br />
Instrumen: Violin &amp; Piano (ensemble)</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<h3><span style="text-decoration: underline;"><strong>Profil Penampil KlabKlassik</strong></span></h3>
<p><strong>Bilawa Ade Respati </strong><br />
Belajar gitar secara serius mulai di usia 14 tahun pada Benjamin Limanaw dan kemudian pada Ridwan B. Tjiptahardja. Beberapa kali resital bersama grup trio Tiga Gitar dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu (2008, 2009), duet dengan Widjaja Martokusumo (Romantic Music  at Kerkhoven, 2009) serta berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta. Beberapa kali mengikuti kompetisi musik, juara 2 Yamaha Student Contest tingkat Jabar, Jabodetabek, dan Sumatera (kategori senior, Jakarta, 2007), juara 1 Yamaha Student Contest tingkat kota Bandung (kategori senior, Bandung, 2007), dan finalis dari Kompetisi Gitar Klasik UNY (Yogyakarta, 2006). Aktif di komunitas KlabKlassik, Ririungan Gitar Bandung, sebagai <em>freelance acoustician</em>/<em>building physics engineer,</em> dan mengajar gitar klasik.<strong> </strong></p>
<p><strong>KlabKlassik Guitar Duo</strong><br />
Merupakan proyek kolaborasi antara gitaris Syarif Maulana dan Luthfi Farabi.</p>
<p><strong>Luthfi Farabi</strong> adalah gitaris dan pengajar di Sinfonia Music Center, belajar gitar pada gitaris Ridwan B. Tjiptahardja. Aktif berpartisipasi dalam konser di Bandung dan pernah menyelenggarakan resital tunggal (A Guitar Recital by Luthfi Farabi, 2010).</p>
<p><strong>Syarif Maulana</strong> belajar gitar klasik sejak usia 12 tahun pada Kwartato Prawoto dan Ridwan B. Tjiptahardja. Pada tahun 2005 bersama kawan-kawan mendirikan KlabKlassik. Aktif mengikuti berbagai konser, ujian, maupun kompetisi. Pada tahun 2006, Syarif menyelenggarakan resital tunggal debutnya pada usia 20 tahun di Auditorium CCF. Syarif juga menjuarai beberapa kompetisi, seperti juara III Bandung Spanish Guitar Festival dan juara harapan III Festival Gitar Nasional Excellent di Jakarta.</p>
<p>Tidak hanya di bidang musik klasik, Syarif juga bermain secara reguler di hotel maupun kafe seperti Hilton, Sheraton, Papandayan, Selasar Sunaryo, dan Cafe Rumah 1930. Sekarang Syarif aktif sebagai pengajar gitar klasik di sekolah musik Allegria; menjadi koordinator KlabKlassik di Tobucil; aktif mengajar filsafat di Tobucil maupun di rumahnya, Garasi 10; menulis untuk blog pribadi dan blog Tobucil; serta menjadi dosen mata kuliah Logika di Universitas Padjajaran. Meski demikian, cita-cita tertinggi Syarif adalah menjadi pelatih sepakbola profesional.</p>
<p><strong>Ririungan Gitar Bandung</strong><br />
Ririungan Gitar Bandung adalah <em>ensemble</em> gitar yang terbuka untuk umum, berlatih dan bersilaturahmi setiap 2 minggu sekali di hari minggu siang. Anggotanya tidak pernah tetap karena merupakan<em> ensemble</em> yang sangat terbuka, memberikan kesempatan berapresiasi dan tampil bersama bagi siapa pun. Pernah mengadakan konser Ririungan Gitar Bandung: Maen (2009) serta berpartisipasi dalam beberapa konser di Bandung. Anggotanya saat ini adalah Yunus Suhendar, Kristianus Tri Adisusanto, Ato Hardianto, Aldi, Syarif Maulana, dan Bilawa Ade Respati.</p>
<h3><span style="color: #ffffff;">.</span></h3>
<h3><span style="text-decoration: underline;"><strong>Profil Penampil ITB Student Orchestra</strong></span></h3>
<p><strong> Ecko F. Manalu</strong> adalah lulusan teknik informatika ITB, aktif sebagai <em>violinist</em> ITB Student Orchestra, <em>violinist</em> dan<em> mellophonist</em> St. Laurentius Chamber Orchestra, dan pemain <em>french horn</em> Pavana Woodwind Quintet. Selain itu Ecko  juga aktif di GKI Maulana Yusuf String Ensemble sebagai <em>violinist</em> dan <em>arranger</em>, pengajar Padus GKI Gatot Subroto.</p>
<p><strong>Ibrahim Adrian Nugroho</strong> mulai belajar piano di bawah bimbingan Bapak Dwi di Braga Musik School Bandung pada saat kelas 5 SD, kemudian melanjutkan bimbingan piano di bawah asuhan Bapak Stephen Michael Sulungan. Ibrahim lulus ujian teori musik pada tahun 2006 dan ujian praktik Associated Board of the Royal Schools of Music (ABRSM) tingkat 8 pada tahun 2007.</p>
<p><strong>Nabila Khrisna Dewi</strong> adalah mahasiswa Fisika ITB angkatan 2008. Mulai belajar biola sejak November 2008.</p>
<p><strong>Fida Amalia Fathimah </strong>adalah mahasiswa Teknik Industri ITB angkatan 2007 dan telah aktif di ITB Student Orchestra sejak tahun 2008.</p>
<p><strong>Ryan Sentosa</strong><br />
Ryan Sentosa adalah mahasiswa ITB angkatan 2010 yang belajar bermain gitar sejak 2006. Ia mengikuti les gitar klasik selama 2 tahun di Purwacaraka.</p>
<p><strong>Aminah Nuraini</strong> adalah mahasiswa Teknik Informatika ITB 2009 yang belajar memainkan biola sejak 2009 dari I Nyoman Mahendra.</p>
<p><strong>Aulia Fajar Rahmani</strong> belajar musik tahun 2007-2008 secara privat dan dilanjutkan tahun 2010 lewat ekskul musik SMAN 3 Bandung. Kini ia mahasiswa Teknik Lingkungan ITB angkatan 2010.</p>
<p><strong>Guntario Sukma Cahyani</strong> mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2009, belum lebih dari setahun belajar piano dibawah bimbingan Lina.</p>
<p><strong>Irvito Adhy Sanjaya</strong>, mahasiswa Manajemen Rekayasa Industri ITB 2010, mempelajari musik <em>flute</em> sejak 2007 di bawah bimbingan Hery Udo dan biola di bawah bimbingan Weny Daratama.</p>
<p><strong>Pandu Narendradewo</strong> mahasiswa SBM ITB angkatan 2009 yang mulai belajar musik sejak SMP. Ia pernah dibimbing oleh I. Nyoman Mahendra dan Ammy C. Kurniawan.</p>
<p><strong> Arina Resyta,</strong> mahasiswa Arsitektur ITB angkatan 2010, belajar piano sejak kelas 6 SD hingga kelas 3 SMP. Mulai belajar bermain biola di kelas 2 SMP, namun tidak berlangsung lama. Kini Arina mulai mengikuti les biola di Swara Moriska.</p>
<p><strong>Poppy Rahayu</strong> belajar musik dari tahun 2002 di sekolah musik Chic&#8217;s. Saat ini ia berkuliah di jurusan Seni Lukis FSRD ITB, angkatan 2010.</p>
<p><strong>Meirita Artanti Putri</strong> adalah mahasiswa Planologi ITB 2007 yang pertama kali bermain biola saat SMA lewat bimbingan Henry Virgan.</p>
<p><strong>Teuku Fawzul Akbar</strong> adalah mahasiswa Teknik Fisika ITB 2009, belajar biola sejak 2008 pada I Nyoman Mahendra.</p>
<p><strong>Todora Nadya T. Silitonga Dora</strong>, mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2010, belajar musik sejak kelas 1 SD di Pekanbaru.</p>
<h3><span style="color: #ffffff;">.</span></h3>
<h3><span style="text-decoration: underline;"><strong>Tentang KlabKlassik</strong></span></h3>
<p>KlabKlassik (KK) adalah komunitas dan ruang apresiasi musik klasik yang berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2005. Dasar kemunculannya tidak lepas dari stereotip orang kebanyakan yang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif, kompleks, berat, dan serius. Meski stereotip itu terkadang ada benarnya, namun musik klasik ternyata bisa “terjangkau”, santai, sederhana, dan membumi juga, jika berhasil memilah mana yang menjadi inti, dan mana kemasannya. Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, KlabKlassik mencobanya lewat berbagai acara diskusi santai, konser musik klasik yang jauh dari kesan eksklusif, serta keterbukaan tukar pikiran via milis maupun blog.</p>
<p>Pada awal didirikannya, KlabKlassik hanya diniatkan sebagai kelompok musik insidental yang tampil pada acara JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami pada Februari 2005. Kala itu yang tampil adalah empat gitar yang terdiri dari Royke Ng, Christian Reza Erlangga, Ahmad Indra dan Syarif Maulana. Setelah penampilan tersebut, timbul dorongan dari Dwi Cahya Yuniman, koordinator KlabJazz (komunitas musik jazz), untuk membangun sebuah komunitas.</p>
<p>Dorongan tersebut akhirnya dicoba direalisasikan setelah mendapat kesempatan berkumpul sebulan sekali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Akumulasi dari kumpul-kumpul tersebut salah satunya berhasil mencetuskan ide untuk membuat sebuah pagelaran musik klasik bernama Classicares. Penyelenggaraan Classicares yang diadakan pada 9 Desember 2005 di Gedung Asia Afrika Cultural Center (sekarang Majestic), dianggap sebagai titik tolak kelahiran KlabKlassik sebagai komunitas yang mandiri. Sejak saat itu, penyelenggaraan konser secara berkala menjadi agenda rutin KlabKlassik disamping acara kumpul-kumpul yang terus berjalan.</p>
<p>Sejak pertengahan tahun 2007, KlabKlassik resmi berkomunitas di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Kepindahan tersebut juga menandai munculnya beberapa agenda baru KlabKlassik, yang lahir dari proses evaluasi dan otokritik tiada henti. Agenda baru tersebut menggiring KlabKlassik untuk tidak melulu berkutat di ranah komunitas, melainkan juga ruang apresiasi, yang mana mendorong KlabKlassik untuk semakin membuka diri.</p>
<h3><span style="color: #ffffff;">.</span></h3>
<h3><span style="text-decoration: underline;"><strong>Tentang ITB Student Orchestra</strong></span></h3>
<p>ITB Student Orchestra (ISO) didirikan pada tanggal 2 Maret 2005 dan diresmikan sebagai sebuah unit kegiatan mahasiswa pada tanggal 8 Agustus 2005. ISO didirikan oleh mahasiswa secara swadaya dan mandiri sebagai sebuah orkestra mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan seni musik.</p>
<p>ISO terus berkembang dari tahun ke tahun. Dari hanya sebuah kelompok seksi gesek berkekuatan 6 orang, menjadi sebuah orkestra yang mampu menawarkan pilihan keragaman bentuk orkestra. Kini ISO bermain dalam format string quartet yang terdiri dari 4 orang hingga chamber orchestra dengan 40 pemain. <em>Repertoire</em> ISO pun semakin berkembang, mulai dari lagu klasik hingga pop, rock dan etnik.</p>
<p>Dalam mengelola organisasi serta mengeksplorasi musiknya ISO bermitra dengan berbagai macam pihak, seperti Republic of Entertainment selaku event organizer, Addie M.S. sebagai musikus profesional, Orkes Simfoni Universitas Indonesia, Orkes Simfoni Bumi Siliwangi, Bandung String Ensemble, KlabKlassik, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Arsip Terkait:<br />
<strong>Rukustik #1</strong>: <a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=1482" target="_blank">Efek Rumah Kaca Bermain Akustik.</a><br />
<strong>Rukustik #2</strong>: <a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3201" target="_blank">Mimimintuno (Nova Ruth&#8217;s Acoustic Project)</a></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://www.facebook.com/sharer.php?s= 100&amp;p[title]=Rukustik #3&amp;p[url]=http://zine.rukukineruku.com/?p=4043&amp;p[images][0]=http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/07/rukustik3_still.jpg&amp;p[summary]=Rukustik #3: KlabKlassik featuring ITB Student Orchestra"><img src="../images/share/s-fb.png" alt="" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/rukustik-3-klabklassikfeaturing-itb-student-orchestra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Hidden Gems&#8217; Lima Album Pertama Queen</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/hidden-gems-lima-album-pertama-queen/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/hidden-gems-lima-album-pertama-queen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 11:18:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3770</guid>
		<description><![CDATA[Deep Cuts, Volume 1 (1973-1976): kumpulan lagu-lagu awal Queen yang kurang dikenal, pilihan para personelnya sendiri [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3770">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/06/deepcuts_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3780" title="deepcuts_still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/06/deepcuts_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p>Untuk merayakan ulang tahun ke-40, Queen merilis album kompilasi berisi &#8216;<em>hidden gems</em>&#8216; dari lima album pertama mereka. Maksud &#8216;<em>hidden gems</em>&#8216; ialah lagu-lagu minor yang dinilai membentuk karakter dan mewujudkan visi mereka dalam bermusik. Lagu-lagu ini jelas kurang dikenal oleh masyarakat luas, tapi bagi penggemar Queen maupun penggemar rock, bisa mewakili kreativitas terhebat mereka. Contoh &#8220;Stone Cold Crazy&#8221; yang pernah dibawakan lagi oleh Metallica. Ketika mereka meraih Hadiah Grammy atas lagu tersebut, orang sadar bahwa Queen bukanlah grup paduan suara yang menghasilkan satu hit berjudul &#8220;Bohemian Rhapsody&#8221;.</p>
<p>Queen adalah sebuah band album. Mereka tidak mengandalkan satu lagu tertentu untuk menunjang kesuksesan sebuah album, tetapi mengerahkan semua lagu agar bisa diterima massa. Hanya tuntutan industri dan produser yang membuat mereka harus memilih 1-2 dua lagu untuk dilempar ke pasar, dengan kompromi semoga itu merupakan lagu paling komersil yang bakal mungkin menjadi <em>radio friendly</em>. Karakter sebagai band album tampak jelas dari penempatan urutan lagu yang jarang menempatkan single mereka di urutan pertama.</p>
<p>Maka, pilihan terhadap &#8216;<em>hidden gems</em>&#8216; tadi menjadi rada dilematik, apalagi Queen kini hanya tinggal Brian May dan Roger Taylor, setelah Freddi Mercury meninggal dunia dan John Deacon pensiun. <em>Deep Cuts, Volume 1</em> secara personal dipilih oleh dua anggota tersisa, ditambah saran Taylor Hawkins, drummer Foo Fighters, yang ternyata pengagum berat Queen.</p>
<p>Di satu sisi, pilihan tiga orang tersebut bisa dibilang sukses. Empat belas lagu ini memperlihatkan betapa sejak awal Queen telah memperlihatkan kompleksitas dalam lagu-lagunya, namun sekaligus membuktikan daya jelajah mereka yang sangat luas untuk memperkaya musik rock. Mereka berhasil memaksimalkan kreativitas demi menciptakan lagu dengan beragam sentuhan, mulai dari klasik hingga balada dan folk. Semua itu didukung oleh virtuositas para anggotanya yang di atas rata-rata.</p>
<p>Fakta ini akan tampak lebih heroik lagi jika dibandingkan dengan cerita betapa teknologi rekaman dan musik zaman itu belum mampu mengakomodasi daya kreasi mereka, dan terlebih-lebih di tiga album pertama, Queen hanyalah sebuah band rock biasa yang masih kesulitan uang dan susah payah menaklukkan panggung. Singel pertama mereka, &#8220;Keep Yourself Alive&#8221;, yang ditolak sejumlah radio di Inggris, secara ironik menyemangati mereka agar terus bertahan dan mengembangkan sayap. Mereka sempat bangkrut karena ditipu manajer dan baru bisa rekaman di kala jam-jam kosong studio demi menghemat pengeluaran. Hanya kegigihan dan keyakinan yang membuat mereka terus bertahan bekerja keras. Pada saatnya nanti semua akan berubah drastik setelah mereka mengeluarkan album <em>A Night at the Opera</em>.</p>
<p><em>Track</em> demi <em>track</em> di album ini memang mampu memancarkan pesona &#8216;<em>hidden gems</em>&#8216; dengan baik, namun pilihan itu tetap bisa didiskusikan. Sangat aneh betapa &#8220;Love of My Life&#8221; tidak terpilih, padahal lagu ini merupakan salah lagu paling populer Queen, mudah dinyanyikan, termasuk paling banyak di-<em>cover</em> musisi lain, dan menjadi standar dalam jajaran <em>power ballads</em>. Begitu juga dengan &#8220;The Prophet&#8217;s Song&#8221;, sebuah lagu terpanjang mereka dengan komposisi yang sangat kompleks&#8212;bahkan bagi sebagian fans lebih hebat dari &#8220;Bohemian Rhapsody&#8221;. Mengabaikan lagu yang bisa menarik minat massa luas sangat berpotensi membuat album kompilasi ini jatuh jadi sekadar membuat semangat para penggemar berat Queen.</p>
<p style="text-align: left;">Pasca <em>Made in Heaven</em> (1995), sebagian penggemar mengkritik bahwa Queen sudah kebanyakan mengeluarkan kompilasi dalam beragam variasi, dan salah-salah secara sinis dianggap sebagai cara murahan untuk mencari uang. Tapi untuk <em>Deep Cuts, Volume 1</em>, ceritanya agak lain. Kompilasi ini disiapkan dengan serius. Apalagi komentar atas <em>track</em> demi <em>track</em> dari Rhys Thomas sangat informatif dan memperkaya latar belakang Queen di era tersebut. Kompilasi ini selain mempertontonkan kreativitas, karakter, dan <em>chemistry</em> sebuah band yang kuat, juga membuktikan betapa menarik hiruk pikuk musik rock tahun 1970-an. <em>God save the Queen!</em></p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Anwar Holid</strong>]</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Deep Cuts, Volume 1 (1973-1976)</em></strong><br />
Musisi: Queen<br />
Jenis: album kompilasi<br />
Rilis: 14 Maret 2011<br />
Rekaman: 1972–1976<br />
Genre: Rock<br />
Durasi: 50:01<br />
Label: Universal Music, Island Records</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/hidden-gems-lima-album-pertama-queen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arsitektur Memintarkan atau Membodohkan?</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/arsitektur-memintarkan-atau-membodohkan/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/arsitektur-memintarkan-atau-membodohkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 03:56:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3766</guid>
		<description><![CDATA[Disebut membodohkan bila arsitektur ingin mendominasi atau justru seenaknya sendiri sehingga manusia yang menggunakannya secara tidak sadar hilang identitasnya. [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3766">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/06/arsitekturyangmembodohkan_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3776" title="arsitekturyangmembodohkan_still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/06/arsitekturyangmembodohkan_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p>&#8220;<em>Arsitektur berperan besar dalam membentuk suatu budaya masyarakat,<br />
maka kompetensi seorang arsitek akan menentukan lingkungan binaan<br />
yang dapat memintarkan atau membodohkan</em>.”</p>
<p>Buku yang dari judulnya memiliki kesan  sinis ini mengupas persoalan tersebut dengan cara yang khas. Melalui ungkapan  kalimat negatif, Pursal seorang pengajar pada Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan menantang pemikiran para arsitek baik yang aktif sebagai praktisi maupun yang tenggelam dalam pusaran teoritik. Ia ingin menyampaikan gagasannya tentang seluruh pengetahuan mendasar yang seharusnya tertanam dalam pembelajaran arsitektur. Maka selain berguna bagi para arsitek, buku ini sangat berguna bagi mahasiswa dan awam untuk mengetahui peta besar pergumulan arsitektur.</p>
<p>Pursal menceritakan arsitektur dengan berpijak pada kebutuhan dan keinginan manusia. Bila pada awalnya arsitektur lahir dari manusia, ia pun harus  menyesuaikan diri dengan dinamika manusia, bukan sebaliknya. Namun berbagai karya arsitektur yang tercipta di Indonesia saat ini seolah hanya mengikuti gaya dibandingkan berangkat dari inti pemikiran.</p>
<p>Melalui pengamatannya akan perkembangan arsitektur Indonesia itu Pursal menyelipkan berbagai macam pandangannya. Ia membahasnya tuntas bagaimana ber-arsitektur dari tahap perancangan sampai peniliaian. Segala aspek seperti pentingnya sebuah prinsip tatanan dalam perancangan, bagaimana hubungan fungsi-bentuk-makna dalam arsitektur,  peran riset dalam perancangan, peran alam dan budaya sampai akhirnya peran karya arsitektur itu sendiri dalam perkembangan kesadaran masyarakat di jamannya.</p>
<p>Perancangan arsitektur harus memiliki hubungan fungsi-bentuk-makna yang harmonis. Maka sebuah karya tidak dapat hanya mengedepankan estetika bentuk lalu mengesampingkan segi fungsi atau maknanya. Hubungan 3 unsur ini telah dinyatakan oleh David Smith Capon dalam bukunya <em>The Architectural Theory: The Vitruvian Fallacy</em> (1999). Berpegang pada pengamatanya, Pursal menambahkan hubungan ini menjadi fungsi-konteks; bentuk-struktur; pesan-makna. Maksudnya adalah sebuah fungsi harus di strukturkan agar ia mendapatkan bentuknya, bentuk dengan sendirinya akan menampilkan pesan sehingga ia memiliki makna bagi orang yang melihatnya dan makna itu harus dikontekskan kembali pada fungsi agar makna yang ada sesuai. Begitulah hubungan segitiga fungsi-bentuk-makna yang tidak dapat berjalan linier, melainkan spiral dalam perancangan arsitektur.</p>
<p>Hubungan tersebut mencerminkan pandangan Pursal yang selalu berpegang pada prinsip keseimbangan. Arsitektur sebagai sebuah teks tidak dapat mendominasi penggunanya sebaliknya ia juga tidak boleh seenaknya saja walau tanpa ada intensi ingin mendominasi manusia. Kubu ekstrim antara karya arsitektur yang mendominasi dan seenaknya saja inilah yang harus dihindari oleh perancang.</p>
<p>Maka arsitektur dapat memintarkan lingkungan manusia juga sekaligus dapat membodohkan. Disebut memintarkan bila ia sebagai teks sesuai dengan&#8212;seperti kata Heidegger dalam <em>Building, Dwelling, Thinking</em>&#8212;apa pun yang telah ada di tempat itu sebelumnya (konteks). Disebut membodohkan bila arsitektur ingin mendominasi atau justru seenaknya sendiri sehingga manusia yang menggunakannya secara tidak sadar hilang identitasnya.</p>
<p><strong>Kerancuan Berpikir</strong><br />
Pursal melakukan eksperimen cara penyampaian dalam bukunya ini. Usaha tersebut dilakukan agar sebuah kritik atau teori dapat mudah dinikmati sebelum akhirnya dipahami. Teknik bertanya dengan kalimat negatif adalah salah satu caranya  untuk mengusik kesadaran para pembaca. Pertanyaan ini selalu ia munculkan dalam setiap judul babnya yang berjumlah 9 bagian. Misalnya saja judul bab ketujuh yaitu &#8220;Bagaimana Meniadakan Makna Budaya dalam Perancangan Arsitektur?&#8221; Judul bab ini seolah akan memberikan cara-cara praktis dalam meniadakan unsur budaya, namun sebenarnya Pursal justru ingin menyatakan akibat tidak adanya unsur makna budaya melalui penjelajahan mendalam peran Makna Budaya.</p>
<p>Pada awal penjelasan Pursal memberikan cerita sederhana tentang topik, selanjutnya ia membawa contoh  tersebut pada bidang arsitektur. Sebelum ia menyatakan pandangannya, ia memberikan contoh pemikiran lain yang sudah ada sebelumnya untuk menghantarkan pembaca pada pandangan Pursal. Ia tidak pernah menutup pemikirannya dengan pernyataan tegas, ia justru selalu melemparkan pertanyaan yang lugas. Pertanyaan inilah yang akhirnya mengembalikan sebuah perkara pada perenungan pembaca masing-masing.</p>
<p>Kalimat bercerita Pursal dalam <em>Arsitektur Yang Membodohkan</em> cukup sulit untuk dipahami karena pola tersebut. Mungkin pembaca dapat menangkap pengertian sekilas, namun apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pursal selalu &#8220;terselip&#8221; dalam kalimat-kalimatnya. Untuk mengatasi hal itu Pursal menyertakan ilustrasi yang lucu dan mudah dipahami. Mirip karakter Manga.  Hampir seperempat buku ini akhirnya diiisi oleh ilustrasi tersebut. Sebuah prinsip keseimbangan yang ia  terapkan juga dalam penyajian. Pusaran teoritik yang pejal disandingkan dengan ilustrasi yang sangat mudah dinikmati.</p>
<p><strong>Peta Besar Arsitektur</strong><br />
Membaca <em>Arsitektur Yang Membodohkan</em> dari awal sampai akhir dapat membuat pembaca mengerti peta besar perancangan arsitektur. Namun pembaca tidak dapat mendalami setiap permasalahan secara mendetail karena Pursal hanya memberikan rujukan setiap permasalahan pada pemikiran, buku atau karya orang lain yang sudah ada. Pembaca digiring dengan cepat memahami permasalahan untuk masuk ke dalam pemikiran Pursal itu sendiri.</p>
<p>Rujukan yang diberikan dalam setiap gagasannya tidak hanya berangkat dari bidang arsitektur. Beberapa pemikiran bidang ilmu filsafat, budaya, antropologi dan ilmu lainnya ia sertakan. Inilah yang membuat pemikiran Pursal dalam arsitektur tidak terpisah dari keseluruhan peri kehidupan manusia.</p>
<p>Namun sayangnya, walaupun berangkat dan diperuntukkan secara khusus bagi dunia Arsitektur Indonesia, Pursal tidak memberikan seluruh contoh nyata bangunan-bangunan yang dimaksud. Ia hanya menceritakan hal-hal yang prinsipiil pada setiap kasus. Dalam hal ini pembaca dianggap sudah memiliki referensi tersendiri tentang setiap bangunan yang dimaksud. Dalam bukunya ini terasa bahwa Pursal ingin memprovokasi para arsitek lain untuk tidak latah terhadap gaya yang muncul di Barat dan untuk mulai memunculkan kemudian menuliskan pemikirannya sendiri.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Andreas Yanuar Wibosono</strong>]<br />
Resensi ini dimuat di harian <em>Kompas</em> Minggu, 12 Juni 2011</p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>Arsitektur Yang Membodohkan</strong></em><br />
Penulis: Pursal<br />
Penerbit: CSS Publishing<br />
Cetakan I, 2010<br />
Tebal 208 halaman<br />
ISBN: 978-979-17433-7-2</p>
<p style="text-align: left;">
<p>Buku <em><strong>Arsitektur yang Membodohkan</strong></em> bisa dibeli (<em>direct</em>/<em>online</em>) di <strong>Rumah Buku/Kineruku</strong> seharga Rp 150.000 (Rp 100.000 untuk mahasiswa).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/arsitektur-memintarkan-atau-membodohkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives &#124; Apichatpong Weerasethakul, 2010</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/uncle-boonmee-who-can-recall-his-past-lives-apichatpong-weerasethakul-2010/</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/uncle-boonmee-who-can-recall-his-past-lives-apichatpong-weerasethakul-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 09:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3758</guid>
		<description><![CDATA["Surga itu overrated. Gak ada apa-apa kok di sana" [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3758">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/06/uncleboonmee_still.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3760" title="uncleboonmee_still" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2011/06/uncleboonmee_still.jpg" alt="" width="575" height="385" /></a></p>
<p><em>DVD, Thailand, 2010, 114 menit, </em><em>Bahasa Thailand dengan subtitle Bahasa Inggris.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Lagi-lagi karya edan dari Apichatpong. Kali ini ia tidak hanya berhasil membuat kita mengernyitkan mata, tapi juga diam-diam mengerlingkan mata. Menontonnya di ruang gelap, kita berharap cemas teman-teman yang tadi datang bersama, masih berbentuk manusia. Tapi bukan, ini bukan film horor. Atau mungkin juga saya salah interpretasi.</p>
<p>Film ini mengisahkan hidup si Paman Boonmee –veteran perang yang dulu membunuhi para komunis– sedang sekarat karena ginjalnya rusak. Paman Boonmee tinggal di sebuah kebun luas penuh oleh buah asam jawa dan lebah, ditemani kakak ipar dan keponakannya yang sesekali datang merawat, membantunya cuci darah à la udik. Di antara jalan cerita yang tampak jelas itu, datanglah segala tiba-tiba: pria berbulu lebat mirip Chewbacca, putri buruk rupa yang bercinta dengan ikan lele, juga mendiang istri Paman Boonmee yang sungguh penuh kasih sayang.</p>
<p>Rupanya tidak ada yang tidak mungkin terjadi dalam dunia Apichatpong. Ketiba-tibaan bagi Apichatpong mungkin adalah jawaban dari segala kebingungannya (dan kita semua) atas hal-hal yang sangat alamiah terjadi di dunia ini: kelahiran, kematian. Bagaimana jika hidup kita adalah reinkarnasi putri duyung? Bagaimana jika biksu yang tinggal di sebelah rumah adalah anjing pudel kita yang menghilang bulan lalu? Bagaimana jika hidup yang kita jalani ini baru akan terjadi nanti?</p>
<p>Pastilah membingungkan. Tapi di sinilah ajaibnya Apichatpong. Di tengah plot yang bercerita atas realitas ada dan tiada, masa lalu dan masa kini, ia berhasil membuat kita terbuai dengan bahasa-bahasa visualnya (mulai dari akting, sinematografi, bahkan kostum dan <em>make up</em>) yang sangat terukur. Semua film dengan teknis yang sangat terukur memang seringkali jatuh menjadi film biasa-biasa saja. Namun Apichatpong tidak pernah membuat film yang biasa, karena ia mengutamakan keganjilan benak manusia dalam semua ramuan dialog dan kisahnya. Ketika Paman Boonmee bertanya kepada mendiang istrinya, di mana ia bisa mencarinya setelah mati nanti. Surgakah? &#8220;Surga itu <em>overrated</em>. Gak ada apa-apa kok di sana&#8221;.</p>
<p>Sebuah film liar-liar lembut yang patut ditonton oleh siapa pun yang ingin mendefinisikan kembali karya seni, dan mengartikan kembali kehidupan di muka bumi ini. Kalau ada daftar 10 film wajib tonton sebelum mati, saya akan merekomendasikan film ini sebagai salah satunya. Tentu bukan karena alasan film ini pernah menang penghargaan Palme d&#8217;Or di Cannes 2010. [<strong>AD</strong>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/uncle-boonmee-who-can-recall-his-past-lives-apichatpong-weerasethakul-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

