Editorial & Contributors
Rumah Buku/Kineruku menunggu kontribusi para penggila buku/musik/film untuk berbagi ulasan. Berbagi cerita tentang karya-karya favorit kita pada khalayak ramai, adalah pekerjaan paling mulia di muka bumi (kata siapa dulu!). Di bawah ini adalah beberapa kontributor yang sudah berhasil kami todong. Setiap ulasan akan diganjar gratis peminjaman di Rumah Buku/Kineruku. Lebih lanjut soal itu, baca keterangan paling bawah dari halaman ini. Tunggu apa lagi? Mari berbagi!
Rumah Buku/Kineruku Webzine
Editor-in-Chief:
Budi Warsito
Contributors:
Aditya IP
Adit, akrab dipanggil Ngkud, sangat pendiam dan lemah lembut. Tapi selera musik dan filmnya tidak selembut itu.
Andika Budiman
Andika Budiman adalah mahasiswa Hubungan Internasional yang kurang suka studinya dan menjaga kewarasan salah satunya dengan menonton film. Sesuai dengan usianya yang baru sembilan belas tahun, ia menyukai karya Noah Baumbach dan Sofia Coppola yang penuh gaya. Secara umum ia senang menonton komedi romantis dan film independen produksi Amerika. Selain menulis resensi demi pinjaman film gratis, Andika Budiman juga rutin menyambangi pertemuan kelompok penulis pemula yang diadakan di toko buku Reading Lights. Ia sedang asyik bermain sebagai tukang edit untuk jurnal kelompok ini yang bisa diakses di rlwriterscircle.blogspot.com.
Anwar Holid
Anwar Holid aka Wartax sering jengkel kalau lihat salah tulis di buku atau tulisan yang dibacanya. Wajar, mungkin karena dia dilatih untuk jadi editor dan penulis. Sekarang dia jadi penyunting, penulis, dan penerjemah freelance. Dulu dia kerja di Mizan, PATTIRO, dan Jalasutra. Kadang-kadang diundang sebagai fasilitator untuk pelatihan menulis. Sekarang jadi kontributor untuk Republika, Digibookgallery.com, dan Forum Buku Goethe-Institut Jakarta. Ngeblog di halamanganjil.blogspot.com. Bukunya ialah Barack Hussein Obama (2007), biografi populer atas kandidat calon presiden AS untuk pemilu 2008 ini. Tinggal sekeluarga di Bandung.
Bayu Laksmono
Seorang cyberbohemian peminat musik, buku, seni dan film, lulusan Universitas Parahyangan jurusan Hubungan Internasional.
Carya Maharja
Menggilai album The Velvet Underground and Nico dan menuliskan ulasannya dengan sepenuh hati untuk webzine Rumah Buku/Kineruku.
Dimas Ario
Seorang pemuda asal Jakarta yang sampai saat ini tidak mau pulang ke kampung halamannya karena sudah terlanjur jatuh cinta dengan kota Bandung. Setelah lulus dari UNPAR jurusan Hubungan Internasional yang sangat tidak ia sukai, Dimas mulai merintis mimpinya satu demi satu untuk menjadi seorang jurnalis musik (yang pernah ia jalani di sebuah majalah independen), menjadi seorang music director di radio (yang sampai saat ini belum kesampaian, namun kini ia menjadi produser lepas untuk program khusus di sebuah radio) dan juga menjadi seorang music supervisor untuk film, acara televisi dan iklan (ini juga belum kesampaian dan masih menjadi mimpi terbesarnya untuk saat ini). Kini ia bekerja full time untuk s.c.a.n.d.a.l, sebuah creative house. Dan di sela-sela waktu bekerjanya, ia masih menyempatkan diri untuk memuaskan hasrat visualnya dengan membidik orang atau apapun itu yang ia temui di jalanan melalui kamera mainannya, menyalurkan hasrat bermusiknya melalui bandnya Ballads of the Cliche, menulis berbagai ulasan atau berita tidak penting dalam blognya atau sekedar mengungkapkan keluh kesah pada salah satu kanal dunia maya yang paling ‘panas’ saat ini.
Ifan Ismail
Redaktur rumahfilm.org.
Indra Permadi
Indra Permadi (1985- ) jarang keluar rumah. Selain untuk membeli barang belanjaan dan menyewa buku, semenjak kelulusannya dari UNPAR tahun 2008, Indra Permadi meluangkan sebagian besar waktunya di kamarnya membaca novel, menulis, atau bermain musik. Penulis-penulis yang Indra Permadi gemari sejauh ini adalah Pramoedya Ananta Toer, Oscar Wilde, Jeffrey Eugenides, Haruki Murakami, Arthur Rimbaud, dan Sylvia Plath. Kini, kesibukan Indra Permadi antara lain:
- Mengirimkan CV ke perusahaan manapun yang sudi menerimanya.
- Meminjamkan tangannya dalam bermain gitar pada band-band berikut: Sind3ntosca, Angsa & Serigala dan, Klab Karaoke.
- Menulis kumpulan prosa & puisi, dan menggubah lagu sendiri semuanya dengan alias Ali Singatuhan.
Ivann Makhsara
Melamar untuk pekerjaan terbaik di dunia, yaitu menjadi pegawai Rumah Buku. Sayangnya, dia ditolak. Karena Rumah Buku tidak mungkin memberikan biaya transportasi harian, mengingat Ivann tinggal nun jauh di bagian utara pulau Sumatra.
Kathleen Azali
Peminat buku, komik, musik, dan film. Bekerja sebagai komikus, ilustrator, web designer, dan penerjemah freelance. Tinggal di Surabaya.
Kenari
Peminat musik. Bekerja sebagai akuntan gadungan. Tinggal di Jakarta. Peminat musik. Bekerja sebagai akuntan gadungan. Tidak suka kucing. Tinggal di Jakarta. Peminat musik. Bekerja sebagai akuntan gadungan. Tidak suka kucing. Mungkin suka menulis. Tinggal di Jakarta. Peminat musik. Bekerja sebagai akuntan gadungan. Tidak suka kucing. Mungkin suka menulis. Tidak pintar grammar. Tinggal di Jakarta.
Lintang Melati
Capricornian. Shio Tikus Tanah. Kagum pada Pedro Almodóvar, tergila-gila dengan Haruki Murakami. Sok bisa bahasa Spanyol (sparo nyolong). Lulusan S1 Psikologi yang masih takut jadi psikolog. Tidak up-to-date, lebih menjurus kepada up-to-me.
Meicy Sitorus
Meicy Sitorus terlalu malas menulis biodatanya sendiri. Atau itu adalah trik yang (tanpa) sengaja ia lakukan untuk membuat orang lain menulis tentang dirinya. Kata orang, ia bekerja di tempat paling hip di Bandung, berkendaraan motor paling hip di jalan raya, juga mengenakan celana paling pas di hip-nya.
Pandji Alfi
Pandji Alfi is an ordinary man who leads an extraordinarily ordinary life. He doesn’t like to amuse, if not fool, himself to think that he’s special and that each person in this world is special, no, yet he longs just that sort of naivete to replenish his weary and rusty soul. Despite being an ordinary man, there’s a mad man hiding deep within him, crouching with head between his knees, moaning for the belt to be loosened. But maybe he’s just making this up. Finds bliss in acknowledging writers such as Dostoevsky, Camus, and Sartre as his hero, all in regard to Rumah Buku/Kineruku, not to mention a great deal of movie-directors and great films, only available again, at Rumah Buku. In the meantime he likes to craft lousy poems and someday dreams to write a novel, a dream which he passively participate in.
Prima Rusdi
Numpang lahir di Jerman, numpang sekolah di Depok lanjut numpang lagi di Australi, numpang cari makan di Jakarta, numpang nulis di mana-mana. Membenarkan siapapun yang menyebutnya ‘gaptek’, ‘jutek’, ‘galak’ atau ‘ribet’. Dengan suka cita ia menerima beragam anugerah gelar kehormatan mulai dari ‘Miss Rawit’ hingga ‘direktris PT Pro Bono’. Yang terakhir itu akibat seringnya Prima terlibat (atau melibatkan kawan-kawannya) ke dalam beragam kegiatan nirlaba. Hingga hari ini, Prima masih mencoba memahami apa yang pernah ia lakukan di kehidupannya yang sebelumnya sehingga mengakibatkan perangkat teknologi mutakhir terkesan sangat mendendam dan kurang mau bersahabat dengannya. Akibatnya, ia selalu menjadi anggota ‘laskar terakhir’ dalam mengadopsi benda-benda teknologi. Kalau toh akhirnya Prima terpaksa menggunakan benda-benda teknologi terkini, bisa dipastikan adanya sejumlah insiden. Salah satu contoh klasik adalah ketika beberapa tahun silam ia untuk pertama kalinya membeli flashdisk (akibat termakan isu bahwa disket akan segera difatwa), Prima pun dengan gagah berani menantang kesabaran bapak penjual yang menganjurkannya membeli flashdisk merk Toshiba. Prima menolak saran itu. Alasannya? “Komputer saya Acer, Pak!”
Rafki Hidayat
Aktif di Liga Film Mahasiswa ITB.
Rani Widya
Rani Widya (bukan Rani Ruku), arian yang agak piscean, gemar membaca, rajin menabung, dan tidak bisa memasak. Sejak abad yang lalu bercita-cita ingin menulis novel bestseller demi merasakan betapa cool-nya duduk di sebuah cafe sambil mencoret-coret ide di selembar tisu. Sampai saat ini, progress penulisannya tidak beranjak dari sebuah judul, Prahara Wina, itupun courtesy dari Budi Warsito. Racauannya (yang mudah-mudahan tidak dijadikan bahan novel) bertebaran di eggophilia.blogspot.com.
Ridwan Susanto
Seorang guru berdomisili di Bandung, dengan latar belakang IT. Penggemar karya-karya Quentin Tarantino, Jason Reitman. juga film-film romantis komedi. Akhir-akhir ini mulai menggemari film-film Indie. Mengenal Rumah Buku/Kineruku pertengahan 2009 melalui sebuah artikel di www.detik.com dan sejak saat itu menjadi pengunjung setia. Di Rumah Buku/Kineruku pula ia menemukan sebuah brosur publikasi tentang komunitas film MyCinema Bandung, di mana ia kemudian aktif di sana.
Sigit Giri Wibowo
Sarjana Ilmu Pemerintahan UGM, bekerja sebagai Program Manager di Sekolah Demokrasi Tangerang. Hingga kini masih rajin bolak-balik Tangerang-Jogja.
Tumpal Tampubolon
Tumpal Tampubolon, lahir di sebuah rumah sakit umum kecil di pulau Tarakan, Kalimantan Timur pada 12 Desember 1979. Ompungnya selalu antusias bercerita bahwa di malam ketika dia lahir, tak jauh dari tempat tidur ibunya seorang pasien meninggal. Perayaan kelahirannya akhirnya dilakukan dengan berbisik demi menghormati kemurungan yang tengah melanda tetangga mereka. Pengalaman dramatis tersebut membuatnya menjadi seorang Batak pemurung dengan suara halus, yang terkadang asmatis. Ketiga kekurangan tersebut membuat dia enggan menyanyi atau bertualang mengarungi jalan dengan angkutan umum, sehingga akhirnya dia memilih jalan hidup yang kurang lazim untuk orang Batak pada umumnya, menjadi seorang filmmaker. Jika tidak terlalu banyak melamun biasanya dia menulis skenario film dan membuat film pendek bersama teman-temannya. Film pendek pertamanya Djanggo pada tahun 2004 terpilih sebagai salah satu finalis pada Close Up Planet Movie Competition. Di tahun 2005 naskah film pendeknya The Last Believer terpilih sebagai pemenang pada Jakarta International Film Festival (JiFFest) Script Development Competition. Pada tahun 2007 ia terpilih untuk mengikuti program Asian Young Filmmakers Forum di Korea Selatan. Kini ia bersama kedua temannya Fitrah Hardigaluh dan Rai Pandudita (keduanya juga gemar melamun), mendirikan sebuah production house di Jakarta bernama Zuura Pictures.
Victor Murdowo
Pengunjung setia dan pelanggan tetap Rumah Buku.
* * *
Review and Get Free Rental!
Jika Anda senang dan hobi mengulas musik, film, dan buku, berpartisipasilah dengan mengikuti program spesial kami: Review, and Get Free Rental. Ulasan terpilih akan kami pasang di webzine ini dan Anda akan mendapatkan voucher peminjaman gratis koleksi buku, musik, film di Rumah Buku/Kineruku.
1. Buat ulasan buku/CD/film koleksi Rumah Buku/Kineruku. Panjang tulisan minimal 500 kata, dan memuat pendapat/pandangan pribadi.
2. Tulisan dapat dikirimkan langsung ke email: rukukineruku@gmail.com atau dititipkan pada petugas kasir.
3. Setelah mengalami proses seleksi dan editing, ulasan akan dipasang di webzine Rumah Buku/Kineruku.


