<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Berbicara tentang Komunitas Film dan Film Independen Indonesia</title>
	<atom:link href="http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&#038;p=62" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62</link>
	<description>Jl. Hegarmanah 52 Bandung, Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 04:15:39 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: Gilang</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62&#038;cpage=1#comment-1008</link>
		<dc:creator>Gilang</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 12:24:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=62#comment-1008</guid>
		<description>FESTIVAL FILM INDEPENDENT

(TEMA BEBAS &gt;&gt; non dokumenter)
maksimal durasi 18 MENIT


PENDAFTARAN DAN PENGUMPULAN FILM :
29 MARET - 30 APRIL 2010
WAKTU : 10.00-15.00
@ HALL TENGAH FE UII, CONDONGCATUR


BIAYA PENDAFTARAN : Rp 50.000


PENJURIAN :
2-6 MEI 2010
JAM 10.00-SELESAI @ MOVIEBOX</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>FESTIVAL FILM INDEPENDENT</p>
<p>(TEMA BEBAS &gt;&gt; non dokumenter)<br />
maksimal durasi 18 MENIT</p>
<p>PENDAFTARAN DAN PENGUMPULAN FILM :<br />
29 MARET &#8211; 30 APRIL 2010<br />
WAKTU : 10.00-15.00<br />
@ HALL TENGAH FE UII, CONDONGCATUR</p>
<p>BIAYA PENDAFTARAN : Rp 50.000</p>
<p>PENJURIAN :<br />
2-6 MEI 2010<br />
JAM 10.00-SELESAI @ MOVIEBOX</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: quantum equilibrium</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62&#038;cpage=1#comment-656</link>
		<dc:creator>quantum equilibrium</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 03:50:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=62#comment-656</guid>
		<description>NGOMONGIN FILM YUK...!!
BROADCAST ENTERTAINMENT SERIES WORKSHOP

ASIKNYA BIKIN FILM

TANGGAL 31 OKTOBER 2009
PK. 09.00 - 15.00 WIB
@ AULA STIKOM INTERSTUDI 
Jl. Wijaya II no. 62, Kebayoran Lama, Jak - Sel

HTM
RP 150.000 (MAHASISWA)
RP 250.000 (UMUM)
*Dapat snack + lunch + sertifikat + makalah + CD rom

PEMBICARA :


LULU RATNA, Director of Europe on Screen Festival

DENNIS ADISHWARA, Aktris &amp; young director film

YUDHI PRILLA, Associate Director of film iklan

WIRA DE NATO, Producer Film Iklan

UNTUK PENDAFTARAN SILAHKAN TRANSFER VIA 
REK BCA 229.1594.281 (a.n Kartika Rezeki)

** jika selesai transfer, segera konfirmasi ke :

Maya (021 933 08117)
Lina (021 954 21339)
Tika (08567671700)

***Pendaftaran terakhir ditutup tgl 27 Oktober 2009.

TERIMA KASIH,
QUANTUM EQUILIBRIUM

TEMPAT TERBATAS !!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>NGOMONGIN FILM YUK&#8230;!!<br />
BROADCAST ENTERTAINMENT SERIES WORKSHOP</p>
<p>ASIKNYA BIKIN FILM</p>
<p>TANGGAL 31 OKTOBER 2009<br />
PK. 09.00 &#8211; 15.00 WIB<br />
@ AULA STIKOM INTERSTUDI<br />
Jl. Wijaya II no. 62, Kebayoran Lama, Jak &#8211; Sel</p>
<p>HTM<br />
RP 150.000 (MAHASISWA)<br />
RP 250.000 (UMUM)<br />
*Dapat snack + lunch + sertifikat + makalah + CD rom</p>
<p>PEMBICARA :</p>
<p>LULU RATNA, Director of Europe on Screen Festival</p>
<p>DENNIS ADISHWARA, Aktris &amp; young director film</p>
<p>YUDHI PRILLA, Associate Director of film iklan</p>
<p>WIRA DE NATO, Producer Film Iklan</p>
<p>UNTUK PENDAFTARAN SILAHKAN TRANSFER VIA<br />
REK BCA 229.1594.281 (a.n Kartika Rezeki)</p>
<p>** jika selesai transfer, segera konfirmasi ke :</p>
<p>Maya (021 933 08117)<br />
Lina (021 954 21339)<br />
Tika (08567671700)</p>
<p>***Pendaftaran terakhir ditutup tgl 27 Oktober 2009.</p>
<p>TERIMA KASIH,<br />
QUANTUM EQUILIBRIUM</p>
<p>TEMPAT TERBATAS !!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: gaston castano</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62&#038;cpage=1#comment-345</link>
		<dc:creator>gaston castano</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 09:27:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=62#comment-345</guid>
		<description>hmm..justru itu jg loh salah satu sumber pesimisme saya,ketika independen dalam film dipersempit dlm ruang lingkup produksi itulah yang membuat saya skeptis,pesimis dan tdk terlalu berharap banyak dengan film independen indonesia. seberapa banyak sih sineas/calon sineas kita yang punya akses ke digital cinematography camera?? ini mnurut saya lebih layak dijadikan oposisi dari 35mm, bkn home video dsb sperti dsebut diatas. tetapi ga tau jg ya saya klo pada faktanya skrg banyak yg sudah mulai mengejar ketertinggalan masalah teknis ini. tentang content,saya masih yakin it&#039;s all bout references. 

penciptaan pasar sndiri menurut saya masih bias loh.apakah pasar itu lahir dengan sendirinya? ataukah diciptakan filmmaker? atau diciptakan media?
ya saya juga salut sama ERK yg punya keyakinan seperti itu, tapi yang saya khawatirkan ialah saat kemampuan menciptakan pasar mereka hanya bisa sampai ke segelintir orang yg ujung2nya menjadi fans fanatik. sehingga membuat imej karya2nya menjadi cult.sangat disayangkan. yang harusnya dapet tempat di laut.cuma bs berkutat di kolam air tawar.

saya juga punya kepercayaan klo pasar itu memang diciptakan. tapi sang pencipta disini menurut saya ialah media. dan saya rasa all these suksesnya-film-sampah things adalah tanggung jawab media. bukan pasar yang disalahkan.(pake asumsi:definisi pasar disini adalah mayoritas masyarakat indonesia penonton film) orang indonesia mnurut saya pinter pinter koq. cuman pada sibuk cari nafkah aja.jadi utk hal2 yg bersifat entertainment seperti film ini ya seadanya yg dilihat di TV aja. (apa sih namnya yg ky gini? ada istilah ilmiah cultural studiesny gt deh klo g salah,,passive audience?? or somthin like that lupa saya..). hampir tidak ada waktu (atau lebih jauh lagi) usaha/semangat untuk research.dan menurut saya itu wajar.

oh yes.tentu saja ukuran kesuksesan film itu relatif.tapi ada dong penggunaan parameter2 yang udah diakui dan disepakati bersama. karena ngga mungkin kan gara2 kita punya penilaian sendiri trus bilang juri2 di cannes atau berlin itu pada bego.hahah..dan penggunaan parameter dirilisnya film oleh distributor oleh luar negeri semoga tidak disepakati bersama. well, pembalasan ratu pantai selatan, golok setan, ratu ilmu hitam dibeli juga ma pihak luar negeri klo g salah..hihi..

iya semoga saja semakin banyak film2 kita yang makin OK baik segi estetik maupun komersial.however, masih ragu klo film2 tsb berasal dari label independen.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hmm..justru itu jg loh salah satu sumber pesimisme saya,ketika independen dalam film dipersempit dlm ruang lingkup produksi itulah yang membuat saya skeptis,pesimis dan tdk terlalu berharap banyak dengan film independen indonesia. seberapa banyak sih sineas/calon sineas kita yang punya akses ke digital cinematography camera?? ini mnurut saya lebih layak dijadikan oposisi dari 35mm, bkn home video dsb sperti dsebut diatas. tetapi ga tau jg ya saya klo pada faktanya skrg banyak yg sudah mulai mengejar ketertinggalan masalah teknis ini. tentang content,saya masih yakin it&#8217;s all bout references. </p>
<p>penciptaan pasar sndiri menurut saya masih bias loh.apakah pasar itu lahir dengan sendirinya? ataukah diciptakan filmmaker? atau diciptakan media?<br />
ya saya juga salut sama ERK yg punya keyakinan seperti itu, tapi yang saya khawatirkan ialah saat kemampuan menciptakan pasar mereka hanya bisa sampai ke segelintir orang yg ujung2nya menjadi fans fanatik. sehingga membuat imej karya2nya menjadi cult.sangat disayangkan. yang harusnya dapet tempat di laut.cuma bs berkutat di kolam air tawar.</p>
<p>saya juga punya kepercayaan klo pasar itu memang diciptakan. tapi sang pencipta disini menurut saya ialah media. dan saya rasa all these suksesnya-film-sampah things adalah tanggung jawab media. bukan pasar yang disalahkan.(pake asumsi:definisi pasar disini adalah mayoritas masyarakat indonesia penonton film) orang indonesia mnurut saya pinter pinter koq. cuman pada sibuk cari nafkah aja.jadi utk hal2 yg bersifat entertainment seperti film ini ya seadanya yg dilihat di TV aja. (apa sih namnya yg ky gini? ada istilah ilmiah cultural studiesny gt deh klo g salah,,passive audience?? or somthin like that lupa saya..). hampir tidak ada waktu (atau lebih jauh lagi) usaha/semangat untuk research.dan menurut saya itu wajar.</p>
<p>oh yes.tentu saja ukuran kesuksesan film itu relatif.tapi ada dong penggunaan parameter2 yang udah diakui dan disepakati bersama. karena ngga mungkin kan gara2 kita punya penilaian sendiri trus bilang juri2 di cannes atau berlin itu pada bego.hahah..dan penggunaan parameter dirilisnya film oleh distributor oleh luar negeri semoga tidak disepakati bersama. well, pembalasan ratu pantai selatan, golok setan, ratu ilmu hitam dibeli juga ma pihak luar negeri klo g salah..hihi..</p>
<p>iya semoga saja semakin banyak film2 kita yang makin OK baik segi estetik maupun komersial.however, masih ragu klo film2 tsb berasal dari label independen.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ariani Darmawan</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62&#038;cpage=1#comment-342</link>
		<dc:creator>Ariani Darmawan</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 08:12:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=62#comment-342</guid>
		<description>&#039;Independen&#039; atau tidak kan sebenarnya hanya pelabelan dalam hal proses produksi (dan pemasaran). Bahwa independen itu berarti di luar jalur yang sudah mapan, di mana sebutan &#039;mapan&#039; di sini biasanya melalui jalur studio/rumah produksi yang sudah besar dan mampu memproduksi lebih dari 3-4 film setahunnya. Memang sayangnya, yang berduit banyak biasanya sibuk untuk bikin duit lebih banyak lagi, dengan bikin film-film yang berselera &#039;PASAR&#039;. Kalau di Indonesia, ya film-film hantu dan komedi lagi laku, dibuatlah fim-film itu melulu. Sayangnya, jarang film-film &#039;pasar&#039; ini bisa ditulis dengan baik, akhirnya yang keluar adalah film-film tipikal, yang itu-itu lagi, dan tidak jarang diambil dari template cerita yang sudah ada, karakter yang klise. Bahkan seringkali tiruan dari film-film yang telah ada.

Masalahnya utamanya, bukan apakah sebuah film itu &#039;independen&#039; atau &#039;industri&#039;, tapi bagaimana kita bisa bikin karya yang baik. Karena banyak juga film independen yang ditulis sembarangan, diproduksi serampangan. Ya pastinya susah merebut perhatian penonton.

Jangankan Scorsese, Antonioni dan Bertolucci pun sebenarnya pernah bergerak di dua jalur ini (independen maupun industri), hasil bagus tidaknya lagi-lagi bagaimana pasar (dan pasar yang mana) yang saat itu menilai. Asyiknya (atau malang buat kita kali ya), they don&#039;t give a damn. Orang-orang ini macam seniman, yang penting mereka senang atau tidak membuat film itu. Blow Up, yang disebut-sebut sebagai karya masterpiece Antonioni, adalah karya yang sebenarnya paling tidak dia sukai.

Banyak film independen yang dibuat semaunya sendiri, tidak komunikatif (walau arti komunikatif bisa bercabang juga, sangat subyektif), tapi anggaplah &#039;komunikatif&#039; dalam arti &#039;bisa bicara dengan orang banyak&#039;. Kenapa saya salut pada band Efek Rumah Kaca misalnya, karena mereka percaya bahwa &#039;pasar bisa diciptakan&#039; oleh musik mereka, dan bukan sebaliknya. Mereka pun berhasil membuktikan itu. Musik segar, konten bagus. Film Indonesia harus banyak belajar pada scene musik negeri sendiri. Termasuk dari segi distribusi, promosi. Tapi masalahnya, ongkos produksi pembuatan film berpuluh-puluh kali lipat pembuatan album musik. Itu fakta yang tidak bisa dihindari.

Kalau bicara masalah kesuksesan sebuah karya, saya rasa relatif banget. Kita bisa bilang bahwa film-film semacam Eliana, Eliana sukses berat di dunia festival, dapat penghargaan sana-sini, bahkan dibeli oleh distributor AS (Facets). Tapi ketika dipasang di bioskop Indonesia, jauh dari menguntungkan. Lagi-lagi pasar vs idealisme. Idealnya memang, adalah menjembatani kedua dunia tersebut. Dan itu, tantangan yang berat, apalagi untuk dunia perfilman Indonesia yang memang baru saja bangun dari mati surinya. Tapi beberapa film saya nilai sudah berhasil melakukannya,  ada Berbagi Suami, Janji Joni, Laskar Pelangi. Berisi, produksi baik, dan menguntungkan di pasaran.

Kita lihat saja, saya rasa pada saatnya nanti film independen akan berbaur dengan film arus utama, di mana konten akan membaik, kualitas pun juga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8216;Independen&#8217; atau tidak kan sebenarnya hanya pelabelan dalam hal proses produksi (dan pemasaran). Bahwa independen itu berarti di luar jalur yang sudah mapan, di mana sebutan &#8216;mapan&#8217; di sini biasanya melalui jalur studio/rumah produksi yang sudah besar dan mampu memproduksi lebih dari 3-4 film setahunnya. Memang sayangnya, yang berduit banyak biasanya sibuk untuk bikin duit lebih banyak lagi, dengan bikin film-film yang berselera &#8216;PASAR&#8217;. Kalau di Indonesia, ya film-film hantu dan komedi lagi laku, dibuatlah fim-film itu melulu. Sayangnya, jarang film-film &#8216;pasar&#8217; ini bisa ditulis dengan baik, akhirnya yang keluar adalah film-film tipikal, yang itu-itu lagi, dan tidak jarang diambil dari template cerita yang sudah ada, karakter yang klise. Bahkan seringkali tiruan dari film-film yang telah ada.</p>
<p>Masalahnya utamanya, bukan apakah sebuah film itu &#8216;independen&#8217; atau &#8216;industri&#8217;, tapi bagaimana kita bisa bikin karya yang baik. Karena banyak juga film independen yang ditulis sembarangan, diproduksi serampangan. Ya pastinya susah merebut perhatian penonton.</p>
<p>Jangankan Scorsese, Antonioni dan Bertolucci pun sebenarnya pernah bergerak di dua jalur ini (independen maupun industri), hasil bagus tidaknya lagi-lagi bagaimana pasar (dan pasar yang mana) yang saat itu menilai. Asyiknya (atau malang buat kita kali ya), they don&#8217;t give a damn. Orang-orang ini macam seniman, yang penting mereka senang atau tidak membuat film itu. Blow Up, yang disebut-sebut sebagai karya masterpiece Antonioni, adalah karya yang sebenarnya paling tidak dia sukai.</p>
<p>Banyak film independen yang dibuat semaunya sendiri, tidak komunikatif (walau arti komunikatif bisa bercabang juga, sangat subyektif), tapi anggaplah &#8216;komunikatif&#8217; dalam arti &#8216;bisa bicara dengan orang banyak&#8217;. Kenapa saya salut pada band Efek Rumah Kaca misalnya, karena mereka percaya bahwa &#8216;pasar bisa diciptakan&#8217; oleh musik mereka, dan bukan sebaliknya. Mereka pun berhasil membuktikan itu. Musik segar, konten bagus. Film Indonesia harus banyak belajar pada scene musik negeri sendiri. Termasuk dari segi distribusi, promosi. Tapi masalahnya, ongkos produksi pembuatan film berpuluh-puluh kali lipat pembuatan album musik. Itu fakta yang tidak bisa dihindari.</p>
<p>Kalau bicara masalah kesuksesan sebuah karya, saya rasa relatif banget. Kita bisa bilang bahwa film-film semacam Eliana, Eliana sukses berat di dunia festival, dapat penghargaan sana-sini, bahkan dibeli oleh distributor AS (Facets). Tapi ketika dipasang di bioskop Indonesia, jauh dari menguntungkan. Lagi-lagi pasar vs idealisme. Idealnya memang, adalah menjembatani kedua dunia tersebut. Dan itu, tantangan yang berat, apalagi untuk dunia perfilman Indonesia yang memang baru saja bangun dari mati surinya. Tapi beberapa film saya nilai sudah berhasil melakukannya,  ada Berbagi Suami, Janji Joni, Laskar Pelangi. Berisi, produksi baik, dan menguntungkan di pasaran.</p>
<p>Kita lihat saja, saya rasa pada saatnya nanti film independen akan berbaur dengan film arus utama, di mana konten akan membaik, kualitas pun juga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: gaston castano</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62&#038;cpage=1#comment-337</link>
		<dc:creator>gaston castano</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 14:01:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=62#comment-337</guid>
		<description>@Putut Baruno
sepakat bos. komunitas film di kita juga selalu mendandani dirinya dengan berbagai atribut so called FINE ART sehingga terlihat &#039;menyeramkan&#039; bagi orang awam yang tidak into ART tetapi senang dan ingin tahu lebih banyak tentang film. jadi, ya sangat disayangkan dengan pemasangan atribut2 seperti itu malah terkesan seperti katak yang bikin tempurungnya sendiri.
mengenai film sebagai pendamping buku pelajaran, kayaknya ga selalu harus deh..soalnya klo gt film2 paling bagus sedunia dan masterpiece sepanjang masa kayak Salo 120 days of sodom ga kan tercipta lagi.hehe.. 

@Penulis
sbnernya kan film yg dibutuhkan itu film yg bagus kan bukan film independen??so why bother??klo memang opini publik yg tercipta seperti itu ya sudahlah,mungkin memang di negara kita jalan menuju industri film yg well-established bkn seperti itu.
mengenai hilangnya idealisme karya dan sejenisnya, menurut saya itu hanya masalah referensi.sineas indie kita yg saya lihat,kbanyakn memang terlalu berkiblat ke film2 yg sukses secara komersial (baca:Hollywood). saya yakin ko klo aja karya2 Orson Welles,felini,truffaut, bresson,bergman,lynch,bunuel,tarkovski dll MUDAH DIAKSES,(baca:murah,dan tersedia bajakannya dimanamana+di hype media dengan baik) film2 indie kita bkalan bagus2.

ps: murah disini bukan sindiran ataupun kritikan terhadap harga rental film rumah buku yang memang kemahalan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Putut Baruno<br />
sepakat bos. komunitas film di kita juga selalu mendandani dirinya dengan berbagai atribut so called FINE ART sehingga terlihat &#8216;menyeramkan&#8217; bagi orang awam yang tidak into ART tetapi senang dan ingin tahu lebih banyak tentang film. jadi, ya sangat disayangkan dengan pemasangan atribut2 seperti itu malah terkesan seperti katak yang bikin tempurungnya sendiri.<br />
mengenai film sebagai pendamping buku pelajaran, kayaknya ga selalu harus deh..soalnya klo gt film2 paling bagus sedunia dan masterpiece sepanjang masa kayak Salo 120 days of sodom ga kan tercipta lagi.hehe.. </p>
<p>@Penulis<br />
sbnernya kan film yg dibutuhkan itu film yg bagus kan bukan film independen??so why bother??klo memang opini publik yg tercipta seperti itu ya sudahlah,mungkin memang di negara kita jalan menuju industri film yg well-established bkn seperti itu.<br />
mengenai hilangnya idealisme karya dan sejenisnya, menurut saya itu hanya masalah referensi.sineas indie kita yg saya lihat,kbanyakn memang terlalu berkiblat ke film2 yg sukses secara komersial (baca:Hollywood). saya yakin ko klo aja karya2 Orson Welles,felini,truffaut, bresson,bergman,lynch,bunuel,tarkovski dll MUDAH DIAKSES,(baca:murah,dan tersedia bajakannya dimanamana+di hype media dengan baik) film2 indie kita bkalan bagus2.</p>
<p>ps: murah disini bukan sindiran ataupun kritikan terhadap harga rental film rumah buku yang memang kemahalan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: assry rahmatika</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62&#038;cpage=1#comment-321</link>
		<dc:creator>assry rahmatika</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 14:21:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=62#comment-321</guid>
		<description>gmn caranya mau gabung..bisa ga?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>gmn caranya mau gabung..bisa ga?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Putut Baruno</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62&#038;cpage=1#comment-290</link>
		<dc:creator>Putut Baruno</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 06:58:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=62#comment-290</guid>
		<description>menurut saya Para sineas independen hanya mementingkan pencurahan idealisme sebagai ekspresi seninya saja. Apa yang dibuat tidak berdampak bagi masyarakat umum. Seharusnya, dengan adanya teknologi film digital saat ini harapan untuk membuat film yang bermanfaat bagi pembelajaran sebagai sarana mendamping buku pelajaran dapat diupayakan. Komunitas film harus berguna bagi masyarakat, tidak pate&#039;an dengan kepentingan komunitasnya sendiri seperti katak dalam tempurung.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurut saya Para sineas independen hanya mementingkan pencurahan idealisme sebagai ekspresi seninya saja. Apa yang dibuat tidak berdampak bagi masyarakat umum. Seharusnya, dengan adanya teknologi film digital saat ini harapan untuk membuat film yang bermanfaat bagi pembelajaran sebagai sarana mendamping buku pelajaran dapat diupayakan. Komunitas film harus berguna bagi masyarakat, tidak pate&#8217;an dengan kepentingan komunitasnya sendiri seperti katak dalam tempurung.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: djarwo</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=62&#038;cpage=1#comment-68</link>
		<dc:creator>djarwo</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 10:06:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=62#comment-68</guid>
		<description>ikuti festival film independen 3
s.cream with the film (seni kreasi ank muda mllui film)
pndaftran: 16maret-9mei 2009
biaya : 40rb
malam puncak : 25 mei 2009
htm 5rb
FE UII condong catur jogjakarta
cp:08562911298</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ikuti festival film independen 3<br />
s.cream with the film (seni kreasi ank muda mllui film)<br />
pndaftran: 16maret-9mei 2009<br />
biaya : 40rb<br />
malam puncak : 25 mei 2009<br />
htm 5rb<br />
FE UII condong catur jogjakarta<br />
cp:08562911298</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
