<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Buku/Kineruku Webzine</title>
	<atom:link href="http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zine.rukukineruku.com</link>
	<description>Jl. Hegarmanah 52 Bandung, Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 04:50:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>[Reportase] Dua Kunang-kunang yang Hinggap di Beranda</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3309</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3309#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 03:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3309</guid>
		<description><![CDATA[Teras belakang disulap menjadi panggung teater, berupa apartemen lengkap dengan dapur, kulkas, sofa [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3309">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pasangan itu duduk bermalas-malasan di sofa. Si perempuan memakai gaun terusan oranye, si laki-laki memakai kemeja putih dan celana pantalon bergaris. Mereka seperti habis kondangan. Masing-masing menggenggam segelas minuman. Kaki si perempuan naik ke meja, pandangannya tertuju ke jendela.</p>
<p>&#8220;Bulan itu <em>ungu</em>, Marno.&#8221;</p>
<p>Kalimat tersebut mengawali pementasan <em>Seribu Kunang-kunang di Manhattan </em>yang diselenggarakan mainteater di Rumah Buku/Kineruku, Sabtu (28/8). Malam itu beranda berfungsi sebagai panggung; berubah menjadi apartemen lengkap dengan dapur, kulkas, sofa, meja, gantungan mantel, serta &#8216;jendela&#8217; lengkap dengan satu pot kaktus dan sansevieria. Para hadirin menyaksikan pertunjukan sambil duduk di terpal besar yang digelar di atas taman rumput.</p>
<p>Lakon arahan sutradara Wawan Sofwan ini diadaptasi dari cerpen &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221; karya Umar Kayam. Nathalie Pfeiffer dan Deden Syarief memerankan Jane dan Marno, dua kekasih berbeda bangsa yang terdampar di sebuah apartemen di New York. Dipengaruhi alkohol, Jane tak dapat berhenti membicarakan Tommy, laki-laki yang pernah ada di sisinya. Sementara itu, pikiran Marno melayang jauh sampai ke tanah air. Gemerlap lampu kota membuatnya teringat akan kunang-kunang di sawah embahnya. Pembicaraan Jane tentang <em>mainan kekasih</em> mengingatkan Marno kepada anak yang ditinggalkannya.</p>
<p>Menyimak interaksi keduanya, pelan-pelan penonton akan mengerti kalau pasangan ini telah sampai di penghujung hubungannya. Jane mengeluh karena Marno tidak bisa membuat martini. Mereka tidak sepakat soal apakah warna bulan ungu atau kuning keemasan. Hampir semua cerita Jane telah didengar Marno. Si laki-laki Jawa menghitung kerbaunya sebagai <em>mainan</em>, padahal bagi si perempuan Amerika itu <em>peliharaan</em>.</p>
<p>Di dalam cerpen, Marno dan Jane kelihatan tak cocok dalam segala hal. Wajar jika kisah mereka berakhir dengan perpisahan. Namun sebetulnya para pembaca tak pernah tahu apa yang terlintas di benak dua orang ini. Nirwan Dewanto pernah mengulas &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221; di majalah <em>Tempo </em>edisi 29 April 2002, &#8220;(Cerpen ini) memukau lantaran si pengarang hampir tak mengatakan apa-apa tentang raut dan riwayat tokoh, juga latar dan alasan kejadian … ia tak memasuki kedalaman psikologis dan biografi tokohnya. Marno dan Jane adalah sosok konkret yang tak memerlukan campur tangan pengarang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada sesuatu yang hilang dan tidak lengkap di dalamnya,&#8221; tulis Nirwan. Ini membuat, &#8220;(Pembaca) merangkai sendiri suasana, rinci tempat dan peristiwa di antara laku dan tuturan para tokohnya … kita mereka-reka apa yang terjadi sebelum dan setelah &#8220;adegan&#8221; pada malam itu.&#8221; Dengan demikian &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221; membuka banyak pintu interpretasi.</p>
<p>Itulah yang tak terasa saat menyaksikan pementasan <em>Seribu Kunang-kunang di Manhattan</em> malam itu. Wawan Sofwan dkk. memang cukup setia pada cerpen yang sebagian besar terdiri dari dialog ini. Namun, tentu saja, naskah dipentaskan berdasarkan interpretasi mereka sendiri. Penonton lantas mendapatkan suguhan cerita perselingkuhan yang dipicu kesepian urban; saat laki-laki pergi karena bosan mendengarkan ocehan perempuan yang berputar-putar di tempat yang sama. Cerita ini dibalut eksotika New York, minuman keras, asap rokok, dekorasi panggung, dan pakaian yang penuh gaya.</p>
<p>Di atas panggung, sejak awal Marno tampak malas menanggapi Jane. Ia judes dan dingin. Sulit untuk ikut larut dalam kegelisahannya. Ketika Jane menyebutnya &#8216;anak desa yang sentimental&#8217;, Marno berteriak &#8220;BIAR!&#8221;. Lelaki itu kaget sendiri, lalu menyesal dan sibuk minta maaf. Sayangnya momen yang seharusnya klimaks itu menjadi tak kesampaian sebab setiap kata yang terlontar dari mulut Marno sebelumnya sudah telanjur bernada tinggi.</p>
<p>Sementara itu, penonton yang pernah membaca cerpen &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221; tentu memiliki interpretasinya masing-masing. Misalnya, bisa saja malam itu ada yang berpikiran sebetulnya kehadiran Marnolah yang membuat Jane terus membicarakan Tommy. Melihat laki-laki asing di sebelahnya, Jane membayangkan laki-laki yang dicintainya ada di suatu negeri yang asing. Begitupun sebaliknya. Melihat penderitaan Jane karena ditinggalkan suaminya, Marno teringat sang istri yang tidak bersamanya. Persilatan lidah, perbedaan bangsa dan kebudayaan yang muncul sepanjang cerita menjadi tak penting lagi. Toh masing-masing saling mengingatkan yang lain kepada sosok-sosok yang pernah mengisi hidup mereka. Kesadaran inilah yang mengakhiri hubungan pasangan ini.</p>
<p>Apabila penonton memaknai cerita seperti itu, tentunya ia akan jengah melihat bagaimana Marno memperlakukan Jane seperti radio setengah rusak: dinyalakan tetapi tidak didengarkan. Di buku <em>Mengarang Itu Gampang</em>, Arswendo Atmowiloto juga membahas cerpen ini. Menanggapi akhirannya, ia bertanya-tanya, &#8220;Kenapa Marno pergi meninggalkan Jane? Ia bukan tidak mencintai, bukan tidak memuja, bukan tidak membutuhkan. Di negeri orang yang begitu sepi, Jane yang ditinggalkan suaminya juga mengalami kesepian hati seperti Marno&#8212;walaupun laki-laki itu tak becus meramu minuman keras.&#8221;</p>
<p>Wawan Sofwan merupakan aktor dan sutradara berpengalaman yang telah mengisi panggung-panggung teater di berbagai belahan dunia. Tentang &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221;, ia mengaku sudah lama ingin mementaskannya. Namun keinginan ini kerap terhalang oleh sulitnya menemukan aktris yang tepat untuk memerankan tokoh Jane. &#8220;Kalau dimainkan oleh orang Indonesia rasanya kurang pas,&#8221; ujar Wawan. Sampai suatu hari mainteater kedatangan Nathalie Pfeiffer, seorang mahasiswa Jerman yang magang di sana untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesianya. &#8220;Salah satu tujuan pementasan ini adalah memperlancar bahasa Indonesia Nathalie. Dia mengaku lebih pintar menulis daripada berbicara. Dengan bermain teater, mau nggak mau dia harus berbicara.&#8221;</p>
<p>Sebelum dimulainya pementasan, Ariani Darmawan dari Rumah Buku/Kineruku sempat memberikan pengantar, &#8220;Ide tentang pentas ini muncul ketika sedang mengobrol di beranda. Kami pikir beranda ini enak juga buat dimanfaatkan sebagai panggung pentas.&#8221; Beranda sebagai panggung dirasa cukup mengakomodasi tujuan pementasan yang memang diniatkan hanya untuk publik terbatas. Setelah melakukan persiapan selama kurang dari dua minggu, pementasan pun diselenggarakan. Persiapan dilakukan dalam waktu yang singkat sebab Nathalie Pfeiffer mesti meninggalkan Indonesia dua hari setelah pementasan.</p>
<p>Di hari H, panggung yang terbuka, lokasi Rumah Buku/Kineruku yang berada di pinggir jalan, membuat bunyi deru sepeda motor, ledakan petasan dan kembang api di kejauhan masuk dengan leluasa. Terkadang volume iringan biola Johan pun terdengar terlalu keras. Beberapa dialog meleset dari telinga penonton. Meski demikian, Nathalie memang cocok memerankan Jane. Usahanya menyampaikan dialog berbahasa Indonesia cukup menarik simpati. Setelah pementasan ini Wawan menyatakan keinginannya untuk mementaskan lagi lakon <em>Seribu Kunang-kunang di Manhattan</em> dengan persiapan lebih serius. &#8220;Kami akan mencari-cari lagi aktris yang bisa memerankan Jane.&#8221;</p>
<p>Umar Kayam menulis cerita pendek “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” ketika melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat. Sepanjang tahun 1961-1963, berbekal beasiswa ia beserta keluarganya menempati sebuah kamar murah di New York. Mereka bertetangga dengan perempuan pemabuk yang kerap berteriak, “<em>I hate garlic</em>!” setiap kali keluarga Kayam memasak menggunakan bawang putih (<em>Tempo</em>, 29 April 2002). Ibu dari perempuan itu adalah janda tua yang apabila hari gerah akan mengetuk pintu dan minta tolong supaya kutangnya dikendurkan. Ketika musim panas tiba, keluarga Kayam tak sanggup membeli pendingin ruangan. Biar sejuk, Umar Kayam sering membuka pintu kulkas dan mengetik cerpen di depannya.</p>
<p>Mungkin kesumpekan itu yang menginspirasi Umar Kayam menulis cerita-cerita tentang warga pinggiran di New York. Tahun 1963, di usianya yang ketiga puluh satu, Umar Kayam meraih gelar masternya. Ia lalu melanjutkan studi doktoralnya dalam bidang Sosiologi di Universitas Cornell, Ithaca. &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221; mendapatkan penghargaan cerpen terbaik dari majalah sastra <em>Horison</em> pada tahun 1968. Empat tahun kemudian, &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221; terbit bersama lima cerpen lainnya dalam antologi cerita pendek berjudul sama. Tahun 1999, Yayasan Obor Indonesia menerbitkan buku berisi cerpen tersebut dalam tiga belas bahasa daerah.</p>
<p>Umar Kayam menutup cerpen &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221; dengan lembut: &#8220;<em>Di kamarnya, di tempat tidur, sesudah beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah</em>.&#8221; Membaca kalimat ini, timbul kesedihan yang tak jelas juntrungannya. Lain halnya dengan adegan penutup pementasan yang dramatis: Jane berlari mengejar Marno. Sia-sia, perempuan itu lalu menyalakan keran air dan terisak-isak. Adegan ini menggambarkan bahwa yang ditangisi Jane adalah kepergian Marno. Kegagalannya mempertahankan laki-laki menyebalkan itu di sisinya.</p>
<p>Sampai di sini penonton pun mafhum, mengadaptasi &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221; bukan perkara mudah.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Andika Budiman</strong>]</p>
<p style="text-align: left;">(<em>Foto oleh Nia Janiar</em>)</p>
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%5BReportase%5D+%3Cb%3EDua+Kunang-kunang+yang+Hinggap+di+Beranda%3C%2Fb%3E+http://bpbge.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%5BReportase%5D+%3Cb%3EDua+Kunang-kunang+yang+Hinggap+di+Beranda%3C%2Fb%3E+http://bpbge.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3309</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Cinematic Orchestra: Rumah untuk Musik yang Indah</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3281</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3281#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 05:02:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3281</guid>
		<description><![CDATA[Lirik puitis dan hemat kata memberi ruang luas untuk diisi dengan musik dan bebunyian imajinatif [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3281">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beginilah cara album ini membangkitkan indra dan imajinasiku: Setelah mengopi album ini dari Guntur, di tengah malam aku dengar intro piano dari lagu pertama yang sangat hening, lembut, bertempo lambat, emosional, sampai perhatianku tersita seluruhnya untuk menyimak semua lagu di dalamnya. Di lagu berjudul &#8220;To Build A Home&#8221; itu sang vokalis melantunkan lirik ini:</p>
<p><em>There is a house built out of stone<br />
Wooden floors, walls and window sills<br />
</em><em>Tables and chairs worn by all of the dust<br />
This is a place where I don&#8217;t feel alone<br />
This is a place where I feel at home</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>And I built a home</em><em><br />
For you<br />
For me</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Until it disappeared</em><em><br />
From me<br />
From you</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>And now, it&#8217;s time to leave and turn to dust</em></p>
<p>Seminggu kemudian aku mendapati diriku sudah sulit melepaskan album <em>Ma Fleur</em> karya The Cinematic Orchestra ini dan terus-menerus menyertakannya dalam <em>playlist</em> di urutan pertama. Ini album gila, aku bilang pada diri sendiri; sempurna, tanpa cacat sama sekali. Aku membagi kesenangan penemuan ini pada Budi Warsito. Terlambat, ternyata dia sudah dari dulu membeli CD album ini dan menyimpannya agar bisa dipinjam anggota Rumah Buku/Kineruku. Menurut dia, lagu &#8220;To Build a Home&#8221; terdengar seperti menyadari bahwa &#8220;sesuatu yang perlahan-lahan runtuh, sekeras apapun usaha kita mempertahankannya.&#8221; Karenanya lagu itu sedih sekaligus indah.</p>
<p><em>Sleeve</em> album ini dilengkapi koleksi fotografi karya Maya Hayuk berupa studi terhadap ruang dan suasana tanpa manusia. Foto itu secara konsep disesuaikan dengan setiap lagu, meski penafsirannya bisa jadi terlalu imajinatif. Foto-foto itu sangat bagus sebagaimana sudah tampak dari covernya. Rumah Buku/Kineruku mengoleksi satu lagi albumnya, yaitu <em>Remixes 1998-2000</em> (2000). Segera aku merasa harus tahu tentang The Cinematic Orchestra.</p>
<p>Ensembel musik ini didirikan dan dipimpin oleh Jason Swinscoe pada akhir dekade 1990-an. Jason seorang komposer, sekaligus DJ dan multi instrumentalis. Ini membuat musik The Cinematic Orchestra merupakan paduan antara musik elektronika dan jazz, menghasilkan kategori yang masuk ke dalam genre downtempo &amp; pop, namun penuh improvisasi. Grup ini juga secara konsisten menghasilkan nomor instrumental, dan karena itu wajar bila mereka juga banyak terlibat dalam proyek <em>soundtrack</em> untuk beberapa film, baik nyata maupun imajiner. Yang paling terkenal adalah ketika mereka menggarap ulang iringan musik untuk film dokumenter bisu legendaris tahun 1929 karya Dziga Vertov, <em>Man with a Movie Camera</em>.</p>
<p>Dari namanya, terbayang betapa musik band ini pasti sinematik, mengawang-awang, imajinatif, bernuansa membius. Kadar pop yang hadir dalam <em>Ma Fleur</em> masih belum bisa meredam pengaruh jazz yang terdengar terlalu kuat, apalagi di nomor-nomor instrumental. Untuk mendukung konsepnya, Jason mendapat sokongan dari musisi yang kini terdiri dari PC (Patrick Carpenter) di <em>turntables</em>, Luke Flowers (drums), Tom Chant (Saxophone), Nick Ramm (piano), Stuart McCallum (guitar), dan Phil France (double bass). Di album-album awal, grup ini pernah didukung oleh Jamie Coleman (trumpet), T. Daniel Howard (drums), Federico Ughi (drums), juga Alex James (piano). Di luar itu, The Cinematic Orchestra juga sangat terasa memasukkan unsur string dan orkestra. Tampaknya <em>Ma Fleur</em> (artinya &#8220;Bungaku&#8221; dalam bahasa Prancis) merupakan album konsep tentang kasih sayang, terutama di keluarga dan rumah. Di situ ada cerita tentang kehidupan, anak-anak, cinta, debu, mimpi, juga  rasa sakit, namun akrab dan menyatu. Di lagu &#8220;That Home&#8221;, ini dikuatkan lagi dalam kalimat:</p>
<p><em>This is a place where I don&#8217;t feel alone<br />
This is a place that I call my home&#8230; </em></p>
<p>Album ini sangat kontemplatif. Nuansanya ngelangut (<em>dreamy</em>), apalagi semua lagu berliriknya bertempo lambat. Dari <em>track</em> ke <em>track</em> kita seperti berada dalam sepenggal suasana pagi cerah yang optimistik. Perasaan ini makin kuat karena semua <em>track</em>-nya diselang-selingi oleh nomor instrumentalia, sementara lirik puitis dan hemat kata memberi ruang luas untuk diisi dengan musik dan bebunyian imajinatif. Nomor instrumentalia yang hebat dari album ini ialah &#8220;Child Song&#8221; dan &#8220;As The Stars Fall.&#8221;  Album ini segera mengingatkan aku pada <em>The Dark Side of the Moon</em> dari Pink Floyd, meski karakter aliran dan nuansanya tentu sangat lain. <em>The Dark Side of the Moon</em> sangat depresif dan menyatakan kemarahan yang jelas, sementara <em>Ma Fleur</em> lebih optimistik dan tenang.</p>
<p>Dalam <em>Ma Fleur</em> The Cinematic Orchestra menghadirkan vokalis tamu Patrick Watson, Lou Rhodes, dan Fontella Bass untuk menyanyikan lagu berlirik. Watson ialah penyanyi asal Kanada, sementara Rhodes dahulu terkenal sebagai vokalis grup Lamb, dan Bass merupakan penyanyi tua (pernah melahirkan hits R&amp;B terkenal &#8220;Rescue Me&#8221; di tahun 1965) yang <em>comeback</em> dengan sempurna setelah jadi pilihan utama Swincoe sejak album <em>Every Day</em> (2002).</p>
<p>Demi kesempurnaan, dengarkanlah album ini utuh dari awal sampai akhir, meski orang&#8212;atau untuk keperluan radio dan video&#8212;pasti jatuh cinta pada lagu pertamanya, yaitu &#8220;To Build A Home&#8221; yang liriknya ada di awal <em>review</em> ini. Perhatikan betapa mereka memilih &#8216;<em>home</em>&#8216; yang mengacu pada keluarga, menghadirkan rasa aman, dan nonfisikal, daripada &#8216;<em>house</em>&#8216; yang fisikal.</p>
<p>Segera setelah pengalaman mendengarkan album <em>Ma Fleur, </em>secara bertahap aku mulai mendengar seluruh album studio mereka.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Anwar Holid</strong>]</p>
<p style="text-align: left;">[MP3]<br />
<strong><a href="http://www.mediafire.com/?9elwp2b8rakwbb8" target="_blank">The Cinematic Orchestra feat. Patrick Watson &#8211; &#8220;To Build a Home&#8221;</a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?r54838d1c2x76hq" target="_blank">The Cinematic Orchestra feat. Fontella Bass &#8211; &#8220;Breathe&#8221;</a></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Ma Fleur</em></strong><br />
The Cinematic Orchestra<br />
(Ninja Tune, 2007)<br />
Downtempo, Pop, Jazz, Electronica<br />
11 track, 54 menit 17 detik</p>
<p>Selain <em><strong>Ma Fleur</strong>, </em>Rumah Buku/Kineruku juga mengoleksi album The Cinematic Orchestra lainnya, yaitu <strong><em>Remixes 1998-2000</em></strong>. Selengkapnya klik di <a href="http://library.rukukineruku.com" target="_blank"><strong>sini</strong></a>.</p>
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3EThe+Cinematic+Orchestra%3C%2Fb%3E%3A+Rumah+untuk+Musik+yang+Indah+http://9apzs.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3EThe+Cinematic+Orchestra%3C%2Fb%3E%3A+Rumah+untuk+Musik+yang+Indah+http://9apzs.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3281</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telah Terbit! Keep Your Hand Moving (Anwar Holid, 2010)</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3248</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3248#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 05:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3248</guid>
		<description><![CDATA[Kontributor tetap kami, Anwar Holid, menerbitkan buku tentang panduan menulis, mengedit, dan memolesnya [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3248">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Keep Your Hand Moving: Panduan Menulis, Mengedit, dan Memolesnya</strong></em><br />
(Anwar Holid, GPU, 2010)</p>
<p>Banyak orang suka menulis, tapi caranya kerap sembarangan, mengabaikan aturan, sementara mereka buta standar umum yang berlaku, padahal ingin tulisan itu dibaca massa.</p>
<p>Buku ini berusaha fokus meningkatkan kemampuan menulis, mengajak orang menulis sesuai maksud, ekspresif, dan rapi. Mula-mula dengan berusaha membangkitkan saraf dan kebiasaan menulis, berani mewujudkan ide jadi tulisan yang utuh, enak dibaca, layak publikasi. Penulis juga perlu mampu menilai, menganalisis, dan mengedit karya sendiri, melenturkan tulisan atau menggayakan cara bertutur agar lebih hebat dan bertenaga. Ujungnya mengingatkan dan menyemangati untuk mau belajar dari karya orang lain, pantang menyerah, dan terus menciptakan karya terbaik.</p>
<p>Penulis yang hebat biasanya berani melampiaskan ekspresi agar mampu menemukan kekuatan khas dirinya. Ia mau berkompromi terhadap standar umum penulisan, memperhatikan kepentingan pembaca untuk menghasilkan karya yang jernih, eksploratif, kuat.</p>
<p>Naskah buku ini berasal dari workshop penulisan dengan guru Anwar Holid, ditambah bahan dari <em>talkshow</em> dan diskusi.</p>
<p style="text-align: center;">
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/09/KYHM_.jpg"><img class="size-full wp-image-3289 alignleft" title="KYHM_" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/09/KYHM_.jpg" alt="" width="202" height="253" /></a><span style="color: #ffffff;">* * *</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">* * *</span></p>
<p><strong>Keep Your Hand Moving: Panduan Menulis, Mengedit, dan Memolesnya<br />
</strong> Penulis: Anwar Holid<br />
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU), 2010<br />
Halaman: 160 hal.; format: 13.5 x 17 cm<br />
Kategori: Nonfiksi; Penulisan; Pengembangan Diri dan Inspirasional<br />
ISBN: 978-979-22-5844-8<br />
Harga: Rp 35.000,-</p>
<p><span style="color: #ffffff;">* * *</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">* * *</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">* * *</span></p>
<p style="text-align: center;">
<address> </address>
<p><span id="more-3248"></span></p>
<p>&#8220;<em>Setiap kali menulis, Anwar bukan sedang memaparkan teori. Dia senantiasa menuliskan pengalamannya. Inilah yang menarik dari tulisan Anwar. Concern-nya terhadap buku dan dua kegiatan yang mengiringinya&#8212;yaitu membaca dan menulis&#8212;sangat besar. Saya yakin dunia baca-tulis Indonesia akan bertambah semarak dengan kehadiran buku ini. Selayaknyalah buku ini dibaca oleh orang-orang yang ingin mencintai dan mengembangkan dunia membaca-menulis</em>.&#8221;<br />
&#8212;Hernowo, penggairah dan penggerak kegiatan membaca dan menulis, penulis <em>Mengikat Makna Update</em>.</p>
<p>&#8220;<em>Saya menikmati membaca tulisan Anwar Holid. Tulisannya seolah menari, meliuk, dan membuat otak di kepala kita juga ikut menari, mencoba untuk menikmati paparan-paparannya. Dengan buku ini ia membuka resep untuk menulis yang bisa menari-nari. Buku yang pasti akan sangat berguna untuk para penulis pemula, tetapi juga jadi vitamin tambahan untuk para penulis yang telah lama bergelut dalam dunia kata-kata</em>.&#8221;<br />
&#8212;Ignatius Haryanto, peneliti media dan penulis; Direktur LSPP &amp; Mochtar Lubis Award.</p>
<p>&#8220;<em>Menjadi penulis adalah pekerjaan yang membahagiakan. Anda bisa mengungkapkan isi hati, berbagi, memberi inspirasi bahkan hidup lebih panjang dari usia Anda yang sesungguhnya. Ingin tahu caranya? Dalam buku ini Anwar Holid membeberkan rahasia menjadi penulis yang andal, sukses, dan penuh inspirasi.</em>&#8221;<br />
&#8212;Arvan Pradiansyah, penulis bestseller <em>The 7 Laws of Happiness</em>, Host talkshow &#8220;Smart Happiness&#8221; di SmartFM Network.</p>
<p>&#8220;<em>Buku ini seperti menutup mulut orang yang menyatakan punya sejuta ide menulis tapi tidak pernah menuliskannya. Lewat buku ini Anwar Holid ingin mengalirkan energi untuk membuat orang terus menggerakkan tangannya dan menghasilkan permata. Sebuah buku dibuat dari susunan kalimat, Anda mau tahu rahasianya? Keep Your Hand Moving!</em>&#8221;<br />
&#8212;Adenita, penulis novel bestseller <em>9 Matahari</em>; nominee Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Award 2009.</p>
<p>&#8220;<em>Anwar Holid adalah seorang penyelam yang tekun di samudera penulisan yang luas. Dia tak hanya berenang untuk kesenangan pribadi, tapi membawa mutiara-mutiara indah dari dasar samudera untuk disaksikan orang banyak. Buku ini adalah sekumpulan mutiara cara, kiat, teknik, atau apa pun istilahnya, mengenai sebuah samudera raksasa bernama &#8220;penulisan&#8221;. Begitu bisa mengenali mutiara-mutiara yang dibawa Anwar, Anda akan segera tertarik untuk menjadi penyelam berikutnya dan memunguti sendiri mutiara-mutiara itu</em>.&#8221;<br />
&#8212;Akmal Nasery Basral, penulis.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Dapatkan buku <em>Keep Your Hand Moving </em>di <a href="http://rukukineruku.com"><strong>Rumah Buku/Kineruku</strong></a>.<br />
Kunjungi <a href="http://halamanganjil.blogspot.com" target="_blank"><strong>blog</strong></a> Anwar Holid, atau <a href="http://www.facebook.com/anwar.holid" target="_self"><strong>berkenalan</strong></a> dengannya.</p>
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3ETelah+Terbit%21%3C%2Fb%3E+%3Ci%3EKeep+Your+Hand+Moving%3C%2Fi%3E+%28Anwar+Holid%2C+2010%29+http://nphew.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3ETelah+Terbit%21%3C%2Fb%3E+%3Ci%3EKeep+Your+Hand+Moving%3C%2Fi%3E+%28Anwar+Holid%2C+2010%29+http://nphew.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3248</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Cinta Sebuah Seni?</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3244</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3244#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 10:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3244</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Erich Fromm, masyarakat kontemporer yang hidup di zaman kapitalis menempatkan cinta sebagai objek dan sikap narsistik [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3244">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu saya selalu berpikir bahwa untuk membuat sebuah karya sastra yang hebat harus selalu dibangun melalui pengalaman yang otentik. Maksudnya begini. Saya percaya bahwa maha-karya tetralogi <em>Bumi Manusia</em> karangan Pramoedya Ananta Toer tentu tak dibangun &#8220;hanya&#8221; melalui sebentuk proses kontemplatif Pram semata. Tapi pengalaman ia semasa menjadi tahanan politik di Pulau Buru tentu berpengaruh besar lahirnya maha-karya tersebut. Atau contoh lainnya karya <em>Laskar Pelangi</em>-nya Andrea Hirata yang memang dibangun dari pengalaman hidup yang panjang.</p>
<p>Lantas saya selalu berpikir ketika dulu saya banyak menolak untuk menulis novel bertema cinta karena nyatanya pengalaman cinta saya yang memang biasa saja. Tak pernah mengalami kesedihan yang tragis atau bahagia kepalang mengawang-awang. Saya tahu bahwa pernyataan saya tersebut memang semata sebuah eskapis. Karena nyatanya, banyak proses kreatif seniman atau penulis yang lahir tak semata melalui sebentuk, mengutip teori komunikasi, Field of Experience. Tapi itu dia, menurut saya pengalamanlah yang membuat manusia sadar akan eksistensinya.</p>
<p>Berbicara soal pengalaman cinta, sebenarnya saya banyak memperoleh cerita-cerita soal pengalaman cinta yang menarik dari banyak teman-teman saya. Ada yang berpacaran selama delapan tahun dan ditinggal begitu saja bak permen karet di bawah bangku, ada kawan perempuan saya di Jakarta yang menangis di pundak saya ketika ditinggal nikah meski ia telah memberikan segalanya, ada juga seorang kawan kantor yang <em>extravaganza</em> dengan para perempuan lain meski ia sudah memiliki pasangan hidup,ataupun kawan sekampus yang terlibat masalah cinta beda agama dan keukeuh mempertahankannya. Bagi mereka kisah cinta mereka adalah sesuatu yang memiliki kesan mendalam. Namun bagi saya, semua cerita itu hanya berbekas menjadi simpati. Tak lebih.</p>
<p>Suatu waktu, seorang kawan memberikan sebuah rekomendasi bacaan buat saya. Bukunya berjudul <em>The Art of Loving</em> karangan dari Erich Fromm. Saya sempat skeptis dengan judul tersebut. Bukannya apa-apa, memang terdengar <em>cheesy</em> dan sok romantis-romantisan. Apalagi saya ini bukanlah orang yang terlalu obsesif kalau bicara soal cinta yang rela jatuh bangun untuk mengejar pasangan atau membina suatu hubungan. Akhir kata, baru sekitar beberapa bulan lalu saya mendapatkan buku tersebut di perpustakaan Rumah Buku/Kineruku.</p>
<p>Nama Erich Fromm bukanlah nama asing bagi saya. Beberapa karya tulisnya banyak saya pelajari di bidang studi Psikologi Komunikasi yang saya pelajari di bangku kuliah dulu. Erich Fromm sendiri adalah seorang penganut psikoanalisis dan seorang filsuf-sosial dan salah satu penganut Mazhab Frankfurt, sebuah Mazhab yang sedang saya pelajari untuk tema skripsi saya dengan tetek bengek industri budayanya. Saya pikir pada awalnya buku ini hanya semacam &#8220;How To&#8221; atau semacam kiat mendapatkan pasangan hidup, namun nyatanya buku ini adalah gaya sinis khas Erich Fromm&#8212;yang banyak mencermati fenomena masyarakat kontemporer saat ini&#8212;mengenai hubungan percintaan.</p>
<p>Seperti halnya tulisan-tulisannya yang mencermati kondisi masyarakat kontemporer, bagi Fromm, cinta juga tak pernah lepas dari tuntutan perkembangan zaman. Pada zaman pertengahan, konsep cinta mengarah ke dalam bentuk yang spiritual. Di zaman Victorian cinta ditentukan oleh norma sosial dan aturan-aturan feodal. Atau pada tahun 1920-an, seorang gadis perokok dan peminum, ulet serta seksi dipandang menarik. Pada pertengahan abad 20, apa yang dianggap menarik mengalami perubahan. Sifat-sifat seperti senang tinggal dirumah justru pemalu yang dianggap anggun dan mengesankan. Di akhir abad ke-19 laki-laki yang memiliki karakter agresif dan ambisius adalah yang paling banyak dicari. Sementara sekarang, laki-laki yang memiliki watak sosial dan toleran adalah dambaan para wanita. Intinya, perasaan jatuh cinta biasanya berkembang karena adanya komoditas-komoditas yang bisa dipertukarkan.</p>
<p>Secara lebih meyakinkan Fromm memberikan sebuah hipotesis bahwa masyarakat kontemporer yang hidup di zaman kapitalis, secara sadar-tidak sadar menempatkan cinta sebagai objek dan sikap narsistik. Inilah yang membuat cinta tak lagi dipandang sebuah konsep <em>art</em>, seni, atau nilai. Ia menjadi benda komoditas yang dipertukarkan. Maksudnya begini. Menurut Fromm, orang-orang sekarang ini hanya ingin dicintai, bukan mencintai. Untuk mencapai itu, segala cara dilakukan. Bagi para wanita, untuk dicintai mereka rela untuk berdandan cantik, bergaya sopan, bertutur kata lembut, hingga menghabiskan jutaan rupiah untuk perawatan diri. Para pria pun sama saja. Mereka rela berdandan perlente, bertutur manis ke pasangan, bersikap lembut, ambisius, dan materialistis. Hal itu dilakukan dengan harapan agar sang pria mendapatkan hak dicintai dari pasangan wanitanya.</p>
<p>Hal tersebut memang sah-sah saja dilakukan. Siapa sih yang tidak ingin dicintai? Namun, masyarakat kapitalis dewasa ini yang percaya dengan sugesti media massa dan persuasif periklanan, seperti ciri khas kemewahan kapitalisme, yang selalu menawarkan sesuatu yang indah dan utopis tentang masa depan yang lebih baik. Maka manakala hak dicintainya sudah tak bisa didapatkan, harapan-harapan indah mengenai masa depan percintaan akan segera runtuh. Mimpi-mimpi indah yang dibangun, surga dunia yang hadir, akan menjadi sebuah utopia ketika semua itu kandas tak berbekas.</p>
<p>Seni mencintai juga tertahan karena sifat narsistik manusia itu sendiri. Dewasa ini, orang-orang selalu memberikan kategori untuk pasangannya. Contohnya, kawan perempuan saya yang dengan tegas selalu memberikan kategori-kategori soal pria yang diidamkannya yang bersifat ambisius, penyayang, arogan, berwajah tampan, dan tetek bengek lainnya. Sebenarnya sifat-sifat itu tak lain adalah sifat narsistik atau <em>self-loving</em> dari individu tersebut. Ia tak bisa benar-benar lepas dari kepribadiannya karena cerminan pasangan yang diidamkannya adalah cerminan dari rasa suka terhadap dirinya sendiri. Ia membatasi cinta berkembang dengan alamiah dan sendirinya karena pengkategori-kategorian. Inilah yang kemudian bahwa cinta tak lebih dari sekedar &#8220;Pasar Kepribadian&#8221; yang menuntut adanya hal-hal yang bisa dipertukarkan. Cinta menjadi transaksi jual-beli kepribadian. Semua orang masuk ke dalam pasar kepribadian tersebut dan membeli yang sesuai idamannya. Maka tak aneh jika Thom Yorke bernyanyi lirih, &#8220;<em>if i could be who you wanted&#8230; all the time</em>.” Pasar kepribadian telah menjadi tujuan.</p>
<p>Dalam hubungannya antara cinta dengan <em>zeitgeist</em> (&#8220;semangat zaman&#8221;) maka tak aneh jika cinta selalu menjadi komoditas di era kapitalisme mutakhir ini. Film, karya sastra, musik, drama televisi, hingga produk kecantikan yang menawarkan romantisme tersendiri mengenai cinta. Dengan sinisnya Fromm mengajukan sebuah persoalan bahwa manusia telah mengalami disintegrasinya soal cinta, dan hanya soal seni mencintai-lah yang menjadi jawaban akan eksistensi manusia yang mempersoalkan disiplin, tanggung jawab, dan kesabaran.</p>
<p>Tentu saja seni mencintai bagi saya bukan berarti cinta naïf dan tulus setengah mati ala Rama dan Sinta atau mesti piawai membuat lagu atau puisi, <em>candle light dinner</em>, atau perhatian yang bersahaja. Akan tetapi, menikmati proses kehidupan ketika sedang mencintai. Tragis atau bahagia. Saya termenung, ketika kehidupan percintaan saya yang kurang obsesif, biasa saja, antara serius-kurang serius karena boleh jadi saya adalah penganut sebuah kelompok yang oleh profesor sastra Eric Wilson dinamakan Ironic-Romantics, yang menganggap bahwa cinta adalah omong kosong yang kita idam-idamkan dan memiliki prinsip, &#8220;<em>The person who is ironic in this way ultimately takes life seriously and not seriously at the same time</em>.&#8221;</p>
<p>Kembali ke pertanyaan awal, apakah cinta sebuah seni?</p>
<p>Ya, jika Anda membangunnya bak seniman menikmati proses berkaryanya, meski kemudian karya itu berakhir tragis ataupun indah. Dan kebalikan dari rasa seni, <em>art opposite with commodity</em>, cinta menjadi komoditas ketika Anda berharap karya Anda menjadi ladang transaksi jual-beli. Ketika sudah mencintai dan berharap sebuah seks gratis. Cinta, sebagai bagian dari dunia, secara alamiah ditakdirkan untuk tidak cantik dan tidak pasti seperti halnya kehidupan dan kosmos yang serba tak menentu (<em>unpredictable</em>), rumit (<em>complicated</em>), buram (<em>blurred</em>), dan tidak berpola (<em>messy</em>).</p>
<p>Selamat mencintai.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Idhar Resmadi</strong>]</p>
<p style="text-align: left;"><em><strong>The Art of  Loving<br />
</strong></em>(edisi terjemahan Indonesia)<br />
Erich Fromm<br />
Fresh Book, 2004<br />
218 halaman</p>
<p>Selain <em><strong>The Art of Loving</strong></em>, Rumah Buku/Kineruku juga mengoleksi buku-buku karya Erich Fromm lainnya, yakni: <em><strong>Akar Kekerasan</strong></em> dan <strong><em>Cinta, Seksualitas dan Matriarki</em></strong>. Selengkapnya klik di <a href="http://library.rukukineruku.com/" target="_blank"><strong>sini</strong></a>.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3EApakah+Cinta+Sebuah+Seni%3F%3C%2Fb%3E+http://hancf.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3EApakah+Cinta+Sebuah+Seni%3F%3C%2Fb%3E+http://hancf.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3244</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liputan SEA Scope: Dari Kamera Ajaib sampai Kuda Laut</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3268</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3268#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 10:30:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3268</guid>
		<description><![CDATA[Film-film bertemakan keluarga, kesepian, dan rasa tidak puas terhadap apa yang dimiliki. Apa representasi Asia Tenggara memang seperti itu? [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3268">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah di Negeri Jiran, berdirilah sebuah &#8216;kedai gambar&#8217; legendaris. Menempati bangunan tua serupa toko-toko kuno yang biasa dijumpai di pecinan, studio foto itu belum kehilangan pengunjungnya. Rupanya si laki-laki tua pemiliknya mewarisi kamera ajaib yang bisa memotret <em>object of desire</em> dari hati setiap kliennya. Klien akan pulang dengan senyuman jika wajah yang muncul di foto sesuai keinginan, tetapi ada juga yang berurai air mata mendapati laki-laki yang dicintai ternyata mengharapkan perempuan lain.</p>
<p>Kadang-kadang si pemilik kedai juga memotret dirinya sendiri; melengkapi koleksi foto-foto perempuan yang ia harapkan akan mengisi hidupnya. Suatu hari, seorang wanita dalam foto datang ke kedai. Tentunya ia tak bermaksud mengisi hidup si laki-laki tua. Namun seperti semua pengunjung yang lain, wanita ini ingin tahu siapa laki-laki idamannya. Setelah foto dicetak, si pemilik kedai duduk dengan tampang merana. Jelas bukan ia yang ada di dalam foto si wanita. Saat itu berderailah tawa penonton yang terlarut dalam alur film <em>Focal Point</em>.</p>
<p><em>Focal Point </em>(Khatami, Seiffouri, 2009) adalah wakil Malaysia dalam program <a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3146" target="_blank"><strong>SEA Scope</strong></a>, pemutaran film-film Asia Tenggara di Rumah Buku/Kineruku. Kali ini keluarga merupakan tema besarnya. <em>Programmer </em>acara, Elida Tamalagi, berujar, &#8220;Masyarakat Asia Tenggara sangat kental dengan kehidupan keluarganya. Keluarga menjadi pertahanan terakhir kita dalam menghadapi berbagai isu-isu yang beredar, termasuk globalisasi.&#8221; SEA Scope ingin mengajak penonton mengamati bagaimana kehidupan berkeluarga mereka direpresentasikan di film-film yang ditayangkan. Pemutaran film ini terselenggara berkat kerjasama <a href="http://rukukineruku.com" target="_blank"><strong>Kineruku</strong></a> dan <a href="http://kinoki.or.id" target="_blank"><strong> </strong><strong>Kinoki</strong></a>.</p>
<p>Jumat malam (6/8), pemutaran<em> Ang Nerseri</em> (Acedillo Jr., 2009) membuka program SEA Scope<em> </em>di Bandung. &#8220;Film ini menampilkan keluarga dengan anggota yang cukup lengkap,&#8221; ujar Elida. Film <em>feature</em> produksi Filipina ini bercerita tentang keluarga seorang janda beranak empat. Tiga di antaranya memiliki gangguan mental menurun. Hanya si bungsu Cocoy yang masih kelihatan waras. Meskipun hidup berkecukupan, keluarga ini kerap tersudutkan setiap kali mencoba berbaur dengan lingkungan di sekitarnya. Koleksi anggrek menjadi pelarian bagi sang ibu. Si anak bungsu mesti melewati masa pubertasnya sendirian. Suatu hari ibunya meninggalkan rumah, Cocoy pun mendapat beban berat mengurusi kakak-kakaknya.</p>
<p>Menonton <em>Ang Nerseri</em>, sulit untuk tidak memperhatikan warna-warnanya. Hingga menjelang akhir film, penonton hanya melihat warna hitam, putih, biru dan hijau. Kesannya muram. Alur film bergulir dari satu kemalangan ke kemalangan yang lain, tetapi tak ditemukan alasan yang jelas mengapa kemalangan itu memang perlu. Meski demikian, ada sebuah adegan berkesan di mana kamera menyorot dua ruangan sekaligus. Di ruang keluarga si ibu berbicara di telepon, sementara di kamarnya Cocoy mendengarkan dengan wajah yang tak terlalu senang. Walaupun hanya dipisahkan tembok tipis, terbentang jarak nyata di antara mereka. Film ini pernah diputar pada Cinemalaya Phillipine Independent Film Festival.<strong> </strong></p>
<p><strong>Film Pendek dan Diskusi di Hari Kedua</strong><br />
Keesokan harinya, sekitar tiga puluh orang duduk di teras belakang Rumah Buku/Kineruku, meningkat dari jumlah hadirin di hari pertama. Semua pandangan tertuju pada tembok putih tempat film diproyeksikan. Untuk hari kedua, Elida Tamalagi telah mempersiapkan deretan film-film pendek pilihan. &#8220;Semua film lambat dan minim dialog,&#8221; ujarnya, menyiapkan mental penonton. &#8220;Mungkin agak <em>dragging</em>.&#8221;</p>
<p><em>Limang Libo</em> (Idanan, 2009) mengawali pemutaran pada malam itu. Berdurasi sepuluh menit, film produksi Filipina ini menangkap pertemuan garis kehidupan dua manusia dengan penuh ketegangan. Susan adalah seorang bidan yang terlilit utang. Ingin ia berbicara dengan putranya. Namun panggilan teleponnya tak kunjung diangkat. Ada juga Manuel yang istrinya sedang hamil tua. Keadaan jungkir balik saat istri Manuel mengalami pendarahan di usia kandungannya yang baru delapan bulan. Pasangan suami istri itu bergegas ke rumah Susan. Terdesak kebutuhan ekonomi, Susan dan Manuel melakukan kejahatan yang memengaruhi kehidupan satu sama lain.</p>
<p>Judul film selanjutnya barangkali menggambarkan situasi pemutaran film kali ini: <em>Hujan Tak Jadi Datang </em>(Noen, 2009). Cuaca bulan Agustus yang belum menentu membuat acara menonton bersama urung dilakukan di ruang terbuka, tak seperti biasanya. Padahal, malam itu hujan tak jadi datang. Film ini mengikuti gerak-gerik dua pegawai toko mebel, laki-laki dan perempuan, ketika mengantarkan dagangan ke sebuah penginapan. Meskipun kewalahan mengangkat sofa yang berat, mulut keduanya terkunci. Nyaris tak ada kontak mata. Penonton dibuat menduga-duga apa sebetulnya yang terlintas di benak mereka. Terantuk di lorong yang kelewat sempit, sofa pub dibiarkan saja di sana. Dua pegawai toko itu kemudian mendinginkan diri di sebuah kamar berkipas angin. Ketika mereka saling bercakap, jelaslah bahwa si perempuan telah bersuamikan laki-laki lain. Pintu kamar lantas ditutup.</p>
<p>Apabila Malaysia menggelitik penonton dengan <em>Focal Point</em>, Singapura hadir dengan <em>Outing</em> (Wei, 2009) yang mengharu biru. Begitu terbangun pagi-pagi, seorang anak kecil melihat jam yang ia gambar sendiri di tangannya. Sementara di dapur bermotif bunga, kakeknya membuat empat gelas susu cokelat. Padahal mereka hanya berdua. Saat matahari naik, keduanya keluar rumah, berjalan-jalan di trotoar seperti mencari sesuatu, tetapi apa? Orangtua yang hilang? Anak yang hilang? Sempat mereka mengunjungi taman rindang. Si kakek membawa balon kuning dan si cucu berlari-lari mengejarnya. Saat matahari turun, si kakek mengantarkan cucunya ke panti asuhan. Rupanya itulah hari terakhir mereka bersama.<em> </em></p>
<p><em>Limang Libo</em>, <em>Hujan Tak Jadi Datang</em>, <em>Outing</em>, <em>Focal Point</em>, dan <em>Kuda Laut</em> adalah beberapa film yang tahun lalu mengisi program SEA Shorts di Cinemanila International Film Festival. <em>Limang Libo</em>, <em>Outing</em>, <em>Focal Point</em>, dan <em>Kuda Laut</em> bersaing di sesi kompetisi, sedangkan <em>Hujan Tak Jadi Datang</em> diputar dalam sesi ekshibisi.</p>
<p>Saat diskusi digelar, moderator Ariani Darmawan berusaha merunut benang merah dalam film-film yang baru saja disaksikan hadirin. Seperti yang diwanti-wanti sang <em>programmer </em>menjelang pemutaran, semua film memang sunyi, tidak banyak berdialog. &#8220;Ada banyak adegan-adegan di mana kameranya diam,&#8221; cetus Ariani. &#8220;Apakah ini terkait dengan <em>budget</em> yang terbatas? Atau <em>treatment</em> seperti ini memang diperlukan buat mengangkat tema keluarga?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di satu sisi, keterbatasan anggaran tentu berpengaruh,&#8221; sahut Elida. &#8220;Tapi di sisi lain, para pembuat film memang ingin berkomunikasi lewat kesunyian. Kamera yang diam memberi penonton kesempatan buat menyimak banyak detail. Detail-detail itulah yang membantu penonton menangkap atmosfer yang berusaha disampaikan si pembuat film.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu ke mana keriuhan khas Asia Tenggara?&#8221; tanya seorang penonton. &#8220;Misalnya tawar-menawar di pasar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Keriuhan itu biasanya muncul pada film-film <em>feature</em>, karena buat produksi film pendek <em>blocking</em> suaranya susah,&#8221; jawab Elida. &#8220;Kalau pembuat film pendek mau syuting di warung kopi siang-siang, mereka harus bisa mengatasi hambatan-hambatan yang pasti akan muncul: kegaduhan yang nggak perlu, orang-orang yang menonton syuting, dan masih banyak lagi. Mereka juga mesti memikirkan apakah usaha-usaha itu memang sepadan dengan hasil yang ingin dicapai.&#8221;</p>
<p>Rara, seorang penonton, menyampaikan kesannya: &#8220;Film-film pendek tadi sudut pandangnya nggak sering kita lihat di televisi. Nggak <em>mainstream</em>, metaforis, dan banyak memunculkan interpretasi. Setelah nonton, saya jadi berpikiran jangan-jangan di sekitar kita juga banyak yang seperti itu.&#8221;</p>
<p>Diskusi berlanjut dengan pembahasan tema. &#8220;Dari film-film ini kita melihat semuanya bertemakan keluarga, kesepian, dan rasa tidak puas terhadap apa yang dimiliki. Apa Asia Tenggara memang seperti ini? Apa betul representasinya seperti ini?&#8221; tanya Ariani. Ia lalu menumpahkan unek-uneknya saat menyaksikan program film Asia Tenggara di sebuah festival. &#8220;Temanya semua mirip-mirip. Kesepian, kemiskinan. Saya curiga ini karena <em>programmer</em>-<em>programmer </em>festival seleranya memang begitu. Jangan-jangan ini akan membuat <em>filmmaker</em> berpikir kalau mau filmnya diputar di festival, dan dapat pendanaan, maka dia harus membuat film dengan tema-tema seperti itu.&#8221;</p>
<p>Biasanya penggemar film berkesimpulan bahwa film-film yang baik adalah film yang masuk festival. Akan tetapi, festival film mempunyai berbagai kepentingan dan tujuan yang berbeda satu sama lain. Para <em>programmer</em>-nya memilih film berdasarkan kepentingannya: selera dan interpretasi mereka masing-masing terhadap tujuan festival. &#8220;Sifatnya memang subyektif,&#8221; komentar Elida. &#8220;Dalam festival film besar, panitia mesti berpikir bagaimana bangku-bangku bioskop terisi dengan penonton. Mereka harus melayani penonton-penonton itu.&#8221;</p>
<p>Industrialisasi, perdagangan bebas, ataupun perubahan iklim kerap disebut-sebut sebagai sumber dari permasalahan manusia masa kini: kemiskinan struktural, alienasi, dll. Dengan latar belakang begitu, tak heran apabila di mata para <em>programmer</em> tema-tema tersebut menjadi eksotis dan menggairahkan. &#8220;Apalagi Asia Tenggara adalah pasar terakhir produk-produk Barat,” lanjut Elida. &#8220;Inilah yang kemudian membuat film-film dari kawasan ini sangat penting. Penonton festival penasaran terhadap apa yang terjadi di sini.&#8221;</p>
<p>Beberapa tahun terakhir, sejumlah film dan pembuat film dari Asia Tenggara mendapatkan tempat terhormat di berbagai festival film bergengsi. Misalnya saja Apichatpong Weerasethakul yang menjadi anak emas di Cannes International Film Festival. Tahun 2002, filmnya <em>Blissfully Yours</em> memenangkan penghargaan Un Certain Regard, diikuti dengan <em>Tropical Malady </em>yang meraih Jury Prize dua tahun setelahnya. Puncaknya adalah tahun ini, saat film terbaru sutradara Thailand ini, <em>Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Life</em>, dianugerahi penghargaan tertinggi, Palm d’Or. Ini bisa menjadi hal yang membanggakan, &#8220;Tapi kita nggak boleh melupakan konteks masing-masing,&#8221; pesan Elida.<strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Special Screening</em></strong><strong>: Kuda Laut</strong><br />
Selain program SEA Scope, dalam kesempatan ini diputar juga film pendek <em>Kuda Laut </em>yang bertema homoseksualitas. Selain berkompetisi di Cinemanila, sejak tahun lalu film ini telah bergerilya ke acara pemutaran film di berbagai kota di Indonesia, termasuk Q!<em> </em>Film Festival di Yogyakarta. Malam itu penonton di Bandung kebagian tiket istimewa menyaksikannya sambil ditemani sang sutradara, Shalahuddin Siregar.</p>
<p><em>Kuda Laut</em> merekam ujung kebersamaan dua lelaki <em>gay</em>: Aji dan Bayu. Salah satu di antara mereka akan menikah untuk memenuhi tuntutan sosial. (Bukankah para lajang di usia tiga puluhan sering ditanyai kapan mereka akan menikah?) Selama empat tahun, pasangan ini memiliki kebiasaan eksentrik yang menandai hubungan mereka. Aji merendam jemari Bayu, mengguntingkan kukunya, menghandukinya, sebelum akhirnya mengoleskan <em>lotion</em>. &#8220;Giliran kamu,&#8221; katanya setiap kali &#8216;ritual&#8217; itu usai. Bayu lantas bersila, bersiap-siap melakukan gerakan rahasia yang baru diketahui penonton pada penghujung film.</p>
<p>Di saat-saat terakhirnya, baik Bayu maupun Aji menjalani hari layaknya biasa. Mereka bangun tidur, membaca, bekerja, duduk berdua di halaman, melakukan perjalanan pulang dengan kereta, dan begitu seterusnya. Tak ada tangis, tak ada tindakan drastis demi mempertahankan yang lain, tak banyak kata-kata. Mungkin keduanya akan lebih cerewat seandainya tidak akan cepat-cepat berpisah. Inilah yang membuat kehadiran perpisahan menjadi tak terbantahkan. Baunya merebak dari layar, membuat sesak dada siapapun yang menghirupnya.</p>
<p>Shalahuddin Siregar, akrab dipanggil Udin, mengaku membuat <em>Kuda Laut</em> karena jenuh dengan tema homoseksual dalam film-film Indonesia. &#8220;Semuanya masih di sekitaran <em>coming out</em>.&#8221; Alih-alih menyampaikan perasaan kesepian melalui aksi, laki-laki berkacamata ini berupaya menyampaikannya dengan kekosongan dan kesunyian ruang. Sebagian besar gambar film ini diambil di rumah Elida Tamalagi. Dalam produksi <em>Kuda Laut</em>, <em>programmer </em>SEA Scope ini terlibat sebagai produser, artistik, koordinator aktor, dan <em>cameo</em>. Di <em>credit title</em>, nama belakang Elida berganti menjadi Dialagi.</p>
<p>Menanggapi film ini, Mudin Em, yang aktif dalam penyelenggaraan Q! Film Festival meresensi, &#8220;Menonton <em>Kuda Laut</em>, memang agak sedikit keluar dari suasana kehidupan <em>gay</em> yang umumnya dikenal: kehebohan pakaian, pesta pora, dan kebebasan seksual. <em>Kuda Laut </em>berjalan lambat. Tak ada adegan sensual atau pesta. Hanya adegan memotong kuku dan membersihkan telapak tanganlah yang membuatnya menjadi sangat <em>gay</em>.&#8221; Em yang juga ikut dalam diskusi bercerita, &#8220;Waktu pemutaran film ini, beberapa penonton kecewa karena nggak ada adegan panasnya.&#8221;</p>
<p>Dapat dikatakan pendapat Em mewakili penonton yang menyukai <em>Kuda Laut</em>. Namun, ada juga Alburhan yang mengaku kelewatan makna beberapa adegan dalam film ini. &#8220;Saya belum bisa menangkap adegan pandang-pandangan di ranjang,&#8221; ujarnya. Kendati demikian, ia menyenangi tema kesepian dalam semua film yang diputar malam itu.</p>
<p><em>Kuda Laut</em> merupakan film pendek naratif pertama Udin. Sebelumnya, penyuka film-film Takeshi Kitano ini pernah membuat film dokumenter dan menyambung hidup dengan menjadi fotografer <em>pre-wedding</em>. Edwin, dari Storylab, tertarik dengan <em>t-shirt </em>seorang penumpang kereta api yang duduk di sebelah Bayu. <em>T-shirt </em>itu bertuliskan, &#8216;Tuhan, agamamu apa?&#8217; &#8220;Apakah ini disengaja?&#8221; tanyanya. &#8220;Saya malah baru menyadari itu waktu proses editing,&#8221; jawab Udin.</p>
<p><em>Kuda Laut</em> berakhir dengan adegan Aji yang mengumpulkan potongan kuku-kuku Bayu sambil membatin, &#8220;Aku ingin menjadi kuda laut. Sebab pada mereka, laki-lakilah yang mengandung.&#8221; Adegan siraman&#8212;saat kaki Bayu dicuci oleh perempuan pengantinnya&#8212;menjadi adegan yang paling menohok. Ritual siraman mengandung makna luhur pengabdian istri kepada suami. Namun, bukankah Bayu dan Aji sudah memiliki ritual mereka sendiri? Bukankah keduanya bisa dihayati dengan sama? Rasanya campur aduk melihat ritual yang sifatnya personal mesti mengalah dari ritual yang lebih mengakar, seakan memang hanya ada sebuah cara untuk melakukan sesuatu. Lebih-lebih lagi melihat betapa tenangnya pasangan ini menyongsong hari perpisahan, seakan waktu pertama kali bertemu mereka sudah tahu kalau hubungannya akan berakhir seperti ini.</p>
<p>&#8220;Sebetulnya,&#8221; ujar Udin, &#8220;Konsepnya memang begitu.&#8221;</p>
<p>Lengkaplah sudah.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Andika Budiman</strong>]</p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: left;">
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Liputan+%3Cb%3ESEA+Scope%3C%2Fb%3E%3A+Dari+Kamera+Ajaib+sampai+Kuda+Laut+http://xxnpt.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Liputan+%3Cb%3ESEA+Scope%3C%2Fb%3E%3A+Dari+Kamera+Ajaib+sampai+Kuda+Laut+http://xxnpt.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3268</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Spirit of the Beehive &#124; Victor Erice, 1973</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3227</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3227#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 11:54:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3227</guid>
		<description><![CDATA[Kisah humanis tentang anak kecil yang berusaha menaklukkan fantasinya [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3227">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>INT/EXT. SEBUAH DESA TERPENCIL DI ANTARA BUKIT DAN PEGUNUNGAN.<br />
Spanyol tahun 1940-an sedang mengalami alienasi dan isolasi setelah perang saudara berakhir. Seorang ayah (Fernando  Fernán Gómez) mengajak keluarganya pindah ke sebuah rumah besar terpencil namun luas, terobsesi pada hobinya bereksperimen dengan lebah. Si ibu (Teresa  Gimpera), yang hanya sesekali muncul dalam adegan, sibuk mengirimkan surat kepada orang-orang terkasih yang tak jelas nasibnya akibat perang.</p>
<p>INT. RUANG KOSONG. SEBUAH BALAI DESA MULTI FUNGSI.<br />
Putri mereka, Ana (Ana  Torrent) dan Isabel (Isabel  Tellería), terkesima menonton film keliling. Dipasanglah <em>Frankenstein</em>, sebuah film lawas tentang monster ciptaan manusia. Di layar kita melihat monster itu sedang berbincang dengan seorang anak perempuan.</p>
<p>INT. RUANG TIDUR, DI SEBUAH RUMAH HAMPIR KOSONG, BESAR SEKALI.<br />
Ana: Kenapa monster itu ngebunuh si anak perempuan? Kenapa orang-orang ngebunuh si monster itu?<br />
Isabel: Monsternya gak ngebunuh anak itu kok. Orang-orang juga gak ngebunuh si monster.<br />
Ana: Kok kamu tahu?<br />
Isabel: Semua yang ada di film itu bohongan. Lagian, aku pernah ketemu monster itu.<br />
Ana: Di mana?<br />
Isabel: Gak jauh dari sini. Dia cuma keluar malem-malem. Orang lain gak bisa lihat dia.<br />
Ana: Emang dia hantu?<br />
Isabel: Bukan, semacam roh. Roh itu gak punya badan. Makanya gak bisa mati.<br />
Ana: Kok kamu bisa ngobrol sama dia?<br />
Isabel: Namanya juga kan roh. Kalo kamu temennya, kamu bisa ngobrol kapan aja. Kamu tinggal merem, dan bilang&#8230; &#8220;Ini Ana&#8230; Ini Ana&#8230;&#8221;</p>
<p>EXT. SEBUAH LAPANGAN LUAS DEKAT BANGUNAN RUNTUH. DI SAMPINGNYA, SEBUAH SUMUR TUA.<br />
Ana: &#8220;Ini Ana&#8230; Ini Ana&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Di lapisannya yang paling permukaan, karya Victor Erice yang seringkali kita temukan dalam daftar &#8216;<em>greatest films of all time</em>&#8216; ini adalah sebuah sinema minim dialog minim gerak kamera, dengan gambaran indah tentang sebuah desa Spanyol berpemandangan alam luar biasa indah. Mata dan telinga kita dimanjakan, namun semakin kita hanyut dalam lapisannya yang lebih dalam, gambaran indah itu perlahan menjalar, mencekam.</p>
<p>Dalam lapisan berikutnya kita bertemu dengan permasalahan utama cerita: alienasi keluarga, potret muram tentang kepolosan seorang anak kecil, kesulitannya membedakan realitas dan ilusi. Fantasi menjadi penghiburannya. Dunia Ana yang digambarkan jauh dari hingar bingar ini, membuat kita menerka bahwa ada sesuatu yang salah. Ketika kedua orang tuanya menghabiskan waktu di luar gambaran keluarga yang ia dambakan, si anak kecil memilih mencari teman tak kasat mata, roh yang kapan saja dapat ia panggil bermain. Tapi benarkah si monster ini adalah teman?</p>
<p>Lapisan ketiga bisa saja tidak perlu kita selami. Namun di lapisan terdalam sebuah karya selalu ada metafor yang menarik untuk diketahui. Semacam trivia, atau tebak-tebakan sore. Desa indah itu adalah si traumatis Spanyol yang baru saja habis digempur perang antar saudara. Sang ayah adalah Francisco Franco, pemimpin baru nasionalis Spanyol yang asyik mendikte negerinya sendiri tanpa peduli pada kebutuhan paling dasar rakyatnya. Ana, si anak kecil, adalah golongan muda yang tengah bergejolak dan seringkali terperangkap pada pemberontakan (atau: ilusinya) sendiri. Lalu simbol atas apakah si monster fiktif?</p>
<p>Bagi seorang anak kecil seperti Ana, monster fiktif adalah jawaban atas rasa penasarannya. Ketika ia mendengar dongeng tentang monster ciptaan Frankenstein dari kakaknya, Ana mempercayainya tanpa ragu. Ia mencarinya, dan dalam sebuah adegan digambarkan bahwa ia akhirnya bertemu dengan monster itu. Hal seperti ini tentunya hanya terjadi dalam karya fiksi, karena penonton tahu bahwa fantasi Ana adalah ilusi yang diciptakan oleh Mary Shelley sang penulis cerita, yang kemudian didongengkan kembali dalam bentuk film oleh James Whale di tahun 1931.</p>
<p>Monster fiktif bagi Victor Erice, secara simbolik merepresentasikan harapan masyarakat Spanyol pada masa regime Franco berkuasa. Rakyat yang tertekan (termasuk dirinya) memimpikan keberadaan sosok seseorang yang baik hati walau buruk rupa (kebalikan dari representasi Franco sebagai diktator fasis-nasionalis). Namun, seperti halnya monster ciptaan Frankenstein, harapan tidak akan membuahkan kebahagiaan bila ia diproyeksikan secara tidak manusiawi, <em>larger than life</em>. Bagi Victor Erice, premis semacam ini adalah cerita horor yang otentik.</p>
<p>Di awal bincang-bincang tentang proyek, Victor Erice yang mengidolakan film <em>Frankenstein</em> sejak kecil, diberi tugas untuk membuat sebuah film serupa dalam versi negeri Spanyol. Ia tentu menyambut gembira rencana ini, lalu dengan tekun mempersiapkan sebuah skenario. Saat persiapan produksi tengah berlangsung, tiba-tiba tim pendana menghentikan rencana tersebut karena kekurangan biaya. Suatu hari, ketika Victor Erice sedang tertunduk lesu di ruang kerjanya, ia terpana melihat potongan gambar dari film Frankenstein: si monster sedang berbincang penuh kasih dengan anak perempuan di tepi danau. Dalam pikirannya, berkelebatlah potongan-potongan cerita yang kemudian menjadi film <em>The Spirit of the Beehive</em>, sebuah kisah humanis tentang anak kecil yang berusaha menaklukkan fantasinya.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/frankenstein-and-child.jpg"></a></p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/frankenstein-and-child.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3235" title="frankenstein and child" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/frankenstein-and-child.jpg" alt="" width="400" height="292" /></a><em><br />
</em></p>
<h5><em><span style="color: #ffffff;">.<br />
.<br />
.<br />
.<br />
.<br />
.<br />
</span></em></h5>
<h5><span style="color: #ffffff;"><em><em>.<br />
.<br />
.<br />
.<br />
.<br />
.<br />
</em></em></span></h5>
<h5><span style="color: #ffffff;"><em><em><em><em>.</em></em></em></em></span></h5>
<h5><em>Frankenstein</em>, James Whale, 1931</h5>
<p>Sama seperti Ana, Victor Erice juga berhasil menaklukkan fantasinya, berkonfrontasi dengan si monster fiktif. Walau hanya membuat dua film lagi dalam dua dekade setelahnya&#8212;<em>The South</em> (1983), <em>Quince Tree of the Sun </em>(1992)&#8212;Victor Erice selalu mampu membumikan harapan tiap-tiap karakter yang ia ciptakan. Dalam <em>The South</em>, seorang anak perempuan yang ditinggal mati sang ayah, berhasil memaknai kembali kehadirannya lewat perjalanan waktu dan ruang (ia melakukan perjalanan tapak tilas dari utara menuju selatan Spanyol). Dalam <em>Quince Tree of the Sun</em>, seorang seniman (diperankan oleh senimannya sendiri: Antonio Lopez Garcia) secara instingtif selalu berusaha melukis tanaman buah pir setiap musim gugur datang. Ia melakukannya tahun demi tahun hingga berusia senja, tanpa sadar benar atas tujuannya. Namun, Erice rupanya ingin menggarisbawahi bahwa tujuan tidaklah seberapa penting, selama kita mampu memaknai kehidupan dan bahagia atas keseharian yang kita jalankan.</p>
<p>Meskipun kisah-kisahnya bernuansa melankolik (anak yang &#8216;ditinggalkan&#8217;, pria tua yang hidup sendiri), Victor Erice tidak pernah jatuh sentimentil. Ia tidak mendengung-dengungkan kesepian juga mendewakan kesedihan. Seperti Ana dalam <em>The Spirit of the Beehive</em>, Erice selalu bergerak mencari, mungkin tanpa tujuan, mungkin hanya karena rasa penasaran. Dengan tekun dan tidak terburu-buru, Erice terus melakukan pencariannya. Karena dengan itu, ia berhasil menemukan. [<strong>AD</strong>]</p>
<p><strong><em>The Spirit of the Beehive (El espíritu de la colmena</em>)</strong><br />
Victor Erice, Spain, 1973<br />
DVD, 95 min, Spanish with English subtitle.</p>
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Ci%3E%3Cb%3EThe+Spirit+of+the+Beehive%3C%2Fi%3E%3C%2Fb%3E+%7C+Victor+Erice%2C+1973+http://y7hwg.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Ci%3E%3Cb%3EThe+Spirit+of+the+Beehive%3C%2Fi%3E%3C%2Fb%3E+%7C+Victor+Erice%2C+1973+http://y7hwg.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3227</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pementasan Seribu Kunang-kunang di Manhattan &#124; mainteater</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3251</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3251#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 05:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3251</guid>
		<description><![CDATA[Pementasan teater yang naskahnya diadaptasi dari cerpen karya Umar Kayam [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3251">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pementasan SERIBU KUNANG-KUNANG DI MANHATTAN<br />
diadaptasi dari cerpen: Umar Kayam<br />
Sutradara: Wawan Sofwan</p>
<p><strong>Rumah Buku/Kineruku<br />
Jl. Hegarmanah 52</strong><br />
<strong>Bandung<br />
Sabtu, 28 Agustus 2010<br />
Pk: 19:30 WIB &#8211; selesai</strong><br />
Gratis.</p>
<p><strong>mainteater</strong> Bandung menyelenggarakan sebuah pementasan bertajuk <em><strong>Seribu Kunang-kunang di Manhattan</strong></em> yang naskahnya diadaptasi dari cerpen berjudul sama, karya <strong>Umar Kayam</strong>.  Bercerita tentang sepasang kekasih yang terdampar di sebuah ruangan apartemen di kota New York. Marno dan Jane merupakan pasangan yang tengah mengalami kebosanan akan hubungan mereka. Jane mengibaratkan mereka sedang terdampar di sebuah pulau terpencil dan menunggu untuk diselamatkan. Selagi menunggu, mereka harus terus mengobrol dan mengulangi isi obrolan yang sama. Di penghujung hari, Marno teringat akan anaknya, dan Jane teringat akan suaminya, erm, mantan suaminya, eh suaminya… Tommy.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Aktor </span><br />
Marno: Deden Syarief<br />
Jane: Nathalie Pfeiffer</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"> Tim Pentas </span><br />
Sutradara: Wawan Sofwan<br />
Asisten Sutradara		: Heliana Sinaga<br />
Penata Artistik: Rizkika Lukman Hakim<br />
Penata Kostum: Ayu Suminar<br />
Tim Produksi: Tri Asih Puspitaningtyas, Pradetya Novitri</p>
<p>Informasi:<br />
Pradetya Novitri (085.620.579.93 / 0813.94.269.285)<br />
Diselenggarakan oleh: <strong>mainteater Bandung </strong><br />
Didukung oleh: <strong><a href="http://www.umarkayam.org/" target="_blank">Yayasan Umar Kayam</a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Pementasan+%3Cb%3ESeribu+Kunang-kunang+di+Manhattan%3C%2Fb%3E+%7C+%3Ci%3Emainteater%3C%2Fi%3E+http://okr86.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=Pementasan+%3Cb%3ESeribu+Kunang-kunang+di+Manhattan%3C%2Fb%3E+%7C+%3Ci%3Emainteater%3C%2Fi%3E+http://okr86.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3251</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rukustik#2: Mimimintuno, Musik Akustik di Perpustakaan</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3201</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3201#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 10:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3201</guid>
		<description><![CDATA[Mimimintuno mengharu biru seisi perpustakaan dengan repertoar akustik [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3201">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu malam (31/7), meja besar menghilang dari ruangan. Kursi-kursi pun ke pinggir. Para pengunjung, beberapa berseragam putih abu-abu, duduk leluasa di atas ubin warna merah. Gitar akustik, <em>amplifier</em>, megafon, mikrofon, dan pianika menanti ingin lekas dibunyikan. Sofa bergaris vertikal menjadi panggung bagi para musisi yang sebentar lagi akan tampil. Dengan segala kemungilannya, perpustakaan Rumah Buku/Kineruku siap memuat pertunjukan akustik Mimimintuno.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Menjelang pertunjukan, Ariani Darmawan, si <em>host</em> acara, memperkenalkan bintang tamu kepada para pengunjung. &#8220;Mimimintuno—mungkin nanti bisa kita tanyakan artinya apa—adalah proyek akustik Nova Ruth dan Andre Toke. Di beberapa lagu, mereka juga akan dibantu oleh Kukud. Malam ini mereka akan membawakan musik yang bercerita—ini juga bisa ditanyakan.&#8221;</p>
<p>Ariani lalu membacakan biodata singkat Nova Ruth. <em>Rapper</em> asal Malang ini banyak bergelut di berbagai aliran musik, dan telah berkolaborasi dengan beberapa musisi internasional. Pada penghujung tahun 2009, ia melakukan <a href="http://www.stereozona.com/ver.php?id=177" target="_blank"><strong>tur keliling Eropa bersama Filastine</strong></a>, seorang musisi lintas genre asal Seattle yang kini lebih sering bermukim di Barcelona. Mimimintuno adalah proyek terbaru Nova Ruth yang belum meluncurkan rilisan apapun. &#8220;Anggap saja sekarang kita sedang <em>launching</em> stiker,&#8221; gurau Nova sambil membagi-bagikan stiker Mimimintuno. &#8220;Malam ini kita sengaja santai, kok. Biar kalau mainnya salah-salah, nggak jadi masalah.&#8221;</p>
<p>Tanpa berpanjang-panjang lagi, Mimimintuno menyapa telinga hadirin dengan &#8220;Hidupi Duniaku<em>&#8221; </em>yang bernuansa hip-hop. Meskipun aliran musik tersebut identik dengan <em>beat-beat</em> yang intens, kali ini Nova enak saja nge-<em>rap</em> dengan iringan gitar akustik Toke. &#8220;Lagu ini pernah direkam Twin Sista, grup lama saya. Namanya pakai &#8216;sista-sista&#8217; karena dulu itu kesannya sangat hip-hop,&#8221; tutur si vokalis dengan logat Jawa yang akrab. &#8220;Kami malah sempat mengeluarkan album, tapi kandas gara-gara dikadalin <em>major label</em>. Hari pertama dirilis, bajakannya sudah beredar di Glodok. Pihak label bilang album itu terjual dua ribu kopi, tapi kami nggak pernah menerima sepeser pun. Kami nggak tahu apa album itu memang laku segitu, atau pihak label cuma pengen menyenangkan kami saja.&#8221;</p>
<p>Lagu-lagu berikutnya, &#8220;Mother of Nature&#8221;, &#8220;Malin Kundang&#8221;, dan &#8220;Fitnah&#8221;, menunjukkan kesadaran duo ini akan isu-isu politis. &#8220;Mother of Nature&#8221; secara harfiah<em> </em>berkisah tentang seseorang yang bercita-cita menjadi <em>superstar</em>, tetapi mengabaikan alam. Namun lagu tersebut juga bisa menyinggung tentang orang yang terlarut memperjuangkan &#8216;isme-isme&#8217; besar, tetapi melupakan apa yang seharusnya ia lakukan untuk orang-orang di sekitarnya. &#8220;Feminisme radikal, misalnya. Ayo apalagi?&#8221; pancing Nova. &#8220;Komunisme?&#8221; sahut seorang penonton. &#8220;Idealisme!&#8221; timpal Ariani.</p>
<p>&#8220;Malin Kundang&#8221; dinyanyikan Nova dengan cengkok Melayu, sambil sesekali meniup pianika berirama Minang di tengah-tengah lagu. Tak sekadar membahas kedurhakaan anak kepada orang tua, namun lebih besar lagi: lagu ini tentang kedurhakaan terhadap tanah air. &#8220;Contohnya AB,&#8221; ujar Nova blak-blakan. &#8220;Saya ingat waktu muncul wacana agar lumpur Lapindo dijadikan obyek wisata. Mungkin obyek wisata itu hanya akan menarik kalau AB beneran dikutuk jadi batu. Tubuhnya yang membatu terus diarak oleh korban-korban yang terlantar, ditaruh di lokasi semburan lumpur, lalu diberi selang. Jadi lumpurnya bisa mengalir masuk lewat pantat, dan menyembur keluar dari mulut. Seperti patung Singapura&#8230;&#8221;</p>
<p>Sementara itu, &#8220;Fitnah&#8221; adalah sebuah lagu lama Melayu berirama nasyid. Filastine pernah merekam lagu ini dalam versinya sendiri bersama penyanyi Jessika Skeletalia Kenney di album <em>Dirty Bomb</em>. Nova pun sering menyanyikannya sewaktu tur di Eropa. Malam itu Nova, Toke, dan Kukud memilih lagu itu bukan karena sebentar lagi bulan puasa, melainkan sebagai tanggapan atas film berjudul sama yang memberi gambaran ekstrem mengenai kehidupan umat muslim.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Nova Ruth dan Andre Toke pertama kali bertemu di sebuah kios gorengan di Malang sekitar delapan tahun silam. Sejak itu, mereka semakin akrab dan mulai bermusik bersama. Nova mengaku lagu-lagu yang dimainkan malam itu dikerjakannya bersama Toke. Dalam kolaborasinya dengan musisi lain, ia membawakan juga lagu-lagu tersebut. Namun, Nova merasa pesannya kurang tersampaikan. Akhirnya ia memutuskan kembali bermusik bersama Toke. Nova merasa musiknya paling kawin dengan permainan gitar Toke. Mungkin inilah asal nama Mimimintuno. Sebetulnya &#8220;mimi&#8221; dan &#8220;mintuno&#8221; adalah nama dua jenis kepiting yang selalu ditemukan berpasangan, tetapi dalam ungkapan bahasa Jawa &#8220;mimi lan mintuno&#8221; artinya cinta sejati.</p>
<p>Ketika ditanya siapa yang menulis liriknya, Toke menunjuk Nova. &#8220;Saya membantu untuk bagian <em>reffrain</em>,&#8221; tambahnya. Mereka berusaha menulis lagu dengan jujur, apa adanya. Menurut Nova, bermusik itu seperti berjudi. Ia tak pernah bisa benar-benar yakin seberapa besar pesan yang sampai kepada pendengarnya. &#8220;Minimal ada pendengar yang mendiskusikan lirik kami. Atau ada teman yang berhenti merokok karena lagu yang kami bawakan. Dan sebetulnya lagu kami nggak cuma bicara tentang hal-hal besar, tapi juga hal-hal personal.&#8221;</p>
<p>Malam itu, sisi personal Mimimintuno menyeruak lewat lagu &#8220;Burung&#8221;, &#8220;Lebih Nikmat&#8221;, &#8220;Sekuntum Mawar Merah&#8221;, &#8220;P.I.L.U.&#8221;, dan &#8220;Terima Kasih&#8221;. Baik &#8220;Burung&#8221;<em> </em>maupun &#8220;Lebih Nikmat&#8221; dapat dihitung sebagai lagu cinta. Bila &#8220;Burung&#8221;, dinyanyikan Nova dengan megafon, menceritakan saat-saat jatuh cinta di mana perasaan menjadi seringan dan selapang burung yang terbang di atas awan; maka &#8220;Lebih Nikmat&#8221; menceritakan momen di mana dua orang bermusuhan, yang satu rindu dan ingin meminta maaf pada yang lain. Saat lagu-lagu ini dimainkan, pengunjung perpustakaan yang datang berpasangan tampak saling merapatkan posisi duduknya.</p>
<p>Kenangan Nova Ruth akan kedua orang tuanya terselip dalam<em> </em>&#8220;Sekuntum Mawar Merah&#8221; dan &#8220;P.I.L.U.&#8221; &#8220;Sekuntum Mawar Merah&#8221; adalah lagu ciptaan Rhoma Irama yang dipopulerkan Elvy Sukaesih. Dulu setiap lagu dangdut diputar di rumah, ibu Nova dipastikan akan selalu berjoget-joget tanpa memperhatikan apapun di sekitarnya, termasuk anaknya yang sedang menangis. &#8220;Ya, dulu saya sering menangis tiap kali dengar lagu dangdut,&#8221; kenang Nova. &#8220;Sampai kemudian Filastine memberi lagu-lagu dangdut yang dia <em>remix</em>. Waktu saya dengarkan ternyata enak juga. Saya jadi seperti menjilat ludah sendiri.&#8221;</p>
<p>Lain halnya dengan &#8220;P.I.L.U.&#8221; (Papa I Love You)<em> </em>yang terinspirasi dari ayah Nova. Ia tak lain adalah Toto Tewel, gitaris band <em>progressive rock</em> Elpamas yang besar di dekade &#8217;80-an. Sewaktu kecil, ayahnya sering bepergian dan menimbulkan gunjingan di kampung tempat Nova dan ibunya tinggal. Meski demikian, ibunya selalu berbisik, &#8220;Jangan benci bapakmu. Ibu yakin dia tidak seperti itu.&#8221; Belakangan, Nova menjadi dekat dengan ayahnya dan mengetahui bahwa apa yang dibicarakan orang-orang di kampungnya memang tak benar. &#8220;Bagi calon-calon ayah, buatlah anakmu menyanyikan lagu tentangmu&#8230;&#8221; ujarnya sambil senyum-senyum.</p>
<p>&#8220;Terima Kasih&#8221; dan &#8220;Gendjer-Gendjer&#8221; menjadi dua lagu terakhir mereka malam itu. &#8220;Terima Kasih&#8221; merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan, dan tentu saja kepada para pengunjung yang menyaksikan penampilan mereka. Sementara &#8220;Gendjer-Gendjer&#8221;&#8212;pernah dipopulerkan Bing Slamet dan Lilis Suryani di dekade ‘60an&#8212;adalah lagu favorit Nova.</p>
<p>Penampilan Mimimintuno malam itu merupakan kelanjutan dari program Rukustik, pertunjukan musik akustik di Rumah Buku/Kineruku. Program ini awalnya diniatkan digelar setiap enam bulan sekali, tapi karena berbagai kendala, satu tahun telah berlalu sejak <a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=1482" target="_blank"><strong>Rukustik #1 menghadirkan Efek Rumah Kaca</strong></a>. Acara ini tentu sayang untuk dilewatkan, karena kapan lagi bisa menonton bakat-bakat musik pilihan dalam suasana akrab, dari jarak amat dekat?</p>
<p>Setelah mendengarkan sebelas lagu yang dibawakan Mimimintuno, agak sulit juga jika harus memilih satu dua kata untuk melabeli aliran musik yang mereka usung. Menurut Toke, &#8220;Kami masih terus mencari yang pas bagi kami.&#8221; Yang jelas, biarpun memainkan berbagai aliran musik, mulai dari rap, jazz, <em>Indonesian folk</em>, nasyid, bahkan dangdut, sama sekali tak ada kesan dipaksakan dalam penampilannya. Ini karena ada benang merah yang jelas: suara Nova yang berat, <em>soulful</em>, serta penghayatan optimal, sehingga kesederhanaan lirik dan musiknya mampu menyampaikan pesan yang tak begitu sederhana. Mungkin inilah yang dimaksud musik yang bercerita.</p>
<p>Ketika pertunjukan selesai, beberapa pengunjung perpustakaan tentu berharap akan mendengar Mimimintuno lagi. Lebih dari berita <em>launching</em> stiker.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Andika Budiman</strong>]</p>
<p style="text-align: left;">[<strong>MP3</strong>]<br />
<strong><a href="http://www.mediafire.com/?udd86cc31ejej1c" target="_blank">Mimimintuno &#8211; Malin Kundang (Live at Rukustik #2)</a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?hwpywu5e25b0z3h" target="_blank">Mimimintuno &#8211; Malin Kundang (Live at Rukustik #2)</a></strong></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/apRf2hKogZY?fs=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/apRf2hKogZY?fs=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p style="text-align: right;">
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/OPniDPg-fqE?fs=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/OPniDPg-fqE?fs=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p style="text-align: right;">
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x4.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3205" title="mimimintuno_x4" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x4.jpg" alt="" width="259" height="389" /></a><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3204" title="mimimintuno_x1" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x1.jpg" alt="" width="259" height="389" /></a><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3202" title="mimimintuno_x2" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x2.jpg" alt="" width="259" height="389" /></a></p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3209" title="mimimintuno_x3" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x3.jpg" alt="" width="259" height="389" /></a><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x4.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3205" title="mimimintuno_x4" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x4.jpg" alt="" width="259" height="389" /></a><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x5.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3208" title="mimimintuno_x5" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_x5.jpg" alt="" width="259" height="389" /></a></p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_y1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3203" title="mimimintuno_y1" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_y1.jpg" alt="" width="389" height="259" /></a><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_y2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3207" title="mimimintuno_y2" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/mimimintuno_y2.jpg" alt="" width="389" height="259" /></a></p>
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3ERukustik%232%3C%2Fb%3E%3A+Mimimintuno%2C+Musik+Akustik+di+Perpustakaan+http://8kzgy.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3ERukustik%232%3C%2Fb%3E%3A+Mimimintuno%2C+Musik+Akustik+di+Perpustakaan+http://8kzgy.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3201</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEA Scope: Pemutaran Film-film Asia Tenggara</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3146</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3146#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 10:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3146</guid>
		<description><![CDATA[Take a closer look on how these films representing South East Asia people in front of the sacred family value. [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3146">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEA Scope: Pemutaran Film-film Asia Tenggara<br />
Rumah Buku/Kineruku<br />
Jl. Hegarmanah 52 Bandung<br />
</strong><strong>Jumat-Sabtu, 6-7 Agustus 2010<br />
18:30 WIB</strong></p>
<p><strong>JADWAL PEMUTARAN</strong><br />
Jumat, 6 Agustus 2010, pukul 18:30 WIB. <em>Ang Nerseri</em>.<br />
Sabtu, 7 Agustus 2010, pukul 18:30 WIB. <em>Limang Libo, Hujan Tak Jadi  Datang, Outing, Focal Point, Kuda Laut.</em></p>
<p>Pemutaran dan diskusi akan dihadiri oleh <strong>Elida Tamalagi</strong> (programmer SEA Scope)<br />
dan <strong>Shalahuddin Siregar </strong>(sutradara <em>Kuda Laut</em>).<em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>***<br />
</em></p>
<p>&#8220;<em>Beware of a silent dog and still water</em>.&#8221; &#8212;Latin proverb</p>
<p>&#8220;The SEA Scope program aims to invite dear audience to take a closer look on how these films representing them in front of the sacred family value. The claim they represented as smooth as still water. Above all the stereotypical given to South East Asian countries, both for its cultural boundaries and cinematic style, two things seem naturally unavoidable: family value and subtle silence. As been watched in film festivals as well as the popular films showing at cinema around the corner, they become a growing formula for us, the SEA people, for telling a story. What possibility could such points draw in terms of narrative style in film from this region? And how could they affect the festival eyes in programming their SEA session? On top of it, how this phenomenon contributes in the contemporary social life of the region?<strong>&#8221;<br />
</strong>(<strong>Elida Tamalagi, </strong><em>SEA Scope Programmer)</em></p>
<p><strong></strong>This program is a special screening program drawn for audience in Yogyakarta with its special character entangled by the city itself. The audience are students and young artist, social activists and the broad public which have had experiencing various culture of cinema showing regularly by film festivals (Documentary Film Festival, Jogjakarta-NETPAC Asia Film Festival, Q! Film Festival) and regular screening held by various initiatives; in the other hand also the citizens of the world while Jogjakarta itself is a second largest tourist destination in Indonesia after Bali. These two points intertwined into a magnificent character of audience. The minor point is the <em>uneglected</em> part of Jogjakarta as a city who produces thousands of filmmakers (or <em>gonnabes</em>) who grows into generation with film festival awareness.</p>
<p>SEA Scope Cinema programming addressed to see how the theme offers another possibility to be read, both for those who sit back and relax in the audience armchair as well as the new generation of thoughtful and passionate filmmakers.</p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/nerseri.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3157" title="nerseri" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/nerseri.jpg" alt="" width="250" height="333" /></a></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><em><strong><br />
ANG NERSERI (THE NURSERY)</strong></em><br />
Vic Acedillo Jr. | Phillipines | 80 min | 2009</p>
<p>Cocoy, 12, takes on a great responsibility of taking care of his older siblings while his mother, Mai, goes to the province to get money to pay the expensive hospital bills for her three mentally sick children. His mother is gone for two weeks and Cocoy&#8217;s struggle in managing his personal, school and home life is a nerve-racking challenge. Click <a href="http://www.cinemalaya.org/film_competition_angnerseri.htm" target="_blank">here</a> for more information.</p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.<br />
</span><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
<span style="color: #ffffff;">.</span><br />
<span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/limanglibo.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3161" title="limanglibo" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/limanglibo.jpg" alt="" width="250" height="140" /></a></p>
<p><strong><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
LIMANG LIBO (FIVE THOUSAND)</em><br />
</strong>Ice Idanan | Philippines | 10 min | 2009</p>
<p>Limang Libo is a film about two people who live separate lives and are unaware of each other&#8217;s existence. The two characters are Susan and Manuel, both of lower class stature; both lead simple lives. Click <a href="http://cinemanila.org/?p=860" target="_blank">here</a> for more information.<br />
<span style="color: #ffffff;"><strong><em>.</em></strong><strong><em></em></strong></span></p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/itsnotrainingoutside.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3159" title="itsnotrainingoutside" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/itsnotrainingoutside.jpg" alt="" width="250" height="161" /></a><strong><em></em></strong><span style="color: #ffffff;"><strong><em></em></strong></span><br />
<strong><em>HUJAN TAK JADI DATANG (IT&#8217;S RAINING OUTSIDE)</em><br />
</strong>Yosep Anggi Noen | Indonesia | 16 min | 2009</p>
<p>They bring a sofa into a room that is too small and don&#8217;t know how or where to turn. But the man and the woman who are working for the furniture company didn&#8217;t choose the hotel room as a joke. They want to know what they think of each other. A serious question. Click <a href="http://www.festivalrotterdam.com/en/films/hujan-tak-jadi-datang" target="_blank">here</a> for more information.<br />
<span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/outing.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3162" title="outing" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/outing.jpg" alt="" width="250" height="187" /></a></p>
<p><strong><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
OUTING</em><br />
</strong>Jow Zhi Wei | Singapore | 17 min | 2009</p>
<p>A grandfather and his grandson go on a seemingly innocent outing as they visit places that hold memories for them. It is a story that acknowledges life through the relationship of two people who only have each other. Through their simple journey, the need for companionship and the sacrifices one has to make are brought to the fore.<br />
<span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/focalpoint.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3158" title="focalpoint" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/focalpoint.jpg" alt="" width="250" height="162" /></a></p>
<p><strong><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
FOCAL POINT</em><br />
</strong>Alireza Khatami &amp; Ali Seiffouri | Malaysia/Iran | 12 min | 2009</p>
<p>An old photographer has a magical camera, a legacy from his ancestors. People come to him to find out who their soul mate are. It is not always a happy story when a couple discovers they are not meant for each other. Once in a while he takes his own pictures to add to the growing collections of his loved one&#8217;s photographs. Then one day she herself shows up. Fearing that he might not appear in her photograph he lays awake at night. Next day he places his own photographs in the package that he has to hand to her.</p>
<h2><strong>Special Screening</strong>:</h2>
<p><a href="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/kudalaut.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3160" title="kudalaut" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/uploads/2010/08/kudalaut.jpg" alt="" width="250" height="170" /></a></p>
<p><strong> <em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
KUDA LAUT</em></strong><em><br />
</em>Shalahuddin Siregar | Indonesia | 25 min | 2009</p>
<p>Kuda Laut adalah cerita bagaimana dua orang harus berhadapan dengan konstruksi masyarakat tentang orientasi seksual dan pernikahan dan menyerah pada konstruksi bentukan itu. Aji, 26 tahun, dan Bayu, 28 tahun, sudah berpacaran selama empat tahun. Aji seorang fotografer yang menetap di Yogyakarta dan Bayu mempunyai toko batik warisan keluarganya di pasar Klewer, Solo. Pada usia yang hampir 29 tahun, Bayu dihadapkan pada kemauan keluarganya untuk segera menikah dan punya anak, sementara Aji yang selama ini lebih terbuka tentang orientasi seksualnya tidak bisa melarang Bayu untuk menikah. Film ini adalah penggambaran hari-hari terakhir menjelang pernikahan Bayu. Klik di <a href="http://kudalautproject.blogspot.com" target="_blank"><strong>sini</strong></a> untuk informasi tambahan.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Acara ini terselenggara berkat kerjasama <strong><a href="http://rukukineruku.com" target="_blank">Kineruku</a> </strong>dan <a href="http://kinoki.or.id" target="_blank"><strong>Kinoki</strong></a>.</p>
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3ESEA+Scope%3C%2Fb%3E%3A+Pemutaran+Film-film+Asia+Tenggara+http://4qppb.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3ESEA+Scope%3C%2Fb%3E%3A+Pemutaran+Film-film+Asia+Tenggara+http://4qppb.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3146</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rukustik #2: Nova Ruth&#8217;s Acoustic Project &#8211; Mimimintuno</title>
		<link>http://zine.rukukineruku.com/?p=3131</link>
		<comments>http://zine.rukukineruku.com/?p=3131#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 02:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rukukineruku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zine.rukukineruku.com/?p=3131</guid>
		<description><![CDATA[Proyek musik teranyar Nova Ruth akan ditampilkan pertama kali di Rukustik #2 [<a href="http://zine.rukukineruku.com/?p=3131">read more</a>]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Rukustik #2<br />
<em>Nova Ruth&#8217;s acoustic project: </em></strong><strong><em>Mimimintuno</em><br />
</strong><strong><br />
Ruma</strong><strong>h Buku/Kineruku</strong><strong><br />
Jl. Hegarmanah 52 Bandung<br />
</strong> <strong>Sabtu, 31 Juli 2010<br />
18:30 WIB. Gratis.</strong></p>
<p><strong>Nova Ruth</strong> bekerja di banyak aliran musik. Dia menekuni musik hip hop sejak tahun 2000, dan sempat meluncurkan album kompilasi independen <strong><a href="http://madrotter.blogspot.com/2009/01/perang-rap-compilation.html" target="_blank"><em>Perang Rap</em></a></strong> (2002), juga sebuah album bersama duo rap <strong>Twin Sista</strong>, <em>Mother of Nature</em> (2003). Di tahun 2007, Nova mulai bermusik sendiri dan terlibat dalam <strong>Poetry Battle #1</strong> sebagai bagian dari Les Printemps des Poètes.</p>
<p>Keseriusannya bermusik membawanya ke kancah internasional. Dimulai dari <strong><a href="http://www.gangfestival.com" target="_blank">Gang Festival 2008</a></strong> di Australia, Nova kemudian tampil antara lain di Jepang dan Spanyol. Nama-nama seperti <strong><a href="http://www.mprov.org/" target="_blank">Sven Simulacrum</a></strong>, <strong><a href="http://www.myspace.com/unkleho" target="_blank">Unkle Ho</a></strong>, dan <strong><a href="http://www.filastine.com/">Filastine</a></strong> kerap menjadi partner kerjasamanya hingga sekarang. Bersama Filastine, Nova baru saja menyelesaikan tur Eropanya tahun lalu.</p>
<p>Di sela-sela kegiatan mendigitalkan suaranya, Nova kini aktif menulis lagu-lagu akustik yang bercerita, bersama rekan lamanya, Andre Toke. <strong>Nova Ruth&#8217;s acoustic project: Mimimintuno</strong> adalah proyek musik teranyarnya, dan untuk pertama kalinya akan ditampilkan di depan publik di <strong>Rukustik #2</strong>.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p align="left"><a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3ERukustik+%232%3C%2Fb%3E%3A+Nova+Ruth%E2%80%99s+Acoustic+Project+%E2%80%93+Mimimintuno+http://d4cdx.th8.us" title="Post to Twitter"><img class="nothumb" src="http://zine.rukukineruku.com/wp-content/plugins/tweet-this/icons/tt-twitter.png" alt="Post to Twitter" /></a> <a class="tt" href="http://twitter.com/home/?status=%3Cb%3ERukustik+%232%3C%2Fb%3E%3A+Nova+Ruth%E2%80%99s+Acoustic+Project+%E2%80%93+Mimimintuno+http://d4cdx.th8.us" title="Post to Twitter">Tweet This Post</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zine.rukukineruku.com/?feed=rss2&amp;p=3131</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
