The Passenger | Michelangelo Antonioni, 1975

<b>The Passenger</b> | Michelangelo Antonioni, 1975

May 9th, 2008  |  Published in Film Review

Professione: Reporter, Perancis/Italia/Amerika Serikat/Spanyol, 1975, Color, 125 menit, English, VCD.

Bila aksi kejar-kejaran dan penembakan adalah ciri khas film laga, mungkin film ini termasuk salah satu di antaranya. Tapi jangan berharap mendapatinya dalam dosis yang diluapkan, karena Antonioni adalah makhluk misterius yang selalu berhasil mengajak kita beradrenalin dalam kelambanan. The Passenger—bisa jadi satu-satunya film Antonioni dengan plot dan gaya tutur yang terstruktur jelas—bercerita tentang David Locke (diwatakkan secara cemerlang oleh Jack Nicholson), seorang reporter yang kehilangan arah hidupnya. Ketika berada di Afrika Utara, ia memutuskan bertukar identitas dengan seorang kenalan baru yang ia dapati tergeletak mati di kamar hotel. Jadilah ia mengalmarhumkan identitasnya, dan membangunkan seorang asing dalam tubuhnya. Ternyata, mengubah diri memang tidak semanis cerita-cerita di film atau semudah petunjuk-petunjuk buku pembimbing. Robertson, pria baru dalam tubuh Locke, adalah seorang pemasok senjata bagi kelompok pemberontak. Dalam penyamarannya, Locke diburu sana-sini: mulai dari pihak pemerintah Afrika, mitra bisnis yang tak kunjung menerima pesanan barang, hingga Kedutaan Inggris yang mengatasnamakan istrinya.

Layaknya sebuah catatan perjalanan, Antonioni dengan penataan dan gerak kameranya yang khas membawa kita mengelilingi tempat-tempat eksotis di gurun Afrika, hunian-hunian London, La Sagrada Familia (karya monumental Gaudi di Barcelona), hingga perkampungan sepi Spanyol. Hampir semua pengamat film berpendapat bahwa secara teknis Antonioni mencapai puncak keberhasilannya di film ini. Hal ini dikukuhkan dengan adegan one take selama 7 menit di ujung film, yang disebut-sebut sebagai karya sinematografi paling heroik dan bersejarah dalam dunia sinema: bermula dengan gerak pan kamera di kamar hotel, keluar melewati kisi-kisi jendela, bergerak menuju lapangan luas, dan kembali lagi masuk ke dalam kamar yang sama.

Namun bukan Antonioni namanya jika membiarkan para penontonnya hanya sekadar terpana dan terhanyut oleh keindahan gambar maupun teknis gerak kamera dalam film-filmnya. Lebih dari itu semua, The Passenger menohok kita dengan pertanyaan khas à la eksistensialis: seberapa jauh sebenarnya kita mampu memahami diri kita sendiri? Film ini seakan mendistorsikan pepatah “kenalilah diri sendiri, sebelum kita bisa mengenal orang lain” menjadi “kenalilah orang lain, tapi bukan sekadar demi mengenal diri sendiri”. [AD]

<< Next Post: Goodbye, Dragon Inn – Tsai Ming-liang
>> Previous Post: Jindabyne – Ray Lawrence

Bookmark and Share

Post to Twitter Tweet This Post

«
»

Leave a Response

Take me to:

About

Books. Music. Films. Events.

Rumah Buku/Kineruku
Jl. Hegarmanah 52
Bandung, 40141 Indonesia
Ph/F: +62.22.2039615
Email: rukukineruku@gmail.com

Open Hours:
Monday - Saturday
10 AM - 8 PM
Sunday
10 AM - 5 PM